Tutur kata yang lembut terkadang menutupi kemunafikan seseorang,
tidak berbuat jahat terang-terangan melainkan menyergapmu secara
diam-diam. Dia mulai merasuk ke dalam tiap urat nadimu dan membiarkanmu
menikmati hangat rasukannya. Kau terbuai akan indahnya sebuah sentuhan,
namun secara tak sadar sentuhan itulah yang akan membuatmu buta. Bukan
matamu yang akan buta, tetapi hatimu yang tidak akan menyadari bahwa ada
orang lain yang lebih peduli terhadapmu daripada dirinya.
Ketika kau telah menjadi onggokan sampah, dia bahkan tidak akan sudi
tuk berpaling sejenak menatapmu iba. Dia akan berkata bahwa dia lah yang
paling berkuasa di atas Tuhan Yang Maha Esa. Dan tiba saatnya untukmu
mengurung diri, namun tak ada guna tuk menyesali yang terjadi karena
dirimulah yang tak bisa menguasai nafsu berskala duniawi.
“Tuhan, tolonglah aku. Aku terlalu bodoh dalam hal ini.”
Kau berteriak meminta pertolongan, berharap Tuhan dapat menolongmu.
Namun, bagiku kau terlalu bodoh untuk meminta, seperti katamu sendiri.
Setiap apa yang kau lakukan, kau tak pernah meminta seperti ini
kepada Tuhan. Bahkan menurutku, kau terlalu gengsi untuk memintanya
seolah-olah kau dapat mengatasi masalahmu sendiri.
—
“Please, tolong aku.” waktu itu kau mengiba-iba padaku, mengharap
tetesan belas kasih jatuh dari hatiku. Tapi sayang, aku tidak sebodoh
itu.
“Aku sudah menegurmu berkali-kali. Sekarang semua sudah terjadi dan
kau menyalahkanku?” kau menyalahkanku lagi, bukan aku yang menjadi
penyebabnya melainkan dirimu sendiri.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku memang bersalah, tapi kau adalah sahabatku.” kau terus saja berusaha mengiba.
“Lalu? Apakah aku harus membantumu yang sudah tidak mendengarkan
nasihat baikku?” kau terdiam, wajahmu menunjukkan keputusasaan mendalam.
“Aku ingin membantumu, Aira. Tapi, ini adalah masalahmu yang tak
perlu kubantu.” Aku meraung dalam hati, aku merasa sedikit kasihan
padamu, sahabatku.
“Aku hamil, Ta.” kali ini kau mengejutkan aku kembali, aku tak kuasa menahan tangisku yang seolah memecah bendungan.
“Apa? Tidak mungkin, Aira.” aku memelukmu, berusaha menenangkanmu meskipun aku sendiri tidak merasakan ketenangan.
“Inilah yang aku takutkan. Lelaki itu sudah merenggutmu.” aku memendam rasa perih yang tak bisa kuungkapkan.
“Tolong aku, Lalita.” kau menangis di pundakku, seolah dirimu tak punya harapan yang pasti.
“Kita harus menemukannya!” aku melangkahkan kaki dan mengambil sebilah pisau dapur yang tajam dan lancip.
“Apa yang kaulakukan?” kau menangis dan memohon padaku.
“Aku bilang kita harus menemukannya!” hatiku mantap tuk menodongkan
pisau dan menusukkannya, hingga darahnya dapat kugenggam dengan tanganku
sendiri.
“Tidak, Lalita!” kau mencoba menahan langkah kakiku, namun aku mendorongmu hingga jatuh terjerembab.
Kini, kau memandangku ketakutan seolah kau tidak mengenaliku sama
sekali. Memang ini yang kuharapkan ketika hal-hal seperti ini terjadi.
Kau hanya perlu diam dan aku yang akan mengurusnya. Diriku yang sekarang
adalah diriku yang sesungguhnya, yang tidak akan diam bila ada yang
mengganggu orang-orang yang kusayangi.
Aku berlari memecah keheningan malam dan berusaha menerobos
kegelapan. Aku meninggalkan dirimu sesaat untuk membalaskan dendammu
yang belum usai. Kau tidak beribu dan tidak juga berayah, lalu
bagaimanakah kau akan menjalani kehidupan jika dirimu sudah direnggut
orang? Itulah yang membuatku menyayangimu seperti adikku sendiri. Aku
menjaga dan menasihatimu, namun kau bilang semua itu hanya buang-buang
waktu. Kau terlalu mementingkan kesenangan di atas semuanya, bahkan di
atas harga dirimu sendiri.
Aku terus berlari dengan pisau yang ku genggam. Aku memikirkan betapa
sulitnya menjadi dirimu. Kau telah terlena dengan semua bujuk rayu
setan. Lantas apa gunanya kau berjilbab jika kelakuanmu seperti
binatang? Apakah kau mengira semua kesenangan adalah awal dari
kebahagiaan? Jika itu yang kau kira, maka perkiraanmu sangat salah.
Karena semuanya adalah awal dari kesengsaraan, penderitaan dan kenistaan
semata.
Tanpa kusadari, aku telah diikuti. Lelaki itu mengikutiku. Aku tak
tahu dia datang dari mana. Dan aku berusaha tidak menampakkan wajah
ketakutanku. Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Terus dan
lurus, aku berjalan melewati anak sungai, lorong-lorong yang gelap,
hingga akhirnya di tempat yang sunyi. Hanya ada aku dan dia.
Dia memagutku dari belakang dan mencengkeram pundakku. Aku berontak
dan berubah menjadi beringas. Dia bertambah liar dan kuat, aku tak bisa
menahannya. Dan aku tersadar bahwa aku memegang pisau yang sudah kubawa
sejak tadi.
Tanpa aba-aba, aku menusuknya dan dia jatuh telentang. Aku masih saja
menusuknya untuk membalaskan dendammu, Aira sahabatku. Aku merasa damai
melihat percikan darahnya yang mengenai wajahku. Aku merasa bahagia
melihatnya merintih kesakitan di depanku.
Tiba-tiba, kau datang memecah jeritan indahnya.
“Lalita, apa yang kaulakukan? Apa kau sudah gila?” kau menyumpahku malam itu dan berteriak hingga suaramu tercekat.
Aku tersadar…
Aku memandang tanganku sendiri dan memandang pisau yang kugenggam …
Apa yang telah kulakukan dengan bayanganku sendiri?
Cerpen Karangan: Qammara Frilia Musaratin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar