Aila itulah namaku, aku hanya gadis biasa terlahir dalam kelurga
sedrhana dan aku memiliki seorang kekasih yang bernama Sakir. Dia senior
ku di sekolah dua angkatan di atas ku, tahun ini dia lulus dan akan
melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas di kota makassar, jauh dari
tempat kami sekarang berada. Aku belum terbiasa berada jauh darinya,
jujur aku takut menjalani hubungan jarak jauh ini.
Senin waktunya dia berangkat meraih cita-citanya, seharusnya aku
bahagia karena dia pergi untuk masa depan kami. Tapi, aku sedih sungguh
aku tak sanggup melepaskan dia, ingin rasanya kau ikut bersamanya
merawatnya disana.
“aku tau kamu berada jauh dari ku, aku pun begitu. Tapi percayalah ini
semua untuk kita” ucapnya merangkul tubuh ku membiarkanku merasa tenang
di pelukannya.
“aku janji akan menjaga hati ini untuk mu” tuturnya.
Dia pun berlalu dan dalam sekejap hilang dalam pandangan ku bersama motornya.
Tak terasa kepergiannya sudah hampir 3 tahun, aku tak melanjutkan
kuliah karena kau lebih memilih bekerja di sebuah mini market tak jauh
dari rumah ku. semua berjalan dengan indah dan baik-baik saja. Sakir
rutin menghubungi ku dan beberapa kali menemui ku di setiap
kesempatannya. Namun, aku jenuh dengan hubungan ini, hingga seorang
lelaki teman kerja ku bernama Yus hadir mengisi hariku dengan warna yang
baru, aku tahu ini salah ini dosa karena aku telah mengkhianati dia
yang kini memperjuangkan masa depan kami di sana.
Pagi itu aku ke sebuah tempat wisata bersama Yus, kami sungguh
menikmati kebersamaan ini, hingga waktu beranjak petang tak terasa oleh
ku. sepanjang perjalanan aku merasa hidup ku begitu indah bersamanya dan
kehadirannya membuatku lupa bahwa jauh di sana ada Sakir yang berjuang
untuk kami.
Denyut jantung ku serasa terhenti saat tiba di rumah dan aku melihat
sosok Sakir menyambut kedatangan ku. apa lagi di samping ku ada sosok
Yus lelaki yang telah mengisi hari ku semenjak kepergianya.
“kamu apa kabar, beb?” tanya sakir meraih tangan ku dan mata ku jatuh
memandang Yus seakan butuh jawaban dari apa yang tengah ia saksikan.
“dia siapa beb, dan kalian dari mana?” lanjutnya tanpa menunggu jawaban
atas pertanyaan ku yang pertama, di luar dugaan Yus memperkenalkan diri
kepada Sakir.
“aku Yus. kekasihnya Aila”
“kekasih?” tanya sakir penuh ketidakpahaman
“ia, kami baru jalan sekitar 4 bulan” jawab yus pasti
Sejenak sakir terdiam, lalu meraih sesuatu dari ranselnya yang kemudian diberikan pada ku.
“aila, ini untuk kamu” sebuah ijazah tanda kelulusan dia dari
universitas, sesuatu yang selama ini diperjuangkan untuk masa depan
kami.
“terima kasih, Aila untuk luka pengkhianatan ini. sumpah aku tak percaya
pacar yang selama ini aku pertahankan, ternyata memilki kekasih lain”.
Tuturnya berlalu dan tak menoleh lagi ke arah ku.
Aku hanya bisa terdiam, menangis tanpa air mata. pertanyaan Yus pun tak mampu lagi aku jawab.
“Seharusnya aku tak melakukan ini, mestinya aku menjaga hati ini seperti
engkau mnjaga hati mu” ucap ku dalam hati sambil memeluk ijazah milik
sakir.
Cerpen Karangan: Ayu Wulandari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar