Langit biru itu berubah menjadi mendung, dan seketika kegelapan
menyelimuti sore menjelang malam itu. Awan yang mendung digantikan
dengan tetesan-tetesan kecil dari langit yang di namakan gerimis, dan
seketika juga tetesan-tetesan air kecil itu berubah menjadi air bah yang
di iringi dengan bunyi gemuruh dari langit yang mencengkam. Tak ada
seorang pun yang akan keluar dari rumahnya, yang mereka lakukan pastinya
mengunci diri di rumah dan mengistirahatkan diri di bawah selimut yang
hangat.
Hujan seperti ini membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas di
luar rumah, namun berbeda dengan lelaki ini, Restu namanya. Di kala
petir menggelegar dan hujan yang lebat, dia berdiri seperti patung,
nampak kaku dan tak bergerak sedikitpun. Baju, celana dan tubuhnya basah
di guyur hujan tanpa ampun. Dia tak mampu menghentikan hujan untuk
berhenti membasahi baju, celana dan tubuhnya. Toh siapa yang dapat
meghentikan hujan? Namun dia dapat menghindar dari hujan, berteduh
misalnya. Hanya manusia bodoh sajalah yang melakukan itu, berdiri
seperti patung di tengah hujan deras. Kecuali, dia melakukan itu untuk
membuktikan perjuangan cintanya. Agar sang gadis tahu bahwa dia teramat
mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya, ya apapun!
Namun terkadang, apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan.
Sang gadis tak pernah ingin tahu dan tak pernah menghargai perjuangan
atau apapun yang Restu lakukan untuknya. Dia tak pernah ingin kehadiran
Restu dalam hidupnya, bahkan dia telah menganggap Restu layaknya benda
mati. Kejam sekali bukan? Apa susahnya sedikit menghargai perjuangan
seseorang untuk dirinya sebagai bukti bahwa lelaki itu sungguh-sungguh
mencintainya. Tidak harus dengan mengikat suatu hubungan, besikap baik
saja itu sudah cukup. Tak perlu harus Restu melakukan tindakan bodoh
yang tak pernah dihargai gadis itu.
“Pergilah! Kamu melakukan hal apapun, aku juga tidak peduli!” teriak
Bella dari teras depan rumahnya dengan tanpa memperdulikan tindakan
bodoh Restu yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya
Restu hanya menatap gadis itu sambil tersenyum di bibirnya yang pucat
karena sudah 1 jam dia berdiri di tengah guyuran hujan lebat, entah apa
yang ditunggunya. Rasa simpati atau balasan rasa yang selalu dia pupuk
untuk gadis itu, entahlah!
“Berhentilah melakukan tindakan bodoh! Kamu sudah bodoh, jangan buat
dirimu menjadi lebih bodoh!” hardik gadis itu dengan suara kerasnya
“Aku akan menunggumu sampai kamu membuka pintu itu selebar-lebarnya.”
sekali lagi, Restu hanya tersenyum di bibirnya yang mulai memutih pucat.
“Kamu selalu membuatku ingin mengasihimu, padahal aku muak dengan semua
tindakan bodohmu itu.” ucap Bella dengan suara lirihnya sambil menatap
Restu dari kejauhan, entah ada rasa iba atau tidak dalam dirinya, yang
pasti setelah itu dia hanya menutup pintu dan menghambur masuk kedalam.
Jangankan untuk mengizinkan Restu masuk untuk mengeringkan tubuhnya yang
basah, tersenyum pun tak dia lakukan.
—
Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu Garasi, dia berlari-lari
kecil menghindari guyuran air hujan sambil membawa payung. Bukan untuk
melindungi dirinya dari guyuran air hujan, karena dia telah dilindungi
dengan payung lain yang bertengger di atas kepalanya yang berambut putih
itu.
“Ini payung, Mas. Maaf, Non Bella tidak mau di ganggu.” ucapnya dengan
suara yang dibuatnya keras karena suaranya hampir tak terdengar di
karenakan bunyi guyuran air hujan yang semakin deras, yang sekarang
Restu mengenal siapa wanita paruh baya itu, dia adalah pembantu Keluarga
Bella.
“Terimakasih, Mbok. Tapi saya tidak butuh itu, saya masih ingin tetap di
sini.” lelaki ini memang keras kepala, tak pernah mengerti apa akibat
dari semua tindakan konyolnya
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan raut wajahnya yang
simpati, mungkin dia merasa iba dengan Restu namun di sisi lain dia
merasa takut dan menghargai permintaan Bella yang menginginkan Restu
untuk enyah dari rumahnya walaupun dalam kondisi tubuhnya yang kaku dan
hujan yang terus mengguyur dengan semangatnya.
“Sudah Mbok, kalau dia memang tidak mau.” teriakan Bella tepat di depan pintu rumahnya membangunkan lamunan Mbok Yum
Mbok Yum hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Restu. Restu hanya
menatapnya pergi sambil berlari-lari kecil menuju Garasi tempat tadi dia
muncul. Dan pandangannya beralih ke Bella yang sedang berdiri dengan
merengkuh kedua tangannya. Memandang Restu dengan pandangan seolah-olah
Restu adalah orang yang teramat dibencinya. Sekali lagi Restu hanya
tersenyum seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya bahagia, bodohnya
lelaki itu, benar-benar bodoh. Sejalan dengan Bella menutup pintu, tak
luntur senyum mengembang di bibir Restu yang memutih itu.
Dalam hatinya bergumam, “Bella, biar apapun balasanmu atas semua
tindakan bodohku ini. Aku tak peduli, selagi kamu tetap terus menatapku
dan aku tak pernah hilang dari pandanganmu aku akan bahagia dengan itu
semua. Karena aku tak dapat membedakan cinta dan kebutaan.”
Lelaki itu hanya tersenyum di balik gerbang putih itu, dia tersenyum
dengan bingkai bibir pucatnya dan mata sayunya karena lelah. Sang gadis
bernama Bella itu hanya melihat lelaki itu dari balik gordyn kamarnya
dengan pandangan acuh seakan dia seperti iblis yang berwujud gadis
cantik bak bidadari.
“Bel, aku pinjam catatan kamu ya. Tadi aku ngantuk di jamnya Pak
Hutabarat…” ucap seorang gadis lain, Puji namanya. Gadis jawa yang sudah
setahun ini menjadi teman karib Bella di Kampus.
Bella hanya diam sambil menatap lurus ke depan, seperti dia tak
menggubris omongan teman karibnya itu. Kelas hari itu sepi karena
sehabis jam mata kuliah Sociolinguistic dari Pak Hutabarat yang ada
hanya mereka berdua saja di dalam Kelas.
“Melamun saja kamu…”
“Aduhh..”
“Makanya jangan melamun, kesambet lho!” ujar Puji sambil tersenyum jahil setelah dia mencubit pinggang Bella
Bella hanya diam, enggan rasanya untuk membalas perlakuan jahil temannya
itu. Dia hanya membenarkan duduknya dan membaringkan kepalanya ke
samping menghadap Puji di atas meja bercat coklat itu. Lalu mendesah
lelah, seperti ini adalah akhir dari dunia.
“Aku benar-benar heran dengan lelaki itu,” ucapnya dengan tanpa semangat
“Memangnya apa lagi yang dia lakukan sama kamu?” tanya Puji yang
sekarang mulai mengunyah makanan yang dibelinya di Kantin Kampus
“Dia benar-benar lelaki bodoh!” ucap Bella dengan ekspresi kesalnya sambil mengingat kejadian kemarin sore di rumahnya
Puji langsung menelan habis makanannya dan memandang Bella dengan pandangan heran.
“Kamu jangan bilang seperti itu. Apapun yang dia lakukan buat kamu,
cobalah buat sedikit tersenyum untuk dia.” ucap Puji dengan lembut
“Tersenyum? Melihatnya saja aku tidak sudi!”
“Lho kenapa? Restu tidak buruk rupa, dia juga tidak cacat. Apa yang
membuat kamu tidak sudi melihatnya?” tanya Puji bertubi-tubi, dan kini
Bella menengadahkan kepalanya ke atas dan membuang nafas berat seperti
dia sehabis memikul beban yang berat sekali.
Lalu dia memandang Puji dengan dekatnya, “Yang membuatku tak sudi
melihatnya itu karena dia bodoh. Melihat dan tersenyum padanya hanya
membuang waktuku saja. Dia tak hanya bodoh, tapi dia juga idiot…”
Tiba-tiba omongan Bella di potong oleh Puji, “Cukup Bel!” tukas Puji dan
Bella hanya terdiam, Puji tajam memandang Bella dengan ekspresi
kekesalan pada dirinya. Bukankah tak seharusnya temannya itu mengucapkan
kata-kata seperti itu tentang Restu.
“Bukannya aku membela Restu, tapi menurutku ucapanmu sudah keterlaluan tentang dia.” ucap Puji tenang
“Puji, apa maksud kamu?” tanya Bella, mungkin dia merasa tercengang karena teman karibnya ini tak membelanya
“Kamu mempunyai wajah yang cantik, siapa lelaki yang tak mengagumi mu?
Tak ada, jika pun ada mungkin mata mereka telah buta,” ucap Puji masih
dengan pandangan kesal pada temannya itu
“Sama halnya dengan Restu, dan tak seharusnya kamu memperlakukan
pengagummu seperti ini. Tidak akan membuang waktu dan tenagamu jika kamu
bisa menghargainya, paling tidak tersenyum padanya.” lanjutnya memberi
sedikit nasihat kepada teman karibnya itu
“Puji, dia itu sudah keterlaluan. Apakah aku harus tersenyum atas semua tindakan bodohnya?”
“Tapi kamu yang membuatnya melakukan tindakan bodoh itu!” ucap Puji,
kali ini dia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang tanpa melepas
pandangan kesalnya pada Bella
“Aku tidak menyukai sifat sombongmu itu. Jika kamu memang tidak
menyukainya, kamu cukup berbicara baik-baik dengannya tanpa dia harus
menunggu kamu terus, sampai kamu bisa tersenyum dengannya. Apakah kamu
masih ingat? Saat dia hampir tiada dengan dia mengiris nadinya dengan
silet? Apakah kamu juga masih ingat saat dia nekat ingin menabrakkan
dirinya di depan kereta, dia benar-benar akan tiada jika tidak ada
seseorang yang menolongnya waktu itu, menyeret tubuhnya menjauhi kereta.
Dan semua tindakan bodohnya itu kamu yang menyuruh, dan kamu yang
memintanya. Tidakkah kamu sadari itu, Bel?”
Bella hanya terdiam, bukan terdiam karena menyesali semua perbuatannya
kepada Restu. Namun dia membenci saat teman karibnya ini tak membelanya
sedikitpun.
“Kamu memang bukan temanku!” ucap Bella beranjak dari duduknya dan menghambur keluar Kelas
“Kamu benar-benar akan membunuhnya jika masih membenarkan
kesombonganmu!” teriakan Puji kepada Bella seakan di anggap angin lalu
oleh Bella yang dia terus berjalan pulang, dan tak mengikuti jam mata
kuliah selanjutnya.
—
Pandangan matanya lurus ke depan, kakinya berjalan dengan cepat yang
membuat bunyi di sepatu ketsnya menjadi berisik di lorong Kampus itu.
Tak di hiraukannya sapaan teman-temannya yang ramah sekali padanya,
tidak seperti dirinya yang menanam sifat kesombongan yang tak mengerti
rasa dan menghargai. Gadis itu hanya berjalan lurus ke depan, rambutnya
yang hitam panjang itu menyebarkan keharuman yang ditiup angin siang
kala itu. Segala keindahan ada pada dirinya, kesempurnaan sebagai
seorang wanita ada padanya. Tapi kesempurnaan sifat seakan luntur di
kalahkan dengan kesempurnaan pesona fisiknya. Dia tak pernah mengerti
apa arti menghargai, dan apa arti membagi senyum. Banyak yang ingin
berteman dengannya, namun dia hanya acuh tak peduli apapun kecuali
tentangnya, banyak lelaki mengagumnya namun dia hanya buat mereka
mematahkan hati mereka sendiri. Lelaki itu menyerah dengan
ketidakberdayaan di depan gadis itu, tanpa tahu bahwa harga diri
bukanlah menjadi tameng untuk ucapan gadis itu yang selalu menyakiti
hati. Namun lelaki satu ini, Restu yang teramat memujanya lebih dari
apapun. Mempunyai tameng sekuat baja yang melindunginya dari hinaan
gadis itu, dan mempunyai penawar di kala hatinya sekarat. Rasa kagum
yang begitu mendalam membuat dirinya seakan lupa diri dan hanya
kebutaanlah yang mengelilinginya, membuat mata hatinya tertutup akan
sesuatu yang tak pantas untuk di cinta.
Gadis itu terus berjalan dengan ekspresi wajahnya yang acuh, senyuman
tak menghiasi wajahnya yang ayu, mungkin tersenyum adalah suatu dosa
besar baginya sehingga dia terus menghindarinya dan tak akan pernah
melakukannya, karena dia tak ingin menanggung dosa. Sesosok lelaki dari
seberang sana membuat pandangan gadis itu langsung meradam, seketika dia
berbalik arah untuk menghindari lelaki itu, muak rasanya dia bertemu
lelaki konyol. Namun lelaki itu terus memanggil namanya, hingga gadis
itu mendengar suara dentaman sepatu di atas lantai dengan kerasnya. Ya
lelaki itu berlari untuk mengejar gadis sombong itu.
“Bella, aku mohon berhentilah. Aku ingin menyampaikan sesuatu…” ucapnya berhenti berlari dengan nafas yang tersenggal-senggal
Gadis itu berhenti, lalu segera menghampiri lelaki itu dan tepat dia berdiri di hadapannya.
“Te.. rimaka..sih Bella, aku capek sekali mengejarmu. Kamu berjalan
begitu cepat.” ucap Restu dengan suara tersenggal-senggal sambil dia
mengatur nafasnya
“Kamu bodoh! Mengapa kamu selalu membuat dirimu bodoh?” ucapan Bella membuat Restu hanya diam, dan menundukkan kepalanya
“Berhentilah membuat dirimu bodoh, bukankah aku sudah bilang. Kamu sudah
bodoh, jangan buat diri kamu jadi makin bodoh!” kali ini Restu menatap
Bella sambil tersenyum, hanya itulah yang dia lakukan, diam dan
tersenyum
Mahasiswa-mahasiswa lainnya hanya memandangi mereka yang berdiri di
tengah lorong Gedung Fakultas Sastra, seperti melihat adegan sepasang
kekasih yang sedang tidak akur. Namun sepertinya pemandangan seperti ini
selalu di lihat mereka dengan Restu dan Bella sebagai lakonnya yang
Bella selalu berkata “bodoh” terhadap Restu. Seketika mereka beranjak
berlalu dari tontonan itu, mereka seakan jemu untuk melihatnya lagi dan
lagi. Dimana Restu yang selalu mengejar-ngejar Bella, dan Bella yang
hanya acuh kepadanya. Itulah skenario yang selalu di ulang dan tak
pernah ada habisnya.
“Behentilah menatapku seperti itu! Aku benci tatapanmu itu, aku muak
akan semua tingkah lakumu. Tindakan bodoh dari seorang yang idiot,
bahkan aku tidak bangga jika kamu menjadikanku sebagai idolamu atau
apapun yang kamu puja. Aku sungguh membencimu.” dan Restu hanya
tersenyum, seakan perkataan Bella yang baru saja dia dengar adalah
potongan syair yang membuat hatinya seakan bagaikan pelangi
“Enyahlah dari pandanganku!” ucap Bella tanpa ekspresi dengan tanpa menatap Restu
Ucapan itu bak halilintar menusuki dada Restu, yang dia lakukan hanya
menundukkan kepalanya sambil berkata, “Ingatkah kamu Bel, dulu aku sudah
pernah berkata padamu bahwa aku akan menuruti semua inginmu sekalipun
nyawaku akan hilang.”
Bella hanya diam dengan pandangan acuhnya, Restu menengadahkan kepalanya
menghadap Bella sambil tersenyum seakan senyumannya itu tak akan pernah
luntur di wajahnya yang tirus itu “Surga dari hidupku adalah
keinginanku untuk melihat senyumanmu, walaupun aku tak pernah
mendapatkannya. Namun selagi aku bisa terus melihatmu dan pandangan mu
terus tertuju padaku, ya meski aku harus melakukan semua tindakan yang
menurutmu bodoh, aku akan lakukan. Karena kamu adalah cahaya ku, cahaya
yang paling terang yang Tuhan cipta dengan sempurnanya, kamu adalah
makhluk tersempurna untukku, dan bukan sebuah dosa jika aku terus
memujamu, aku akan lakukan itu hingga umurku habis.” masih dengan
pandangan acuhnya, Bella tak menggubris satu pun apa yang di ucapkan
Restu
“Aku akan terus memujamu sampai mati, aku bersumpah!”
Seketika pandangan Bella tertuju di kedua mata Restu, hatinya seperti
terkoyak ketika mendengar ucapan Restu itu. Entah apa itu, yang pasti
seakan hatinya ditabuh dengan genderang yang sangat kencangnya.
Bella membuang nafas panjang sambil berkata, “Jika kamu memang memujaku
sampai kamu mati, lakukanlah. Lakukan sekarang juga dengan kamu melompat
dari lantai paling atas Gedung ini. Lakukanlah!” seperti sebuah
perintah konyol yang Bella ucapkan dengan tanpa pemikiran terlebih
dahulu
“Ya, aku akan lakukan.” dan Restu hanya tersenyum lagi, dan seketika
Bella beranjak dari pandangannya, membuang pandangannya ke arah Kelas
tempat sebentar lagi akan di mulai mata kuliah Sejarah Sastra dari Prof.
Dwiki. Dan Restu hanya terdiam, sembari tersenyum seakan ingin melepas
semua penderitaannya, membalikkan tubuhnya dan menatap tubuh sang gadis
pujaan dari belakang, yang rambut hitamnya bergerak kesana kemari senada
dengan angin yang bertiup pelan siang kala itu. Dan sekali lagi Restu
tersenyum, seperti ingin mengucapkan selamat tinggal tanpa harus
mulutnya berucap, namun anginlah yang akan menyampaikannya pada sang
gadis pujaannya itu.
—
Sirine Ambulan memecahkan kesunyian di Gedung Fakultas Sastra siang
kala itu, dan sontak menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang sedang
melepas pikiran di Kantin berseberangan dengan Lapangan Basket. Mengapa
ada Ambulans di lingkungan Kampus?
Senada itu, Kelas Prof. Dwiki usai, para mahasiswa berhamburan keluar
Ruangan, mencari tahu apa yang terjadi di Gedung Fakultas Sastra itu.
Berbeda dengan gadis itu, Bella hanya duduk di dalam Kelas dan enggan
untuk beranjak keluar, malas sekali rasanya dia untuk keluar dari
Ruangan itu.
“Hey, ada seseorang jatuh dari lantai atas…” ucap salah seorang mahasiswa yang tengah berada di luar Kelas
Bella hanya diam, sembari membereskan beberapa bukunya dari atas meja,
beranjak dan keluar Kelas. Tepat saat dia sampai di pintu Kelas,
seseorang berkata, “Aku dengar dia mahasiswa Ekonomi semester 6…”
Bella masih acuh dan terus berjalan menuju tempat Parkir, tempat dia memarkirkan Sepeda Motornya.
“Namanya Restu, mahasiswa yang jatuh dari lantai atas itu namanya Restu…”
“Aku mengenalnya..”
“Tragis sekali!” suara-suara itu seakan berbisik-bisik di tengah kerumunan orang banyak di Gedung itu
Bella terdiam dan menghentikan langkah kakinya, entah mengapa semua
orang di lorong Kampus itu menatapinya dengan pandangan lain.
Sontak dia langsung teringat perkataannya pada Restu pagi tadi, di
lorong ini tepat mereka berdua berdiri. Mimpi! Ini semua hanya mimpi,
tentu perkataannya pagi tadi bukanlah sebuah permintaan yang harus di
lakukan. Ini sungguh konyol!
“Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan Restu jatuh dari lantai atas?” tanya Bella dengan air bening yang mulai menetesi pipinya yang kurus itu
“Kamu pasti bercanda, itu bukan Restu!” ucap Bella dengan menarik-narik
Kaos salah satu mahasiswa yang berdiri di hadapanya dengan tangan
kirinya di lorong itu
Pandangannya seakan kosong, namun seseorang menggengam tangan kanannya dari belakang.
“Iya, dia Restu. Restu telah tiada, Bel..” suara Puji begitu lemah di iringi dengan tangisannya yang terisak
“Tidak! Tidak mungkin! Ini semua hanya mimpi…” ucap Bella sambil menatap
Puji dengan ekspresi wajah meyakinkannya dengan air mata yang terus
membasahi kelopak matanya
“Tidak Bel, ini semua nyata. Kamu telah berhasil mengenyahkannya.” balas Puji dengan air matanya yang terus membanjiri
“Pagi tadi, aku hanya asal ucap. Mengapa dia begitu bodoh melakukan
semua apa yang aku minta, tidak! Tidak!” teriakannya membuat
mahasiswa-mahasiswa yang berada di lorong itu menatapinya dengan
pandangan benci, seolah-olah Bella adalah pembunuh, pembunuh dari Restu
yang teramat memujanya.
Segera Bella berlari dengan air mata yang terus menetes tanpa dia
usap, berlari menuju Restu. Tepatnya jasad Restu yang telah rusak dan
berlumuran darah segar.
Di tatapinya wajah lelaki itu yang telah hancur, hancur karena hantaman
keras. Hampir tak bisa dikenali, dan dengan tangan putihnya dia pegang
wajah Restu yang berlumuran darah itu. Inilah pertama kalinya dia
menyentuh wajah lelaki itu, lelaki yang selalu menggangunya, lelaki yang
dia ingin musnahkan dari pandangannya, dan lelaki yang teramat
dibencinya.
“Aku pembunuh!” hujatnya dengan lirih dengan tanpa melepas pandangannya dari jasad Restu
“Maafkan aku…” air matanya jatuh membasahi wajah hancur itu, terus membanjiri dengan tangisan sedihnya
Terdengar sebuah bisikan, “Bella, aku akan selalu meletakkanmu di dalam
ruangan nyaman di hatiku. Aku berharap di lain kehidupan, kamu akan
tersenyum padaku dan menggenggam erat tanganku. Dan selamanya aku akan
memujamu, tak berhenti dan tak akan habis…”
Tangisannya terus menerus menderu dengan air mata yang terus membanjiri tiada henti, entah sampai kapan.
The End…
Cerpen Karangan: Ria Febiana Arifin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar