Allah akbar…
Allah akbar…
Suara adzan subuh menggema di pelosok desa. Sang muadzin tengah
melantunkan kalimat-kalimat suci penuh makna. Mataku terbuka dengan
perlahan. kepalaku sedikit pusing. Telingaku menangkap suara indah dari
kamar umi. Umi tengah membaca kalam illahi. Suara merdunya begitu aktif
menebar ketenangan.
Semburat pagi menampakkan dirinya dengan malu-malu. Indahnya bintang
telah diganti oleh indahnya pantulan sinar matahari yang mengkilau. Aku
tengah mengemasi barang-barang pribadiku. Hari ini adalah hari
keberangkatanku ke Cilegon. Aku akan merantau ke kota Baja. Sebelumnya
umi tidak mengizinkan aku pergi, namun aku bersikeras ingin pergi.
Akhirnya dengan berat hati umi mengizinkan aku pergi merantau.
“Aini… umi harap di perantauan nanti engkau selalu berada dalam
lindungan Allah swt. jaga dirimu baik-baik nak.. jangan tergoda dengan
kenikmatan dunia yang semu, umi harap kamu mau menerima ini, ini bekal
untuk menjaga kesucianmu.” ucap umi sambil menyerahkan kerudung hijau
kesayangan umi
“aduh umi… di Cilegon itu panas, kalau aini pake kerudung, wah…
bisa-bisa aini mati kepanasan” ucapku sambil menyerahkan kembali
kerudung hijau umi
“Aini sayang… walaupun kamu tidak mau memakainya sekarang, umi yakin
suatu saat nanti kamu akan membutuhkannya, kamu akan memakainya, maka
terimalah sayang, umi mohon..”
Dengan terpaksa kuterima kembali kerudung hijau umi yang tadi sempat aku tolak. Dengan deraian air mata umi melepas kepergianku.
Di kota baja ini, kehidupanku sudah jauh dari Agama. Shalat lima
waktu sudah jarang aku dirikan. Zakat sudah tidak pernah kutunaikan.
Puasa sudah lama ku tinggalkan dan Al quran hanya menjadi penghias
mejaku. dan yang lebih ironis, aku tidak pernah memakai kerudung hijau
umi. kubiarkan rambut indahku dinikamti oleh semua orang tanpa rasa
malu. Pergaulanku sudah keluar dari koridor syariat Islam.
Sudah hampir dua tahun aku tinggal di kota baja ini. Aku tidak pernah
memberi kabar kepada umi. Bahkan, aku tidak memberi tahu dimana alamat
kontrakanku sekarang. Ketika hari lebaran tiba, hatiku tergerak untuk
pulang. Perasaanku selalu mengajak aku pulang ke kampung halaman.
Akhirnya aku berencana pulang setelah dua tahun aku tidak pulang.
Pagi-pagi sekali setelah tiga hari dari hari kemenangan, aku pergi mudik
untuk pertama kalinya.
Desaku masih indah seperti dulu. Hamparan padi yang hijau membuat
sejuk setiap mata yang memandang. Aku telah sampai di depan rumah
mungilku. Kulihat pintu rumahku dililit oleh rantai yang berujung pada
gembok berukuran sekepal tangan seorang bayi. Kuketuk pintu sambil
memanggil umi. Namun tidak ada sahutan sama sekali. Ketika aku tengah
dilanda kepanikan karena tidak kutemuai umi, tiba-tiba datang seorang
wanita setengah baya berlari menghampiriku, tubuhnya pendek dan berisi.
aku mengenal wanita itu. beliau adalah adik perempuan Abi. ya… beliau
adalah bibi maemunah.
“untuk apa kamu pulang Aini? tidak ada gunanya kamu pulang, dasar anak
durhaka!!, kau tinggalkan ibumu sendiri, kau lupakan beliau dengan tidak
memberi kabar, anak macam apa kau ini..? melupakan begitu saja seorang
wanita mulia yang melahirkan dan mendidikmu, dasar anak durhaka, pergi
kamu dari sini..!!!” ucap bibi maemunah dengan penuh amarah
“bi… aku berkerja untuk membahagiakan umi. aku bukan anak durhaka bi…” ucapku dengan linangan air mata
“Bah… bukan anak durhaka katamu. enteng sekali kau bicara”
“sekarang umi dimana bi..?”
“umimu telah pergi, beliau telah dipanggil oleh gusti Allah”
“maksud bibi…Umi?!”
“ya… umimu telah meninggal dunia. beliau meninggal pada tanggal 17
Ramadhan. Beliau meninggal di bulan yang penuh barokah. Meninggal dalam
keadaan khusnul khotimah. Sebelum beliau menutup matanya untuk terakhir
kalinya, beliau sempat berkata pada bibi, “mun.. alangkah senangnya
hatiku jika sebelum meninggal aku sempat melihat putri semata wayangku
pulang. Melihat kembali wajah cantiknya, bahkan aku membayangkan anakku
memakai kerudung hijauku, kerudung hijau pemberian suamiku pasti dia
akan terlihat anggun dengan kerudung hijau itu.”
Badanku sudah tidak kuat menyangga tubuhku lagi. Tubuhku ambruk di
teras rumah. Aku teringat kerudung hijau pemberian umi. Aku merasa telah
menjadi anak durhaka. Bibi maemunah memelukku erat. Beliau mengajakku
ke makam umi yang masih basah oleh air hujan tadi malam. Aku sedih
melihat gundukan tanah itu. Gundukan tanah yang di dalamnya terdapat
jasad umi.
“umi maafkan aini.. Aini sayang umi… aini janji, aini akan menutup
kepala aini dengan kerudung hijau umi, semoga umi bahagia di sisi Allah”
Hari-hari yang ku lalui setelah kepergian umi, kurasakan semakin
bermakna. Aku berhenti berkerja. Di kampung halamanku ini ku wakafkan
diriku. ku pelajari ilmu Agama di pondok Pesantren yang ada di samping
rumahku. kurasakan kasih sayang allah begitu besar. Hatiku tentram
ketika aku mampu menutup auratku dengan baik. Kutegakkan kembali shalat
lima waktu yang menjadi kewajibanku. Kukerjakan puasa baik yang
diwajibkan oleh Allah maupun yang disunahkan oleh Rasulullah SAW.
Apabila hidup berdampingan dengan Al Quran maka hidup akan terasa
tentram dan damai. itulah kehidupan yang aku rasakan sekarang. hidup
sesuai Al Quran dan As sunah
TAMAT
Sebagai anak yang baik kita harus selalu berbakti kepada kedua
orangtua, apalagi kepada ibu. beliau rela mengandung kita selama 9
bulan. membawa kita ke mana-mana. mendidik kita dengan didikan yang
sesuai dengan ajaran Syariat Islam
muali sekarang kita harus mampu berbakti kepada kedua orangtua kita.
I LOVE YOU MOM
Cerpen Karangan: Ratu Neneng Nurhasanah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar