Tak pernah terpikir sebelumnya, kalau aku harus kembali akur
dengannya. Hal yang lebih gila adalah ketika sahabat lamaku Alya,
sahabat lamaku semenjak SMP naksir dengannya lewat saranku sendri.
“Bagaimana mungkin?” Aku selalu tak habis pikir dengan apa yang telah
aku lakukan. Ini semua bermula semenjak percakapan online di malam itu.
“Hai kamu gak pulang kampung kan libur?”, sapaku memulai dengan iseng.
“gak, lagi males..”, balasnya kemudian.
Setelah itu beberapa pertanyaan dan berikut balasannya pun berlangsung.
Hingga sampailah pada pernyataan yang tak tahu mengapa bisa terlontar
begitu saja dariku.
“btw temanku ada yang tisam amamu loh..” Aku menunggu reaksinya.
“teman atau kamu..?”, sahutnya kemudian.
Sejenak aku terpaku oleh kata-katanya. Lalu aku balas kemudian
“teman.. Kalo aku gak mungkinlah..”
Tak lama kemudian box online-nya muncul.
“iya ea..”
“Lalu gimana tuh, temanku?”, ujarku kemudian karena masih penasaran dengan tanggapannya.
Tak kusangka malah ditanggapinya dengan serius. Dia malah bertanya siapa
dia, tinggalnya dimana, apa kegiatannya. Trus kapan bisa ketemuannya.
Hmmm, mampuslah aku termakan sama omonganku sendiri. “Tadi aku kan hanya iseng”, pikirku.
Ada bagusnya sih aku punya kesempatan buat ngerjain dia. Dia kan play boy cap “cacing” hehehe.
Tapi yang aku pusingkan, siapalah orang yang bisa membantuku dalam hal
rumit ini. Tadinya kan aku cuma ngarang tentang temanku yang tisam sama
dia. Aku sekedar ingin tahu reaksinya saja. Secara teman-temanku
sekarang ini pada liburan pulang kampung. Maklum pergantian semester
baru anak kuliahan sekaligus menjelang hari raya lebaran.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku nama Alya. Yah Alya sahabat lamaku.
Saat Gerald nanyain info tentang temanku yang tisam itu. Aku sebut
saja ciri-ciri yang mengarah pada Alya. Aku belum punya pilihan ide yang
lain. Kebetulan dia sedang berlibur. Itulah jadi alasanku untuk
sementara mencegah permintaan pertemuan yang diajukan Gerald.
Seiring berjalannya waktu, aku harus pusing sendiri dengan ulahku.
Aku harus berusaha menghubungi Alya dan meminta tolong padanya.
Alya malah tertawa geli melihatku saat mendengar permintaanku untuk
berpura-pura jadi objek yang tergila gila pada Gerald. Tentu saja dia
menolak dan tidak mau terseret oleh masalahku.
“Alya.. please help me!!”
Aku kembali membujuk Alya, bagaimanapun caranya.
Aku memberikan nomer hp, serta nama fb Gerald pada Alya. Setidaknya
setelah melihat foto orangnya dia bisa mempertimbangkan kembali
permintaanku.
Aku yakin setelah melihat orangnya, kemungkinan besar dia akan
terpikat. Secara aku sudah pengalaman dengan Gerald. Hanya saja mungkin
kami bukan jodoh. Sehingga kami pun terpisah di tengah jalan.
Beberapa hari setelah itu, Alya belum juga memberi tanggapan.
Sementara Gerald selalu nanyain perkembangan info tentang teman
misteriusku itu. Aku selalu mengelak dan mencari-cari alasan ketika
Gerald meminta nomer hape atau nama fb teman yang aku maksud.
Beberapa hari kemudian, Alya mengkonfirmasi tentang pertemanannya
dengan Gerald. Bahkan Gerald dan Alya sudah beberapa kali saling smsan.
Katanya sih Gerald orangnya lumayan seru.
“Tuh kan Alya.. apa aku bilang belum ketemu orangnya saja kamu udah
bilang dia orangnya seru”, dia pun cengar-cengir tak menentu.
Beberapa minggu kemudian Alya menghubungiku, menurut kata-kata yang
aku dengar dia mulai menyukai Gerald. Awalnya aku senang aku terbebas
dari masalah tapi mengapa tiba-tiba perasaanku diterpa gejolak yang
tidak bisa kujelaskan. Beberapa waktu berikutnya Alya juga lebih sering
menghubungiku dia bilang sebuah keberuntungan baginya bisa mengenal
Gerald. Dia selalu bercerita tentang Gerald.
Dua minggu belakangan Alya tidak pernah menghubungiku lagi. Mungkin
dia sibuk atau mungkinkah.. ah aku cepat-cepat menepis dugaan yang
meresahkan pikiranku. Hingga aku sendirilah yang berinisiatif akan
menghubunginya. Tapi kemudian aku berpikir dua kali untuk menghubunginya
duluan apalagi untuk sekedar ingin tahu tentang kelanjutan cerita
tentang dia dengan Gerald.
Beberapa bulan kemudian..
teringat masa-masa bersama Gerald disini, tempat ini adalah tempat
favoritku beli es krim. Biasanya Gerald selalu tak habis pikir denganku,
aku selalu minta dibeliin es krim rasa vanilla dan harus disini
tempatnya. Dia akan menggeleng kepala lalu mengacak-acak rambutku
sesukanya.
Ah.. ini tidak boleh terjadi. Aku berusaha menepis kenangan itu. Aku segera melahap es krim di tanganku lalu beranjak pergi.
Astaga!! aku berpapasan dengan Gerald di pintu keluar.
“Nisa.. sedang apa disini?”, sahut Alya tiba-tiba menyapa duluan.
Hmm.. aku.. akuuu.. aku kebingungan dan tidak tau harus bilang apa.
“Ehm.. eh kalian berdua..”, sahutku kemudian dengan kaku.
“Oh iya, isha.. ekmm maksudku nisa aku sama alya baru saja jadian. Apa
kamu gak mau kasih selamat nih sama kita berdua. Btw thanks ya nis”.
Kalimat itu tiba-tiba terasa menyengat sekujur tubuhku. Kata-kata itu
terlontar dari Gerald sambil mempererat genggaman tangannya dengan Alya.
“Oh.. iya pasti. Aku turut senang selamat ya Al, rald kalian pasangan yang serasi”, sahutku sambil mengulurkan tangan.
Ternyata Gerald dan Alya sudah jadian. Tiba-tiba jantungku berdegup
kencang dan dadaku terasa sesak. Aku segera pergi meninggalkan mereka.
“Apa yang sedang kurasakan? Mengapa aku seolah tidak rela melihat
kemesraan mereka? Apakah aku sedang cemburu? Ah tidak!! mantan adalah
mantan. Tidak boleh ada perasaan lagi”, aku berusaha menepis pikiran
itu. Aku berbaring dan mencoba memejamkan mataku dan kemudian terlelap.
Di kampus aku tidak berani lagi untuk berpapasan dengan Gerald. Aku
tidak bisa. Melihatnya membuatku merasa muak. “Bukankah ini yang kamu
inginkan?”, kata-kata itu selalu hadir dan menjadi bayang-bayang dalam
pikiranku.
Cerpen Karangan: Dewi Samosir
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar