Sabtu pagi ada kabar bahwa ayah saya kecelakaan tepatnya di jl. baru
mamuju, setelah pulang sekolah hujan gerimis terus mengguyur wilayah di
mamuju. pas jam 04.23 wib aku disuruh oleh tante saya yang kebetulan
rumahnya aku tumpangi, tente saya menyuruh saya untuk pergi menengok
ayah saya di rumahnya, pasti pada heran deh kenapa saya lebih memilih
tinggal bersama tante di banding sama ayah sendiri? itu dikarenakan saya
sangat membenci ayah saya.
Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya saya sampai di tempat
tujuan, sesampainya disana jujur saya sagat sedih melihat kondisi ayah
saya yang terbaring lemah, tidak lama kemudian aku pun mengulurkan
tanganku untk memijit badan ayah saya, jujur waktu itu aku benci sama
ayah saya tapi aku juga sedih melihat kondisinya.
Setelah beberapa jam kemudian aku memutuskan untuk tidur dan ternyata
aku belum makan, dengan sangat mengeluhnya aku meminta uang di ayahku
untuk beli roti dan minumnya, ayahku pun memberikannya padaku aku pun
pergi, tidak lama kemudian aku pun kembali, ayahku ternyata sudah tidur
pulas sedangkan aku memutuskan untuk memakan roti dan minumannya
sendiri.
Keesoakan harinya jam 05.12 aku bangun dan melihat ayah ku yang
tengah sholat dengan keadaan yang terlihat kaku, aku begitu sedih dan
aku juga rasanya ingin meninggalkan ayahku, keesokan harinya aku
memutuskan untuk pergi dan aku sangat mengeluh ke ayahku untuk kembali
ke rumah tanteku, ayah ku pun mengizinkan aku.
Setelah beberapa hari, ayahku sudah pulih dan kembali mencari uang
seperti biasanya, ketika aku kehabisan uang aku pun langsung meminta ke
ayahku dengan cara yang kasar, ayah ku pun memberikannya dengan cara
datang ke sekolahku.
2 minggu sudah lewat tidak lama lagi ujian penentuan kelulusan dari
SMP akan aku hadapi, dengan tekunnya aku belajar di tengah derasnya
hujan yang membuatku heran dan bertanya-tanya “kenapa satu harian ini
hujannya gak berhenti-berhenti padahal baju yang akan saya pakai untuk
ujian besok belum kering”.
Jam 10.00 pagi tiba-tiba sepupu saya muntah-muntah, dan aku pun
disuruh untuk mencari taxi, tanpa menggunakan alas kaki aku berlari
dengan sangat panik di tengah teriknya matahari, tidak lama kemudian
taxinya sudah saya dapat dan tante sama sepupu saya naik di taxi
tersebut aku pun kembali ke rumah, karena saya bosan di rumah aku pun
pergi jalan-jalan ke tetangga terdekat untuk cerita-cerita dan bermain
untuk hibur diri.
Setelah beberapa jam tante dan sepupuku sudah datang, dari atas
loteng sepupuku memanggilku dengan wajah yang tidak seperti biasanya aku
pun naik ke rumah dan berkata “ada apa? tumben manggil aku segitunya”
lalu sepupuku berkata “kamu yang sabar yah dek?” hal itu membuat aku
semakin bertanya tanya ada apa sebenarnya? namun ternyata sepupu saya
tidak memberitahukan saya dengan alasan dia dilarang oleh ibunya karena
ibunya tidak mau aku sedih dan tidak pergi ujian penentuan kelulusan,
aku terus bertanya-tanya ada apa?
Jam 06.00 minggu pas adzan maghrib dan keesokan harinya adalah hari
senin dimana pada hari itu saya ujian, pada jam 06.00 itu aku dapat
kabar dari tante yang ada di kampung bahwa ayah saya sudah meninggal
betapa pada saat itu perasaan saya sangat campur aduk, aku pun langsung
turun tangga dan memeluk sang kakak sepupu yang lagi masak dan aku
berkata “kak ayahku meninggal..” kakak sepupuku pun langsung memelukku
dan berkata “kamu harus sabar dek”
Tidak lama kemudian aku menelpon ibu saya “bu ayah kenapa?” dengan
tersedu-sedu, lalu ibu saya berkata “kamu harus belajar dengan baik
besok kamu sudah ujian nak” tanpa ada kata aku pun langsung menutup
telpon tersebut. aku hanya bisa menangis. aku ingin pergi melihat wajah
terakhir ayahku namun aku tidak kesampaian.
Aku selalu terhantui oleh rasa bersalahku ke ayahku yang dulu aku
sangat membencinya selalu kurang ajar.. ingin rasanya ku memeluknya
untuk terakhir kalinya, hanya aku anaknya sendiri yang tidak melihat
jenazah terakhir ayahku.
Keesokan harinya aku sudah UN tentu saja aku tidak konsen pas jam
09.00 ayah ku sudah dikubur, sedangkan aku sementara jam istirahat di
sekolah, teman-temanku hanya bisa membelai rambutku dan turut berduka
cita.
Tidak lama kemudian bell tanda pulang pun berbunyi, aku pun pulang
dengan sepupuku. sesampainya di rumah aku pun wudhu lalu membacakan
ayat-ayat suci al-quran untuk ayahku dengan bercucuran air mata yang
membasahi al-quran aku pun membacanya.
Tidak lama kemudian aku pun tertidur dan teringat oleh
bayang-banyangan ayahku yang dulu selalu menyayngiku sedangkan aku tidak
memperdulikannhya, sungguh kepergian mu tak terduga ayah,..
(SEKIAN)
pesan saya.. jangan lah engkau menyia nyiakan waktumu jikalau saat
ini orangtuamu masih ada manfaatkan waktumu sebaik-baiknya, janganlah
engkau lebih menghabiskan waktumu di warnet, ps, atw bahkan pacar
ingatlah orangtuamu.. :’)
Cerpen Karangan: Wenny Nurrahma Makawi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar