Harusnya ku pinta mu, bukan malah memaksa mu hadir di acara yang
tidak begitu terlalu penting untuk kau hadiri. hobby ku itu harusnya ku
tinggalkan sejak setahun lalu kau memohon pada ku dengan air mata mu,
sungguh aku menyesali hal itu mengapa tak gunkan saja waktu untuk
mewarnai hari mu dan lebih mendekatkan diri ku pada maha pencipta, Liy
itulah nama kekasih ku dan aku sendri bernama Daus.
“umhy bisa hadirkan malam ini ke acara abhy?” tanya ku padanya yang biasa aku panggil dengan sebutan umhy
“bukannya umhy tidak mau ke sana. Tapi, lebih baik kita ngaji bareng aja
dari pada menghabiskan waktu untuk hal yang tak penting” tolaknya
dengan suara yang lembut nyaris tak terdengar oleh kuping ku
“pokoknya aku gak mau tahu jam 11 malam ini, aku jemput kamu” kata ku
dengan suara lantang kepadanya dan dia hanya membalas dengan senyuman
seperti biasa dia lakukan saat aku marah padanya.
23:15
Aku sudah berada di depan halaman rumah kostnya, cukup lama aku menanti dia keluar, hingga kemarahan menyelimuti benak ku.
(kalau umhy gak mau ikut, abhy ngamuk disini) ku kirimkan pesan singkat
ke Hp nya, selang beberapa menit dia pun muncul dengan jaket cokelat
pemberian ku, tanpa banyak kata aku membawanya pergi ke arena yang biasa
dijadikan lokasi balapan liar.
“abhy, perasaan aku gak nyaman” bisiknya di kuping ku
“maksud umhy?”
“kita pulang aja ya, aku gak enak badan” ajaknya dengan suara begitu
berat, namun aku hanya mengacuhkannya dan segera memulai pertandingan
yang telah menanti ku sedari tadi.
BRAAAAAkkkkk
Suara tabrakan yang begitu dahsyat terjadi sesaat sebelum pertandingan
dimulai, aku meneoleh ke belakang dan bukan main terpukulnya aku saat ku
tahu yang menjadi korban adalah Lily, kekasih ku.
Ingin ku hadiakan bogem mentah ke cowok yang telah membuat Lily
terkapar besimbah darah. Namun, kawan ku mengingatkan kondisi Lily lebih
penting dari pada sang pelaku.
Tanpa banyak basa basi ku larikan dia ke rumah sakit terdekat menggunkan mobil salah seorang kawan ku.
“Dokter tolong selamatkan, Lily” pinta ku pada dokter yang telah
mengambil tindakan pertama untuk Lily, lama aku mondar madir
berselimutkan perasaan takut, kecewa, sedih dan marah. Hingga beberapa
saat kemudian Dokter keluar dari ruang I.C.U membawa kabar yang membuat
ku merasa tak lagi menyentuh dunia ini, jiwa ku serasa hilang entah
kemana, menangis pun aku tak sanggup lagi.
“Maaf dek, saudari Lily telah meninggal” pernyataan yang tak mampu ku
terima dengan akal sehat, ku temui Lily yang telah tertidur untuk
selamnya
Tak ada kata yang mampu ucapkan selain doa yang mengiringi kepergiaanya,
Ku genggam jemari yang tak lagi mampu membalas genggaman ku, ku peluk raga yang tak mampu lagi menghangatkan ku.
—
“Umhi, hari ini tepat hari ke 40 engkau pergi membawa separuh jiwa ku
dan hari ini aku telah berhasil menghafal Surat Yasin seperti yang
engkau pinta” tutur ku di hadapan makam kekasih ku.
Cerpen Karangan: Wulan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar