- Maya -
“maaf” ujarnya dengan raut wajah yang sangat bersalah.
Aku menatap wajahnya. Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah tadi pagi mereka saling tertawa. Ada apa dengan Ika mengapa dia hanya diam saja tanpa mengeluarkan secuil kata untuk menjawab ujaran Ayas.
“ayo pergi May!” Ajak Ika kepadaku.
“tapi kau belum menjawab maafnya”
“sudahlah! Ayo pergi!”
Ika menarik tanganku dan meninggalkan Ayas sendiri di ruang kelas. Setahuku Ayas anak yang lucu dan menyenangkan setiap kesalahan yang Ayas buat selalu membuat kami tertawa. Sebenarnya ada masalah apa antara Ayas dengan Ika bukankah mereka teman baik.
“Ika memangnya ada masalah apa sih sama Ayas?” tanyaku.
Ika hanya diam dan memainkan flashdisk yang ada di tangannya. Seperti memikirkan sesuatu. Seperti kebingungan. Seperti ada keraguan. Namun apa? Aku tidak bisa membaca hatinya lewat raut muka Ika.
“Ah! Gerbang sekolah sudah dibuka, aku pulang dulu ya, dah!!” ujar Ika padaku.
Hari ini Ika begitu senang ketika ia tidak pulang bersama Ayas. Hatiku penuh keheranan karena sikap mereka berdua. Mungkin ini tidak baik karena aku ingin mengetahui urusan orang lain, tapi aku sebagai teman tidak bisa diam saja.
“Maya” Ayas memanggil sembari berjalan menghampiriku.
“lo? Kok belum pulang?” ujarku.
Ayas tidak menjawab ujaranku. Ia hanya tersenyum manis dan duduk di sampingku. Melihatnya dengan raut wajah seperti ini aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ayas. Aku tak bisa berkata apa apa untuk menghibur Ayas dan yang ada di pikiranku saat ini ialah aku ingin bertanya kenapa Ayas dan Ika bertengkar.
“sebenarnya ada apa tadi? Kenapa kau meminta maaf pada Ika?”
Aku menatapnya kembali. Wajah manisnya mulai memerah. Mata indahnya mulai berkilau dan berkaca-kaca. “jangan menangis” gumamku.
“Aku… aku telah membuatnya marah” jawabnya yang terbata bata.
Mungkin ia sudah tak bisa membendung air matanya sehingga butiran air mata menetes dan mengalir di pipinya yang manis itu. seharusnya aku tidak menanyakannya saat ini. Kebodohan apa yang merasuk pada tubuhku sehingga Ayas semakin sedih.
“ia salah paham padaku”
“awalnya aku hanya bercanda, setelah itu aku tersenyum padanya tiba-tiba ia langsung meninggalkanku dengan wajah benci yang ditunjukkan” Jelas Ayas.
Aku tidak bisa membantunya. Apa yang harus aku lakukan? Sehingga mereka bisa saling tertawa kembali.
- Ayas -
Bagaimana caraku agar Ika bisa memaafkanku. Dia begitu marah, mungkinkah ia mulai membenciku? Ataukah ia sengaja seperti ini agar aku tidak bergantung padanya?. Tetapi kurasa bukan itu kesalahanku, lalu. Lalu apa kesalahanku?.
Aku terus memikirkan Ika. Aku tahu Ika adalah anak yang sensitif tetapi untuk tadi pagi aku benar benar tidak sengaja.
“jangan dekati aku lagi!!”
Aku menerima Email dari Ika. Ia benar benar membenciku. Aku telah membuat kesalahan yang fatal. Aku telah melukai hati seorang teman, bahkan dia adalah teman baik untukku. Kenapa semuanya jadi begini. Ya Allah tolong aku.
“maaf, aku tadi nggak bermaksud seperti itu, kumohon maafkan aku Ika”
Aku membelah sepi di kamarku dengan tangis. Apa yang harus aku katakan lagi pada Ika agar dia memaafkanku. Aku tak ingin dibenci oleh teman baikku. Aku menyayangi Ika. Sungguh.
- Maya -
“pagi Ayas” sapaku.
“pagi juga May”
Ika belum datang. Aku duduk di samping Ayas sambil menemaninya membaca Novel yang baru ia beli. Selama 3 minggu Ika dan Ayas belum bisa tertawa bersama. Seperti yang aku lihat sekarang, Ayas menjadi anak yang pendiam sedangkan Ika. Ia menjadi anak yang judes. Aku tak tahu harus membela Ayas atau Ika.
Hari ini pembagian hasil ulangan harian untuk 18 mata pelajaran. Aku sudah tak sabar ingin melihat nilaiku. Ayas yang duduk di depanku ia masih membaca buku novelnya sambil mendengarkan ucapan wali kelas kami di depan. Ika tersenyum senang.
“Waaahh..” girang Ika.
“Ika! Ika! Aku lihat! Aku lihat!” ujarku sambil berjalan ke arah Ika duduk.
Awalnya Ika berada di sebelah Ayas. Tetapi saat kejadian itu Ika menjauh dari Ayas. Saat ini Ika tak mempedulikan Ayas lagi. Ia sangat bangga dengan nilai yang ia dapatkan. Ada 1 untuk nilai 10, 9 untuk nilai 9, 5 untuk nilai 8, dan 3 untuk nilai 7. Di kelas Ika terkenal dengan kepintaranya. Ia sangat rajin dalam mengerjakan tugas dan sangat aktif dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan. Disamping itu Ayas juga ikut senang. Walaupun ia dibenci oleh Ika tetapi dia tetap senang jika Ika merasakan kegembiraan.
“Ayas” ujar wali kelas.
Aku melihat nilai yang didapatkan Ayas. Tidak aku sangka. 2 untuk nilai 10, 12 untuk nilai 9 dan 4 untuk nilai 8. Kali ini Ayas bisa mengalahkan Ika sejauh ini. benar benar mengagumkan. Ika yang memandang sinis Ayas karena nilai yang ia dapatkan tak sebanding dengan Ayas. Wajah Ika menunjukkan bahwa Ika semakin membenci Ayas. Ayas di tempat duduknya hanya menunduk sambil melanjutkan membaca novelnya. Aku memegang hasil milik Ayas.
- Ika -
Aku membencinya. Aku sangat membencinya. Sebenarnya aku membencinya bukan karena kata-kata yang ia ujarkan padaku 3 minggu yang lalu. Aku membencinya karena akhir akhir ini nilai ku dikalahkan dengannya. Aku iri padanya. Sekarang aku harus bisa agar Ayas tak lagi mendapatkan nilai semudah itu.
“aku harus melakukan sesuatu” gumamku.
- Ika -
Ting tong…
Bel pulang berbunyi. Kami satu kelas bersalam dan keluar untuk pulang. Sebelumnya Aku dan Ayas masih ke ruang guru untuk mengantarkan spidol papan. Aku tidak tahu Ika sudah pulang atau belum. Tetapi entahlah sekarang ia terlihat sombong.
“nilaimu mengagumkan loh!” ujarku.
“benarkah? Aku juga tak menyangka, karena baru kali ini aku mendapatkan nilai sebagus ini dengan usahaku sendiri” jelas Ayas.
Ia tersenyum manis menatapku sambil berjalan keluar sekolah. Saat kami mulai memandang ke depan, dari belakang Ika berlari dan mendorong Ayas hingga terjatuh. Di depan gerbang sekolah Ika tertawa jahat sambil memandang Ayas.
“Ika! Kenapa sih kamu! Kalau gak suka sama Ayas gak usah begini dong!”
Aku mulai muak dengan tingkah Ika yang keterlaluan. Aku mebentak bentak Ika. Tetapi Ika masih saja memasang wajah jahat pada Ayas.
“sudahlah May, aku tidak apa apa” ujar lembut dari Ayas.
“Hm! May kamu pulang sama Ayas atau sama aku? Kalau kamu pulang sama Ayas ya gak apa apa” ujar Ika padaku.
Ika langsung membalikkan badannya dan berlari menyeberangi jalan raya yang cukup bahaya itu. Ika tak menoleh kanan kiri namun ia langsung berlari. Belum sampai di seberang jalan.
“…”
Aku melihat Ika yang berteriak di tengah jalan raya yang lebar itu. waktu seakan berhenti. Semuanya diam membeku. Berdiri terpaku. Seperti tak bisa bernafas dan membatu.
“Ika!!” Ucap Ayas.
Waktu benar benar berhenti. Benar benar membatu. Benar benar sunyi. Semua diam dan memandangnya. Ika yang terjatuh di depanku dan Ayas yang terpelanting jauh di tengah jalan.
“A-Ayaaas!!!” teriakku.
Aku menyesal tak sempat menghentikan Ayas yang berlari ke arah Ika. Ika perlahan dan berdiri sambil membersihkan tubuhnya karena debu.
“aku hampir mati” ucap Ika pelan.
Perlahan aku menoleh ke arah Ika. Tak peduli seberapa banyak air menetes dari mataku.
“Ika! Kau kejam! Sekarang kau lihat sendiri kan?! Ayas masih menyayangimu! Tapi kenapa kau malah menambah kebencianmu padanya! Kau ini manusia atau iblis sih!” Aku mebentak bentak Ika di hadapan guru guru dan teman sekelasku.
“apa maksudmu! Bukankah Ay-”
Ika langsung berhenti berbicara. Ia melihat jalan raya yang di depanya penuh darah yang mengalir. Ia melihat Ayas yang digendong oleh Raka ke tepi jalan. Pandangan Ika berubah. Pupil matanya mengecil.
“Ayas” ucap Ika pelan.
Aku berhenti menatap mata Ika dan mengakihkan pandanganku. Ika berjalan melewatiku dan berlari ke arah Ayas yang ada di pangkuan Raka. Raka adalah kekasih Ayas selama 2 tahun yang lalu. Raka menangis rintih ditatapan Ayas. Ia memegang tangan Ayas.
“Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!”
Raka berusaha menyemangati Ayas agar ia tetap bertahan sampai tim dari Rumah Sakit datang. Aku tak melihat Ika lagi. Entah bagaimana ekspresinya aku tidak tahu. Ayas dengan penuh darah di tubuhnya ia terlihat sangat kesakitan.
“I-Ika maafkan aku” ujar Ayas yang terbata bata.
“aku memaafkanmu, aku memaafkanmu! Ayas maaf, maaf aku sudah membencimu” ujar Ika.
“eem” Ayas menggelengkan kepalanya.
“tak apa kau membenciku, terima kasih sudah memaafkanku” ujar Ayas kembali.
Melihat Ayas dengan keadaan seperti ini. aku tidak tahu harus berbuat apa. Tim dari RS belum datang juga. Di dalam hatiku aku berdoa agar Ayas bisa bertahan. Ika mengakui kesalahannya dan memegang tangan kanan Ayas. Ika menangis. Wajahnya merah padam. Entah apa yang ia tahan. Tetapi sepertinya ia sangat menyesal dengan sikapnya.
“Ika, Aku menyayangimu, kau adalah teman baikku, terima kasih sudah menjadi temanku” lanjut Ayas berbicara.
Ayas tersenyum manis pada Ika sembari menahan rasa sakit yang ia rasakan. Aku dan Raka semakin tak bisa membendung air mata lagi. Begitu derasnya air mata yang keluar dari mataku dan mata Raka.
“Ayas.. Aku..” ujar Ika ragu.
“Ika gak usah merasa bersalah, aku berterima kasih untuk Ika”
Tangannya terjatuh. Senyumnya menghilang. Matanya menutup perlahan.
“Ayaaas!!!” jerit Aku,Raka dan Ika.
Kini, Ayas telah pergi. Mungkin tak ada yang disalahkan. Namun penyesalan ada di hati Ika. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Ika. Yang aku tahu adalah Ika menyesal dengan perbuatannya sebelum kejadian ini. Aku memeluk erat Ayas. Begitu juga Raka, ia sangat kehilangan seseorang yang ia sayangi.
- Ika -
Kebodohan apa yang membalut tubuhku selama ini. aku kehilangan seorang teman yang tak pernah membenciku. Senyum indahnya. kegembiraannya. sekarang hanya ada di bayanganku.
“Ika! Lihatlah bunga ini, indah ya”
Suaranya terdengar kembali. Aku harus berbuat apa sekarang. Tanpa Ayas semuanya terasa hampa.
“Ayas maafkan aku”
Aku menangis sembari memeluk tubuh Ayas dengan erat. Tubuhnya semakin dingin. Aku tak peduli
“Ayas maafkan aku”
— END —
Cerpen Karangan: Indri Triyas Merliana
“maaf” ujarnya dengan raut wajah yang sangat bersalah.
Aku menatap wajahnya. Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah tadi pagi mereka saling tertawa. Ada apa dengan Ika mengapa dia hanya diam saja tanpa mengeluarkan secuil kata untuk menjawab ujaran Ayas.
“ayo pergi May!” Ajak Ika kepadaku.
“tapi kau belum menjawab maafnya”
“sudahlah! Ayo pergi!”
Ika menarik tanganku dan meninggalkan Ayas sendiri di ruang kelas. Setahuku Ayas anak yang lucu dan menyenangkan setiap kesalahan yang Ayas buat selalu membuat kami tertawa. Sebenarnya ada masalah apa antara Ayas dengan Ika bukankah mereka teman baik.
“Ika memangnya ada masalah apa sih sama Ayas?” tanyaku.
Ika hanya diam dan memainkan flashdisk yang ada di tangannya. Seperti memikirkan sesuatu. Seperti kebingungan. Seperti ada keraguan. Namun apa? Aku tidak bisa membaca hatinya lewat raut muka Ika.
“Ah! Gerbang sekolah sudah dibuka, aku pulang dulu ya, dah!!” ujar Ika padaku.
Hari ini Ika begitu senang ketika ia tidak pulang bersama Ayas. Hatiku penuh keheranan karena sikap mereka berdua. Mungkin ini tidak baik karena aku ingin mengetahui urusan orang lain, tapi aku sebagai teman tidak bisa diam saja.
“Maya” Ayas memanggil sembari berjalan menghampiriku.
“lo? Kok belum pulang?” ujarku.
Ayas tidak menjawab ujaranku. Ia hanya tersenyum manis dan duduk di sampingku. Melihatnya dengan raut wajah seperti ini aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ayas. Aku tak bisa berkata apa apa untuk menghibur Ayas dan yang ada di pikiranku saat ini ialah aku ingin bertanya kenapa Ayas dan Ika bertengkar.
“sebenarnya ada apa tadi? Kenapa kau meminta maaf pada Ika?”
Aku menatapnya kembali. Wajah manisnya mulai memerah. Mata indahnya mulai berkilau dan berkaca-kaca. “jangan menangis” gumamku.
“Aku… aku telah membuatnya marah” jawabnya yang terbata bata.
Mungkin ia sudah tak bisa membendung air matanya sehingga butiran air mata menetes dan mengalir di pipinya yang manis itu. seharusnya aku tidak menanyakannya saat ini. Kebodohan apa yang merasuk pada tubuhku sehingga Ayas semakin sedih.
“ia salah paham padaku”
“awalnya aku hanya bercanda, setelah itu aku tersenyum padanya tiba-tiba ia langsung meninggalkanku dengan wajah benci yang ditunjukkan” Jelas Ayas.
Aku tidak bisa membantunya. Apa yang harus aku lakukan? Sehingga mereka bisa saling tertawa kembali.
- Ayas -
Bagaimana caraku agar Ika bisa memaafkanku. Dia begitu marah, mungkinkah ia mulai membenciku? Ataukah ia sengaja seperti ini agar aku tidak bergantung padanya?. Tetapi kurasa bukan itu kesalahanku, lalu. Lalu apa kesalahanku?.
Aku terus memikirkan Ika. Aku tahu Ika adalah anak yang sensitif tetapi untuk tadi pagi aku benar benar tidak sengaja.
“jangan dekati aku lagi!!”
Aku menerima Email dari Ika. Ia benar benar membenciku. Aku telah membuat kesalahan yang fatal. Aku telah melukai hati seorang teman, bahkan dia adalah teman baik untukku. Kenapa semuanya jadi begini. Ya Allah tolong aku.
“maaf, aku tadi nggak bermaksud seperti itu, kumohon maafkan aku Ika”
Aku membelah sepi di kamarku dengan tangis. Apa yang harus aku katakan lagi pada Ika agar dia memaafkanku. Aku tak ingin dibenci oleh teman baikku. Aku menyayangi Ika. Sungguh.
- Maya -
“pagi Ayas” sapaku.
“pagi juga May”
Ika belum datang. Aku duduk di samping Ayas sambil menemaninya membaca Novel yang baru ia beli. Selama 3 minggu Ika dan Ayas belum bisa tertawa bersama. Seperti yang aku lihat sekarang, Ayas menjadi anak yang pendiam sedangkan Ika. Ia menjadi anak yang judes. Aku tak tahu harus membela Ayas atau Ika.
Hari ini pembagian hasil ulangan harian untuk 18 mata pelajaran. Aku sudah tak sabar ingin melihat nilaiku. Ayas yang duduk di depanku ia masih membaca buku novelnya sambil mendengarkan ucapan wali kelas kami di depan. Ika tersenyum senang.
“Waaahh..” girang Ika.
“Ika! Ika! Aku lihat! Aku lihat!” ujarku sambil berjalan ke arah Ika duduk.
Awalnya Ika berada di sebelah Ayas. Tetapi saat kejadian itu Ika menjauh dari Ayas. Saat ini Ika tak mempedulikan Ayas lagi. Ia sangat bangga dengan nilai yang ia dapatkan. Ada 1 untuk nilai 10, 9 untuk nilai 9, 5 untuk nilai 8, dan 3 untuk nilai 7. Di kelas Ika terkenal dengan kepintaranya. Ia sangat rajin dalam mengerjakan tugas dan sangat aktif dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan. Disamping itu Ayas juga ikut senang. Walaupun ia dibenci oleh Ika tetapi dia tetap senang jika Ika merasakan kegembiraan.
“Ayas” ujar wali kelas.
Aku melihat nilai yang didapatkan Ayas. Tidak aku sangka. 2 untuk nilai 10, 12 untuk nilai 9 dan 4 untuk nilai 8. Kali ini Ayas bisa mengalahkan Ika sejauh ini. benar benar mengagumkan. Ika yang memandang sinis Ayas karena nilai yang ia dapatkan tak sebanding dengan Ayas. Wajah Ika menunjukkan bahwa Ika semakin membenci Ayas. Ayas di tempat duduknya hanya menunduk sambil melanjutkan membaca novelnya. Aku memegang hasil milik Ayas.
- Ika -
Aku membencinya. Aku sangat membencinya. Sebenarnya aku membencinya bukan karena kata-kata yang ia ujarkan padaku 3 minggu yang lalu. Aku membencinya karena akhir akhir ini nilai ku dikalahkan dengannya. Aku iri padanya. Sekarang aku harus bisa agar Ayas tak lagi mendapatkan nilai semudah itu.
“aku harus melakukan sesuatu” gumamku.
- Ika -
Ting tong…
Bel pulang berbunyi. Kami satu kelas bersalam dan keluar untuk pulang. Sebelumnya Aku dan Ayas masih ke ruang guru untuk mengantarkan spidol papan. Aku tidak tahu Ika sudah pulang atau belum. Tetapi entahlah sekarang ia terlihat sombong.
“nilaimu mengagumkan loh!” ujarku.
“benarkah? Aku juga tak menyangka, karena baru kali ini aku mendapatkan nilai sebagus ini dengan usahaku sendiri” jelas Ayas.
Ia tersenyum manis menatapku sambil berjalan keluar sekolah. Saat kami mulai memandang ke depan, dari belakang Ika berlari dan mendorong Ayas hingga terjatuh. Di depan gerbang sekolah Ika tertawa jahat sambil memandang Ayas.
“Ika! Kenapa sih kamu! Kalau gak suka sama Ayas gak usah begini dong!”
Aku mulai muak dengan tingkah Ika yang keterlaluan. Aku mebentak bentak Ika. Tetapi Ika masih saja memasang wajah jahat pada Ayas.
“sudahlah May, aku tidak apa apa” ujar lembut dari Ayas.
“Hm! May kamu pulang sama Ayas atau sama aku? Kalau kamu pulang sama Ayas ya gak apa apa” ujar Ika padaku.
Ika langsung membalikkan badannya dan berlari menyeberangi jalan raya yang cukup bahaya itu. Ika tak menoleh kanan kiri namun ia langsung berlari. Belum sampai di seberang jalan.
“…”
Aku melihat Ika yang berteriak di tengah jalan raya yang lebar itu. waktu seakan berhenti. Semuanya diam membeku. Berdiri terpaku. Seperti tak bisa bernafas dan membatu.
“Ika!!” Ucap Ayas.
Waktu benar benar berhenti. Benar benar membatu. Benar benar sunyi. Semua diam dan memandangnya. Ika yang terjatuh di depanku dan Ayas yang terpelanting jauh di tengah jalan.
“A-Ayaaas!!!” teriakku.
Aku menyesal tak sempat menghentikan Ayas yang berlari ke arah Ika. Ika perlahan dan berdiri sambil membersihkan tubuhnya karena debu.
“aku hampir mati” ucap Ika pelan.
Perlahan aku menoleh ke arah Ika. Tak peduli seberapa banyak air menetes dari mataku.
“Ika! Kau kejam! Sekarang kau lihat sendiri kan?! Ayas masih menyayangimu! Tapi kenapa kau malah menambah kebencianmu padanya! Kau ini manusia atau iblis sih!” Aku mebentak bentak Ika di hadapan guru guru dan teman sekelasku.
“apa maksudmu! Bukankah Ay-”
Ika langsung berhenti berbicara. Ia melihat jalan raya yang di depanya penuh darah yang mengalir. Ia melihat Ayas yang digendong oleh Raka ke tepi jalan. Pandangan Ika berubah. Pupil matanya mengecil.
“Ayas” ucap Ika pelan.
Aku berhenti menatap mata Ika dan mengakihkan pandanganku. Ika berjalan melewatiku dan berlari ke arah Ayas yang ada di pangkuan Raka. Raka adalah kekasih Ayas selama 2 tahun yang lalu. Raka menangis rintih ditatapan Ayas. Ia memegang tangan Ayas.
“Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!”
Raka berusaha menyemangati Ayas agar ia tetap bertahan sampai tim dari Rumah Sakit datang. Aku tak melihat Ika lagi. Entah bagaimana ekspresinya aku tidak tahu. Ayas dengan penuh darah di tubuhnya ia terlihat sangat kesakitan.
“I-Ika maafkan aku” ujar Ayas yang terbata bata.
“aku memaafkanmu, aku memaafkanmu! Ayas maaf, maaf aku sudah membencimu” ujar Ika.
“eem” Ayas menggelengkan kepalanya.
“tak apa kau membenciku, terima kasih sudah memaafkanku” ujar Ayas kembali.
Melihat Ayas dengan keadaan seperti ini. aku tidak tahu harus berbuat apa. Tim dari RS belum datang juga. Di dalam hatiku aku berdoa agar Ayas bisa bertahan. Ika mengakui kesalahannya dan memegang tangan kanan Ayas. Ika menangis. Wajahnya merah padam. Entah apa yang ia tahan. Tetapi sepertinya ia sangat menyesal dengan sikapnya.
“Ika, Aku menyayangimu, kau adalah teman baikku, terima kasih sudah menjadi temanku” lanjut Ayas berbicara.
Ayas tersenyum manis pada Ika sembari menahan rasa sakit yang ia rasakan. Aku dan Raka semakin tak bisa membendung air mata lagi. Begitu derasnya air mata yang keluar dari mataku dan mata Raka.
“Ayas.. Aku..” ujar Ika ragu.
“Ika gak usah merasa bersalah, aku berterima kasih untuk Ika”
Tangannya terjatuh. Senyumnya menghilang. Matanya menutup perlahan.
“Ayaaas!!!” jerit Aku,Raka dan Ika.
Kini, Ayas telah pergi. Mungkin tak ada yang disalahkan. Namun penyesalan ada di hati Ika. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Ika. Yang aku tahu adalah Ika menyesal dengan perbuatannya sebelum kejadian ini. Aku memeluk erat Ayas. Begitu juga Raka, ia sangat kehilangan seseorang yang ia sayangi.
- Ika -
Kebodohan apa yang membalut tubuhku selama ini. aku kehilangan seorang teman yang tak pernah membenciku. Senyum indahnya. kegembiraannya. sekarang hanya ada di bayanganku.
“Ika! Lihatlah bunga ini, indah ya”
Suaranya terdengar kembali. Aku harus berbuat apa sekarang. Tanpa Ayas semuanya terasa hampa.
“Ayas maafkan aku”
Aku menangis sembari memeluk tubuh Ayas dengan erat. Tubuhnya semakin dingin. Aku tak peduli
“Ayas maafkan aku”
— END —
Cerpen Karangan: Indri Triyas Merliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar