Pages

Rabu, 02 April 2014

Gadis Mawar Putih

Kuncup mawar mulai bermekaran di musim semi seperti sekarang ini. Tak hanya mawar, penyejuk hati lainnya seperti melati, sedap malam dan sakura-sakura desa pun ikut andil dalam menyemarakkan musim semi. Tengoklah mawar putih, sang bunga nan suci dan menyejukkan mata. Mawar ini tergolong langka. Karena itu keberadaannya acapkali diburu oleh pecinta mawar. Satu-satunya pemilik mawar putih di desa itu adalah Sabrina. Kehidupannya hampir saja punah karena tangan-tangan jail yang tak bertanggung jawab. Mahkota mawar putih ini bak istana yang megah bertumpuk-tumpuk menyilaukan pandang. Siapa saja yang melihatnya pasti matanya akan terbelalak hijau seolah tak ingin berkedip.
Sabrina sangat telaten dalam merawat tanaman. Terlebih dengan mawar putih kebanggaannya. Hal ini memang dipengaruhi oleh tingkahnya sehari-hari yang sangat disiplin dan peduli akan kehidupan tanaman. Sabrina, anak sulung dari dua saudara. Adiknya afa seorang laki-laki yang tangguh tapi brangas ini sifatnya jauh berbeda dengan Sabrina. mereka seperti langit dan bumi. Istimewanya, kedua saudara ini sangat akur dan menjaga betul keutuhannya sebagai saudara kandung.
Sabrina serentak bangun dari sofa karena mendengar bunyi klakson yang sedang menggema di depan rumahnya. Sesaat ia segera mengulurkan jilbab dan menatanya kembali dengan rapi yang hanya dikaitkan dengan sebatang jarum tak bermutu. Sabrina tetap saja tak kehilangan keanggunannya sebagai gadis desa berwibawa seperti mawar putih. Mobil bercorak abu-abu terhenti. Pemilik mobil ini sepertinya adalah orang penting. Pemilik mobil itu kemudian keluar. Wajahnya tampan dan wibawanya pun santun. Maka setiap mata yang memandangnya pasti akan tersipu-sipu. Sayup-sayup angin berhembus mengipasi tubuh Sabrina yang sedang merasakan gerah. Ia tertunduk malu dan seringkali membuang muka ketika ada lelaki yang ada di hadapannya. Seolah dunia akan runtuh menghentaknya. Kebiasaan yang sudah lama melekat dalam diri Sabrina sejak kecil. Maka dari itu, ia tak pernah mempunyai teman lelaki.
“anda siapa?” suara lirih Sabrina tak berani menatap sang lelaki misterius itu
“bisakah anda tidak membuang muka! Saya datang bermaksud baik. Nama saya mahfud dan izinkan saya tahu nama putri!”
Maka jiwa Sabrina semakin terdesak
“jangan panggil saya putri. Nama saya Sabrina. Ada penting apa anda ke rumah saya?” jawab Sabrina dengan tergagap
“saya adalah pecinta mawar putih. dan kebetulan saya lewat rumah putri lalu melihatnya. Entah mengapa hatiku seakan tergerak untuk berhenti dan ingin menemui sang pemilik mawar putih ini”
“lantas apa yang anda inginkan?”
Sabrina semakin menggigil ketakutan. Karenanya saat itu, ia hanya seorang diri di rumah. Mahfud si lelaki misterius ini sangat mencurigakan. Sesekali ia sering mencuri pandang wajah Sabrina.
Hari demi hari berlalu, sikap mahfud malah semakin menjadi-jadi. Ia sering mendatangi rumah Sabrina. Bahkan setiap kali datang, orangtua Sabrina pasti diajaknya berbincang. Entah membahas persolan apa kecurigaan yang dirasakan oleh Sabrina semakin mengusik.
Lulus SMA tidak menyudutkan semangat Sabrina untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Ia teguh berpacu pada keinginannya untuk menjadi wanita karir. Akan tetapi, keinginannya ini bertentangan dengan kemauan orangtuanya. Diam-diam orangtua Sabrina telah menjodohkan anak sulungnya ini dengan mahfud. Lelaki yang sebenarnya seorang saudagar kaya raya yang kini menjabat sebagai dosen. Hartanya berlimpah, dan ia sudah mapan tingkat atas.
Karena perjodohan ini, Sabrina sering mengeluh. Setiap hari ia mengurung diri di kamar dan tak sebutir pun nasi yang dimakannya. Badannya menjadi kurus dan mengering. Ia tidak mau menuruti kemaun orangtuanya yang konyol itu untuk menikah dengan mahfud. Masa depannya masih panjang. Masih banyak hal yang ingin dicapainya. Ia pun tidak ingin menjadi pembangkang kelas kakap. Dan sekarang, Sabrina terjebak oleh dua pilihan yang teramat sulit untuk dipilihnya tanpa ada daya keterpaksaan. Jika Sabrina tetap ingin kuliah, maka ia tidak akan di akui lagi sebagai anak oleh kedua orangtuanya. Sungguh kejam!
“Sabrina tidak mau ma! Sabrina ingin kuliah” isak Sabrina dalam tangisan
“mama mohon nak, hargailah pengorbanan papa dan mama selama ini”
“keputusan papa sudah bulat, besok juga kamu harus menikah dengan mahfud!”
Air mata Sabrina tak henti-hentinya menetes berjatuhan. Dadanya sesak dan penat yang di tanggungnya kian berat. Hingga pada akhirnya, Sabrina seorang gadis penurut dan tak pernah membantah, berani memberontak kejam. Inilah pertama kalinya sebuah lontaran kata kasar terkuak dari mulutnya yang terjaga suci.
“Sabrina juga manusia pa, tidak selayaknya papa dan mama memaksakan kehendak putrinya sendiri. Sabrina tidak ingin menikah sekarang. Dan bila memang mama dan papa tidak mau mengakui Sabrina lagi sebagai anak kalian, aku akan terima. Dan satu lagi, Sabrina akan pergi dari rumah ini”
Langit biru menjadi gelap berkelabu menyelimuti ruang yang sedang antah berantah itu. Sebuah penyangkalan yang hebat dan tak pernah terjadi selama bertahun-tahun lamanya. Jiwa ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu seolah tergoncang. Celaka besar bagi kedua orangtua Sabrina karena sebentar lagi, Sabrina akan pergi meninggalkan mereka. Sifat otoriter orangtua Sabrina memang sudah sangat keterlaluan. Pertentangan itu seakan memecah malam dan ribuan bintang yang berpijar. Pilu menusukku dengan tajam.
“jaga dirimu baik-baik afa adikku!” pandangnya menatap mata afa
Mata afa berkilaun bening seperti ada air mata yang tertahan. Afa menggenggam tangan sabrina dengan erat dan semakin erat. sabrina tak sanggup bila melepasnya. maka sanggup atau tidak, perlahan sabrina melepas genggaman tangan afa. Tanpa di nyana, lelaki tangguh seperti afa mampu menumpahkan titik air matanya. Pemandangan yang sangat-sangat sakit untuk dipandang.
“kakak! Jangan pergi!” teriak afa dengan lantang dan semakin membuatku merasa sakit
Dengan membawa serpihan-serpihan hati yang telah remuk karena pemaksaan oleh orangtuanya, Sabrina pergi dengan tangan kosong. Tangisnya semakin terisak-isak, aku yang memandangnya dari luar semakin tak tega dan air mataku ikut berjatuhan satu-satu. Relung hatiku seakan ikut merasakan kepedihan terdalam itu.
Selama beberapa tahun tak di ketahui keberadaan dan bagaimana nasibnya sekarang, tiba-tiba sabrina muncul dengan membawa gelar Drs yang kini membesarkan namanya. Meski begitu, ia masih tetap sama seperti dulu. Gadis yang santun dan beretika. ayahnya yang melihat Sabrina ketika sedang keluar dari dalam mobil mewah berwarna hitam lalu berlari terseok-seok penuh penyesalan.
“Sabrina” ujarnya tergopoh-gopoh
Sabrina kemudian menoleh ke belakang. Lalu ia terkaget dan langsung memeluk papanya.
“maafkan ayah Sabrina, ayah menyesal. Aku memang bukan ayah terbaik bagi kamu, maafkan ayah!” ayah Sabrina berderma sembari menangis sesenggukan
“sudahlah yah, itu semua adalah masa lalu. Sabrina sudah memaafkan ayah dan ibu sejak dulu” imbuh Sabrina lembut
Titik air mata mereka mengalir bahagia. Ayah Sabrina sudah sadar akan sikapnya yang tak pantas di lakukan terhadap putrinya sendiri. Lalu Sabrina pulang dan mereka kini kembali lagi menjadi keluarga yang sangat bahagia. Mereka saling mengerti dan memahami. Bahkan, ayah dan ibu Sabrina sangat mendukung akan prestasi yang di raih oleh Sabrina. Gadis mawar putih yang malang ini seakan mendapat kebahagiaan baru di dalam keluarganya.









Cerpen Karangan: Arinosa Bone

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About