Dikala sang surya menepi.. langit yang biru berubah warna menjadi
merah kekuningan yang menyilaukan mata.. rumput-rumput hijau yang
tertiup angin sore seakan-akan bersuka ria menyaksikan peristiwa yang
indah ini.. membuatku terpaku dan membisu menyaksikan semua itu..
mengingatkanku pada sebuah kisah lalu..
Awal cerita..
Suatu malam di bulan oktober, hujan turun cukup deras.. seorang gadis
bernama Sinta tengah duduk di depan jendela kamarnya.. ia sedang
memperhatikan tetesan air hujan yang jatuh di luar rumahnya.. ia amat
menyukai hujan.. karena menurutnya.. disaat hujan turun bisa memberikan
ketenangan dan ketentraman jiwa..
Tiba-tiba suara bising cekcok mulut terdengar dari luar kamarnya.. ia
bergegas melihat apa yang sebenarnya terjadi.. ketika ia melihatnya
ternyata kedua orangtuanya yang tengah bertengkar.. entah apa yang
mereka ributkan, sinta tak tau dan tak mau tau karena hal itu sudah
biasa untuknya.. namun satu yang pasti di saat kedua orangtuanya
bertengkar masalah apapun pasti terdengar olehnya yang akhirnya tertuju
pada sinta.. ayah sinta sangat mmbenci sinta karena menurutnya sinta itu
anak haram hasil hubungan gelap ibunya.. namun sinta tak mau ambil
pusing. karena ia sangat menyayangi kedua orangtuanya.. setiap kedua
orangtuanya bertengkar selalu sinta yang disalahkan.. “ayah, ibu mengapa
kalian selalu bertengkar?” tanya sinta dengan polosnya.. “diam kamu
anak haram!!” sebuah bentakan dari ayahnya membuat sinta menangis dan
berlari masuk kamar, sinta hanya bisa membuka buku dan menuliskan semua
perasaannya di dalam kertas.. dan malam pun berlalu dengan penuh air
mata.
Suatu ketika ayah sinta mengalami kecelakaan beruntun yang membuat
kedua kakinya harus diamputansi.. sinta dan ibunya selalu merawat
ayahnya meskipun ayahnya tak mau mereka rawat.. ia tetap membenci
sinta.. “ayah makan dulu ya.. nih sinta buatin bubur buat ayah”.. “puas
kamu melihat saya seperti ini hah!! sudah jangan sok perduli kamu..
pergi sana!!” bentak sang ayah pada sinta.. ibunya hanya bisa menangis
menyaksikan anaknya dibentak dan dicaci-maki seperti itu namun apa daya,
walaupun sang ibu melarang sinta merawat ayahnya.. tapi sinta
bersikeras pantang menyerah.. setiap sinta dibentak ayahnya sinta tetap
tersenyum dan selalu berusaha agar ayahnya menerima sinta.
Suatu sore di halaman belakang rumah sinta.. ayahnya tengah duduk di
sebuah kursi roda.. sinta berniat mendekatinya lalu memeluk ayahnya dari
arah belakang.. namun apa balasan sang ayah.. ia malah mendorong sinta
hingga terjatuh.. “pergi kamu jangan ganggu saya” meskipun di dalam hati
sang ayah sudah mulai tumbuh rasa kasih sayang untuk sinta, akan tetapi
sang ayah berusaha melawan rasa itu.. kali ini senyum sinta mulai
redup, dengan berlinangan air mata sinta bersujud di kaki sang ayah..
“ayah.. begitu hinakah sinta ini, sehingga ayah sangat membenci sinta?.
apa yang harus sinta lakukan lagi, agar ayah bia menerima sibta?” “tidak
ada yang harus kamu kakukan.. saya bisa mengurus hidup saya sendiri..
pergi kamu jangan ganggu saya” dengan bercucuran air mata sang ayah
membentak sinta.. air mata mengalir deras di pipi mereka berdua..
kehidupan di rumah sinta berlalu penuh derita.. setiap ayah sinta tak
mau makan, sinta pun tak mau makan sebelum sang ayah makan..
hari ini terpancar senyum kebahagiaan dari wajah sinta, rupanya ini
pertama kalinya ayah sinta mau disuapi oleh sinta.. senyuman itu seakan
takkan pernah bisa luntur.. ternyata hati beku sang ayah mulai luluh
oleh kasih sayang sinta yang tak pernah padam..
Namun ketika sinta menyuapi sang ayah makan.. tiba-tiba sinta jatuh
pingsan di pangkuan sang ayah.. “sinta!! sinta!! kamu kenapa nak? sinta
bangun!!.. sinta bangun!!” dengan pehuh rasa cemas terpancar dari wajah
ayahnya.. ia memanggil ibu sinta untuk segera memanggil ambulan…
Sesampainya di rumah sakit.. dokter keluar dari ruang UGD dengan raut
wajah kecewa.. “maaf pak, bu.. kami sudah berusaha semampu kami.. tapi
tuhan berkehendak lain, nyawa sinta tak tertolong” “APA DOK!!! coba anda
periksa lagi dok mungkin anda salah!!” ayah sinta begitu kecewa dan tak
percaya dengan apa yang dokter katakan.. sedangkan ibu sinta hanya bisa
menagis mendengar semua ini.
Hari ini hujan turun sangat deras, seakan ikut menangisi kepergian
sinta.. terlihat gundukan tanah pemkaman yang masih basah diguyur hujan
sang ayah tak henti-hentinya menangis turut membasi pemakaman sinta..
“maafkan ayah nak.. menyesal tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu..
maafkan ayah sinta maafkan ayah” sang ibu merangkul ayah sinta
“sudahlah.. semua ini sudah terjadi.. ayo kita pulang”
Sampai di rumah pun air mata tak henti-henti mengalir.. ayah sinta
memperhatikan seluruh ruangan kamar sinta, ini kali pertama ia memasuki
kamar sinta.. terlihat di dinding penuh dengan gambar hasil karya tangan
sinta.. di gambar itu terdapat 3 orang yang seang bergandengan tangan
seperti sebuah keluarga.. ibu sinta menemukan sebuah buku di bawah
bantal sinta.. yang ternyata itu adalah diary sinta.. sang ibu membaca
lembar demi lembar buku itu.. tertulis
“ayah, ibu mengapa kalian selalu bertengkar karena sinta. maafkann sinta
karena sinta bukan anak yang baik untuk kalian. tapi sinta akan
berusaha menjadi anak yang berguna untuk ayah dan ibu.. oh iya, untuk
ayah. sinta kali ini menjadi juara kelas loh.. sinta mendapat rangking
satu..” sang ayah tak pernah menemani anaknya untuk menerima rapot..
lagi-lagi rasa sesal menusuk hatinya..
di halaman lain..
“ayah ibu yang sangat sinta sayangi..
untuk ayah sinta tulus menyayangi ayah meskipun ayah sangat membenci
sinta tapi sinta yakin suatu saat nanti akan ada rasa sayang dari ayah
buat sinta.” air mata tak hentinya mengalir dari sang ayah..
di halaman terakhir,
“ayah ibu yang sangat sinta sayangi..
akhirnya lengkap sudah.. pagi tadi sinta berhasil membujuk ayah makan
bahkan sinta yang menyuapinya.. sinta bahagiiiaaa banget.. sinta rasa
kasih sayang itu mulai tumbuh dalam hati ayah.. tapi maaf waktu sinta
tidak banyak.. karena beberapa hari ini tuhan memberi sinta pesan agar
sinta kembali pada-NYA, sebenarnya sinta tidak ingin meninggalkan
kalian. namun jika tuhan menghendaki sinta pergi sinta iklas. karena
semua keinginan sinta sudah terkabul.. harapan sinta hanya ingin melihat
senyuman tulus dari ayah untuk sinta dan melihat keluarga kita utuh
selamanya..” terlihat beberapa tetes darah membasahi krtas itu..
“sebenarnya selama ini sinta mengidap penyakit kanker darah stadium
akhir.. tapi sinta tak mau membuat ayah dan ibu susah atau pun sedih..
selama ini sinta tahan semua rasa sakit ini dan memohon kepada tuhan
agar memberikan sinta waktu untuk membuat ayah dan ibu bahagia.. sinta
hanya takut disaat kasih sayang membanjiri keluarga ku ini sinta sudah
tak ada lagi di dunaia ini.. maaf jika selama ini sinta selalu membuat
ayah dan ibu susah.. salam sayang.. sinta..” kembali air mata mengalir
di kedua pipi orang tua sinta. dan tak prcaya secepat ini sinta pergi..
kini hanya penyesalan yang tersisa..
SEKIAN
Cerpen Karangan: Cpenk
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar