Berkali-kali kusakiti hatinya, hingga air matanya mengering tak mampu
menitikkan bulirnya lagi. Sejak usiaku belia hingga kini umurku 28
tahun, aku masih saja merepotkannya dengan pekerjaanku yang tak berguna.
Banyak orang begitu mencemooh dan menyorotiku seperti kotoran, tetapi
tidak dengannya. Banyak orang terlalu mengucilkan kehidupanku hingga tak
ada ruang lagi untuk mencari alasan memohon bantuan mereka, namun tidak
dengannya. Malam demi malam ia habiskan untuk mencurahkan kalimat
indahnya, memohon dengan tulus dan penuh yakin bahwa suatu hari aku
pasti berubah. Meski aku tak tahu betul seberapa besar luka dan
pengorbanannya, ketika aku kembali lagi pada dosa, ia datang bak
malaikat yang memberiku jalan pulang, ke pelukan hangat seorang ibu.
Ibuku berusia 53 tahun, seorang penjahit yang hanya memiliki sebuah
mesin jahit tua di rumah kecil kami. Jari-jarinya yang mulai keriput,
masih saja dengan sabar menggeluti benang demi benang, membuatkan
pesanan baju banyak orang. Beberapa kali tangannya tertusuk jarum, tetap
saja ibuku meneruskan pekerjaannya, dengan kaca mata silinder seharga
dua puluh lima ribu yang dibelinya di pasar. Tiap kali aku menyuruhnya
ke dokter mata, ibu hanya tersenyum dan meminta mengantarkannya ke
pasar. Sampai di sana, ibu pun mencoba beberapa kaca mata sampai
akhirnya ia menemukan kaca mata yang cukup membuat pandangannya lebih
jelas.
Ibuku seorang diri, sudah 10 tahun ayahku meninggal dunia dan tak
menikah lagi. Hanya tinggal denganku, berdua. Pekerjaannya sebagai
penjahit sudah ia lakukan sejak 30 tahun silam, sebelum menikah dengan
ayahku, di Ponorogo. Selepas pindah ke Malang, ibu pun melanjutkan
profesinya itu. Ia berjuang sendiri, memenuhi semua kebutuhan keluarga
sederhana kami. Masih kuingat wajah ibu yang begitu bersemangat
mendorongku untuk sekolah ke Universitas meski aku tak begitu
menginginkannya. Kata ibu, “Pendidikan itu penting, Nak. Sekolah saja
yang benar, masalah uang, ibu bisa usahakan”, tangannya memegang
pundakku yang jauh lebih kekar dibandingkan badan ibu yang kurus. Ibu
tak peduli denganku yang begitu pemalas, baginya laki-laki harus punya
pendidikan tinggi.
Apa yang ibu lontarkan lewat doanya belum seiring dengan
perjalananku. Tahun-tahun pertama kutinggalkan ibu ke Surabaya bertekad
memenuhi harapannya untuk kuliah di salah satu universitas negeri di
sana. Namun, kebiasaan burukku tak kunjung berhenti hingga lembar demi
lembar uang yang ibu kirimkan lebih banyak kuhabiskan ke tempat tak
berguna, diskotik, penuh kesombongan kuteguk minuman keras yang dijual
mahal di sana. Bila uangku habis, sambil mendesak kuminta ibu untuk
mengirimiku uang lagi. Tetapi itulah ibu, entah darimana ia peroleh
uang, seketika itu ibu akan memberiku uangnya lagi. Namun kebiasaanku
ini tak berlangsung lama. Aku tak lagi berpesta dengan minuman. Seorang
temanku divonis umurnya tak lama lagi karena setiap hari ia meneguk
minuman keras. Tak ingin berujung sepertinya, kupaksakan untuk berhenti.
Lantas bukan berarti aku bertaubat, tetap saja aku mengalihkan
kebiasaan burukku pada kebiasaan buruk yang lain. Aku mulai menekuni
profesi baru, Ah, profesiku sebagai penjudi. Bukannya malah berpikir
serius untuk kuliah, aku yang dengan santai hanya masuk dan mengabsen
muka pada dosen, tak lagi serius mendengarkan penjelasan-penjelasannya
yang seolah hanya lewat di telingaku. Selalu saja mengantuk, dan tak
jarang ku tertidur. Kuhabiskan malam di beberapa tempat bersama
teman-teman baruku, tentu saja pada profesi yang sama. Benar kata orang,
judi tak hanya menghabiskan uang sakuku, namun hartaku yang lain.
Kesenanganku pada judi membuatku tak segan menjual barang-barang di
kamar kosku. Ujung-ujungnya aku pun beralasan untuk membayar ini dan itu
pada ibu, alasan KKN, alasan ikut Semester Pendek, bahkan alasan untuk
penelitian pun kukatakan pula pada ibu.
Masih ku ingat sorot bahagianya saat kuberi tahu bahwa kuliahku akan
segera berakhir. Sudah 6 tahun ibu memberiku segalanya selama kuliah, ia
ingin aku lulus dan wisuda. Ucapnya, ibu akan menggunakan pakaian
bagus, Nak untuk hadir di wisudamu nanti. Aku hanya tersenyum pada ibu,
menciumi tangannya setiap kali hendak pamit ke Surabaya. Ibu pun kembali
berkaca-kaca, karena dalam waktu yang lama ia akan menghabiskan
hari-harinya sendiri lagi. Di tahun terakhir sisa semesterku, ibu
semakin rajin bertanya kapan dan kapan aku diwisuda. Tentu saja aku tak
tega mengatakan yang sebenarnya bahwa kuliahku masih berantakan. Aku tak
lagi punya cukup waktu untuk menyelesaikannya, jelas sekali keputusan
untukku, drop out. Di masa-masa itu aku tak berani pulang ke rumah.
Hidupku pun menumpang tidur di kos teman karena uang yang diberikan ibu
tak kubayarkan untuk sewa kos.
Kubohongi ibu terus menerus. Kata maaf pun seolah tak lagi berguna
bila kukatakan hari ini. Ya, ibuku sudah tiada. Dua tahun yang lalu
seorang kerabat menelepon dan menyuruhku pulang sebab ibu sudah
meninggal. Keadaannya sehat-sehat saja kala itu. Ibu pergi tanpa ada
keluhan sakit apapun. 1 jam sebelum kepergiannya, ibu sempat mengobrol
denganku di telepon, memberiku sebaris pesan agar aku baik-baik saja dan
segera menyelesaikan kuliahku. Mungkin ibu lupa, saat itu, sudah tahun
ke delapan. Bukan lagi tahun dimana aku pantas memberinya harapan
kosong. Namun, demi menenangkannya, hanya ku jawab iya dan iya. Tak tahu
bahwa itu adalah pembicaraan terakhir kami, sontak aku sangat terpukul,
satu-satunya orang yang begitu menyayangiku tanpa akhir, tengah
terbaring di rumah kami.
Dua tahun ini, aku tinggali rumahku seorang diri. Bekerja berbekal
ijasah SMA sebagai marketing di perusahaan swasta. Kupandangi foto ibu
setiap pagi, sebelum ku berangkat kerja. Memohon maaf padanya
berkali-kali dalam hati. Ibu pasti tahu, meski semasa hidupnya aku tak
pernah menceritakan kesalahan dan kebiasaan burukku padanya. Sesekali
aku merasa tak kuat lagi hidup tanpanya, menangis semalaman sambil
membaca surat demi surat yang ku tuliskan untuk ibu, yang tak tahu harus
kukirimkan pada siapa. Di samping pusaranya, kusematkan surat-suratku,
dan menggantinya dengan surat baru ketika ku kunjungi makamnya lagi. Ibu
memang tak bisa membacanya, namun aku berharap Tuhan menyampaikan
penyesalanku yang begitu dalam pada ibu. Hidupku begitu berbeda
tanpanya, Rabb. Bila saja ada kesempatan terakhir untuk melihatnya, kan
ku sampaikan kata maaf pada ibu dan mengakui semua kebohonganku.
Bila sisa hidupku ini adalah anugerah waktu yang diberikan Tuhan, ku
gunakan sepenuhnya beribadah, mendoakan ibu yang begitu damai tersenyum
di mimpiku, terutama saat hatiku merasa kalut. Ku tekuni pekerjaanku
yang sederhana, mensyukuri apa adanya hidupku. Seperti kata ibu.
“Maafkan aku, Bu”
Aku hanya mampu mendoakan, mengiringi kehidupanmu di sana dengan
doaku. Berharap Tuhan menganggapku sebagai anak sholeh yang doanya
diijabah. Hingga ibu tak lagi dikenal sebagai bunda yang salah
membesarkanku. Semoga ibu pun berbahagia dengan jiwaku yang insaf dan
tak lagi mengulang kesalahan. Masih ada waktu, bila ibu menginginkanku
menjadi sarjana, saat ini tengah kujalani dari awal, menapaki pekerjaan
dan pendidikanku bersama-sama. Untukmu, Ibu.
Cerpen Karangan: Kiswatul Lathifah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar