Setelah sekian lama baru ku menyadari.. mengapa ku selalu menahan
rasa sakit ku.. ingin ku hapus saja semua, semua dendam ini tapi rasa
tak mungkin lagi.. biar kan ku pergi karena aku tak sanggup lagi
mengingat semua kenangan dulu di saat engkau menyakiti ku.. mengapa
semua terjadi disaat kau mulai menyadari semua kesalahnanmu padaku… tapi
ku tak sanggup lagi…
Entah sudah berapa kali benda yang dinamai handphone itu bergetar
menandai ada pesan masuk. sudah ku ketahui si pengirimnya dan dan isi
pesan itu. Yah dia lelaki yang pernah mengisi hari-hariku yang biasa
menjadi indah. MARIO STEVANO HALING itulah dia. Pria yang memiliki
pesona yang tidak bisa dihindari oleh kaum hawa, ya termasuk saya yang
sempat terpesona dengan dirinya. Tapi itu dulu tidak untuk sekarang.
Sekali lagi ku buka salah satu pesan singkat itu..
Sender: my Rio
Maafin aku, aku tau aku salah, aku tau sudah membuat mu kecewa tapi aku
mohon beri aku kesempatan… kesempatan sekali lagi untuk memeperbaiki
semuanya fy..
IFY P.OV
Sebenarnya hatiku sudah mulai tersentuh tapi kembali kenangan pahit itu
berputar di banak ku saat dia dengan mudahnya menyakitiku, dengan
mudahnya berbicara dan memperlakukan aku seperti bukan dengan seorang
kekasih. Kata-katanya malam itu sungguh meyakitkan, sungguh tak dapat
dipercaya dengan mudahnya kata-kata seperti itu terlontar dari mulutnya.
Seorang Mario berbicara seperti tu dengan kekasihnya sendiri, heemmmf
saat aku sudah benar-benar percaya dan memberi kesempatan untuk dia
memperbaiki kesalahan yang dulu, tapi lagi-lagi dia manyakiti aku, dan
mengecewakanku.
Andai waktu bisa diputar aku lebih memilih untuk tidak mengenalnya
saja, biarkan lah agar tak ada yang tersakiti di antara kami. Haaahh..
sudahlah semua sudah terjadi dan sekarang saatnya aku benar-benar
melupakannya.
Kembali handphone ku bersuara
Sender: my rio
Aku tau kamu brlum bisa maafin aku sekarang, tapi aku mohon kamu mau
maafin aku fy, aku bener-bener nyesel fy sudah melakukan itu, aku
bener-bener gak sengaja fy, entah lah aku merasa itu bukan aku dengan
mudahnya nyakiti kamu, aku mohon maafiin aku.. aku masih sayang kamu
fy..
Rio
Haaahh.. kata-kata mu menyakinkan tapi sungguh aku tak bisa kembali padamu.
“Heeii… melamun saja kamu, sudah lah lupakan lah, dia sudah telalu
sering dia melakukan itu dangan kamu, kakak sudah berapa kali
memperingatkamu kalau kalian itu tidak cocok..”
IFY P.OV
Yahh.. itu kakak ku yang selalu setia mendengarkan ceritaku, selain aku
dia, dan tuhan kakak ku mengetahui kisah ku ini, kakak ku yang selalu
menghibur disaat dia kembali menyakitiku, kakak ku yang setia
menghiburku memberi semangat untuk melupakan dia, tapi aku seperti
selalu terbius untuk mamafkan dia dan kembali padanya. Kak via yah
itulah namanya, dewasa, cantik baik dan penyayang berbeda denganku kak
via memiliki pacar yang selalu setia walau mereka bejauhan, kak iel yang
berada di Surabaya dan kak via di bandung mereka pacar jarak jauh tapi
komunikasi tetap meraka jaga, jujur aku kadang suka iri melihat mereka,
lucu memang tapi itulah kenyataannnya aku ingin seperti mereka yah andai
dia seperti kak iel yang baik yang selalu pengertian, tapi itulah
manusia tidak ada yang sama manusia tercipta berbeda-beda. Tapi aku
sungguh tak menyesal mengenal dia, hanya menyesali sifat dan sikapnya
saja.
“Heeii.. di ajak bicara malah nambah melamun.. aneh kamu.. sudah lah
tidur gih, sudah larut malam kakak duluan ya, oh ia ingat lupakan dia,
okeh sayang.”
tak ku jawab hanya senyuman perih yang ku berikan, dan sepertinya kakak ku mengetahui itu.
Entah sudah berapa lama ku berdiam, dan akhrinya Ku ikuti jejak kakak
ku yang telah tertidur pulas di samping ku.. waktu telah larut malam
dan saatnya untuk istirahat, terbesit di hatiku semoga besok aku
terbangun dengan kisah hidup yang indah dan benar-benar melupakan dia.
Yaahh semoga.
Tak terasa sudah berapa minggu aku tak berkomunikasi dengannnya, tapi
tidak dengan dia dia selalu mengirim pesan singkat maupun menelepon tak
sedikit pun ku hiraukan baik pesan maupun teleponnya. Entahlah ingin
rasanya berbicara dengan dia seperti sebelum-sebelumnya. Tapi hati ini
masih sakit benar-benar sakit.
Sender: 08772*********
Aku sadar aku salah.. maafin aku fy..
Yah itu nomor dia aku masih mengingat nomor itu,
Tak sedikit pun ku balas pesan darinya, entahlah ingin rasanya membalasnya tapi.. ahhh sudahlah biarkan lah.
—
“Ify…”
Deg.. rasanya udara saat itu berhenti.. suara itu suara yang dulu
kutunggu-tunggu, suara itu yang membuat aku jatuh cinta, tapi suara itu
juga yang menyakitiku.. yah siapa lagi kalau bukan dia
Rio.. yah dia rio, ingin rasanya aku berlari ke sisinya dan mengatakan
aku rindu dia. Rindu semua tentang dia.. tapi tidak, tekad ku
benar-benar sudah bulat MELUPAKANNYA itulah pilihan ku..
“Fy.. please dengerin aku.. fy tatap mata aku, aku sayang kamu beri aku kesempatan fy.. fy maafin aku ya..”
Aku hanya menunduk tak berani manatap dirinya, biarkanlah
“fy aku bener-bener nyesel fy, aku mohon fy..”
“fy please..”
“Fyy.. kamu denger aku gak sih..”
Aku tersentak dengan nada bicaranya yang mulai meninggi itu, ku tatap dia denagn muka yang entahlah tak dapat kugambarkan lagi..
“maaf fy.. aku gak maksud bentak kamu fy..”
“ify..”
“Cukupp.. cukupp yo.. berhenti ganggu aku, berhenti yo.. kita udah gak
ada hubungan apa-apa lagi, aku capek.. aku capek yo kamu tau.. sakit yo
sakit saat kamu ngelakuin itu. apa pernah terbesit di hati kamu disini
aku sakit yo.. enggak kan enggak sedikit pun..”
“Tapi fy… akuu…”
“Apa.. apa lagi yo.. mau nyakititi aku lagi, belum puas kamu hah.. kamu
gak tau yo jadi aku saat kamu nyakiti aku, coba kamu di posisi aku,
terus dengan mudahnya aku mintak maaf dengan kamu apa kamu bakal terima
aku, terus maafin aku.. enggak juga kan!! udah lah yo..”
Dengan berurai air mata yang tak terbendung lagi aku mengeluarkan semua uneg-uneg yang ku rasakan selama ini..
“Fy..”
“Udah yo.. udah lupain aku, okeh.. okeh yo aku maafin kamu.. tapi tidak
untuk memberi kamu kesempatan lagi.. kamu tau sudah berapa sering aku
beri kamu kesempatan, tapi apa haah ngak sedikit pun kamu berubah.. mana
janji kamu mana omongan kamu, udah la yo, semua sudah berakhir berteman
mungkin itu lebih baik, aku tau.. aku tau yo, aku memang gak bisa jadi
yang kamu mau kan.. aku gak bisa seperti perempuan yang lain yang selama
ini dekat dengan kamu, aku gak bisa seperti meraka karena aku emang
begini, maaf yo, lepasin tangan aku aku mau pulang..”
Kulihat wajah rio yang mulai melemah, entahlah dari mana keberanian ini
tiba-tiba saja aku mengucapkan semua itu.. rio maaf tapi ini harus aku
lakuin semoga kamu mengerti yo.. untuk kamu semoga kamu benar-benar
berubah..
“Fy.. oke aku terima semua itu fy.. tapi harus kamu tau aku..”
“Stoop yo.. aku mau pulang..”
Ku tinggalkan rio, ku dengar dia melanjutkan kata-katanya yang ku potong tadi dengan suara lantangnya..
“Ify aku sayang kamu fy.. ku mohon beri aku kesempatan…”
—
Setelah sekian lama baru ku menyadari..
mengapa ku selalu menahan rasa sakit ku..
ingin ku hapus saja semua, semua dendam ini tapi rasa tak mungkin lagi..
biar kan ku pergi karena aku tak sanggup lagi mengingat semua kenangan dulu di saat engkau menyakiti ku..
mengapa semua terjadi disaat kau mulai menyadari semua kesalahnanmu padaku …
tapi ku tak sanggup lagi…
# rosa_tak sanggup lagi
—
Cinta sesuatu yang indah bila kita saling mengerti, saling menghargai..
Coba lah mengahargai betapa berharganya suatu nilai dari sekeping hati..
Cerpen Karangan: Sulestiyana RH
Rabu, 02 April 2014
Maaf
- Maya -
“maaf” ujarnya dengan raut wajah yang sangat bersalah.
Aku menatap wajahnya. Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah tadi pagi mereka saling tertawa. Ada apa dengan Ika mengapa dia hanya diam saja tanpa mengeluarkan secuil kata untuk menjawab ujaran Ayas.
“ayo pergi May!” Ajak Ika kepadaku.
“tapi kau belum menjawab maafnya”
“sudahlah! Ayo pergi!”
Ika menarik tanganku dan meninggalkan Ayas sendiri di ruang kelas. Setahuku Ayas anak yang lucu dan menyenangkan setiap kesalahan yang Ayas buat selalu membuat kami tertawa. Sebenarnya ada masalah apa antara Ayas dengan Ika bukankah mereka teman baik.
“Ika memangnya ada masalah apa sih sama Ayas?” tanyaku.
Ika hanya diam dan memainkan flashdisk yang ada di tangannya. Seperti memikirkan sesuatu. Seperti kebingungan. Seperti ada keraguan. Namun apa? Aku tidak bisa membaca hatinya lewat raut muka Ika.
“Ah! Gerbang sekolah sudah dibuka, aku pulang dulu ya, dah!!” ujar Ika padaku.
Hari ini Ika begitu senang ketika ia tidak pulang bersama Ayas. Hatiku penuh keheranan karena sikap mereka berdua. Mungkin ini tidak baik karena aku ingin mengetahui urusan orang lain, tapi aku sebagai teman tidak bisa diam saja.
“Maya” Ayas memanggil sembari berjalan menghampiriku.
“lo? Kok belum pulang?” ujarku.
Ayas tidak menjawab ujaranku. Ia hanya tersenyum manis dan duduk di sampingku. Melihatnya dengan raut wajah seperti ini aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ayas. Aku tak bisa berkata apa apa untuk menghibur Ayas dan yang ada di pikiranku saat ini ialah aku ingin bertanya kenapa Ayas dan Ika bertengkar.
“sebenarnya ada apa tadi? Kenapa kau meminta maaf pada Ika?”
Aku menatapnya kembali. Wajah manisnya mulai memerah. Mata indahnya mulai berkilau dan berkaca-kaca. “jangan menangis” gumamku.
“Aku… aku telah membuatnya marah” jawabnya yang terbata bata.
Mungkin ia sudah tak bisa membendung air matanya sehingga butiran air mata menetes dan mengalir di pipinya yang manis itu. seharusnya aku tidak menanyakannya saat ini. Kebodohan apa yang merasuk pada tubuhku sehingga Ayas semakin sedih.
“ia salah paham padaku”
“awalnya aku hanya bercanda, setelah itu aku tersenyum padanya tiba-tiba ia langsung meninggalkanku dengan wajah benci yang ditunjukkan” Jelas Ayas.
Aku tidak bisa membantunya. Apa yang harus aku lakukan? Sehingga mereka bisa saling tertawa kembali.
- Ayas -
Bagaimana caraku agar Ika bisa memaafkanku. Dia begitu marah, mungkinkah ia mulai membenciku? Ataukah ia sengaja seperti ini agar aku tidak bergantung padanya?. Tetapi kurasa bukan itu kesalahanku, lalu. Lalu apa kesalahanku?.
Aku terus memikirkan Ika. Aku tahu Ika adalah anak yang sensitif tetapi untuk tadi pagi aku benar benar tidak sengaja.
“jangan dekati aku lagi!!”
Aku menerima Email dari Ika. Ia benar benar membenciku. Aku telah membuat kesalahan yang fatal. Aku telah melukai hati seorang teman, bahkan dia adalah teman baik untukku. Kenapa semuanya jadi begini. Ya Allah tolong aku.
“maaf, aku tadi nggak bermaksud seperti itu, kumohon maafkan aku Ika”
Aku membelah sepi di kamarku dengan tangis. Apa yang harus aku katakan lagi pada Ika agar dia memaafkanku. Aku tak ingin dibenci oleh teman baikku. Aku menyayangi Ika. Sungguh.
- Maya -
“pagi Ayas” sapaku.
“pagi juga May”
Ika belum datang. Aku duduk di samping Ayas sambil menemaninya membaca Novel yang baru ia beli. Selama 3 minggu Ika dan Ayas belum bisa tertawa bersama. Seperti yang aku lihat sekarang, Ayas menjadi anak yang pendiam sedangkan Ika. Ia menjadi anak yang judes. Aku tak tahu harus membela Ayas atau Ika.
Hari ini pembagian hasil ulangan harian untuk 18 mata pelajaran. Aku sudah tak sabar ingin melihat nilaiku. Ayas yang duduk di depanku ia masih membaca buku novelnya sambil mendengarkan ucapan wali kelas kami di depan. Ika tersenyum senang.
“Waaahh..” girang Ika.
“Ika! Ika! Aku lihat! Aku lihat!” ujarku sambil berjalan ke arah Ika duduk.
Awalnya Ika berada di sebelah Ayas. Tetapi saat kejadian itu Ika menjauh dari Ayas. Saat ini Ika tak mempedulikan Ayas lagi. Ia sangat bangga dengan nilai yang ia dapatkan. Ada 1 untuk nilai 10, 9 untuk nilai 9, 5 untuk nilai 8, dan 3 untuk nilai 7. Di kelas Ika terkenal dengan kepintaranya. Ia sangat rajin dalam mengerjakan tugas dan sangat aktif dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan. Disamping itu Ayas juga ikut senang. Walaupun ia dibenci oleh Ika tetapi dia tetap senang jika Ika merasakan kegembiraan.
“Ayas” ujar wali kelas.
Aku melihat nilai yang didapatkan Ayas. Tidak aku sangka. 2 untuk nilai 10, 12 untuk nilai 9 dan 4 untuk nilai 8. Kali ini Ayas bisa mengalahkan Ika sejauh ini. benar benar mengagumkan. Ika yang memandang sinis Ayas karena nilai yang ia dapatkan tak sebanding dengan Ayas. Wajah Ika menunjukkan bahwa Ika semakin membenci Ayas. Ayas di tempat duduknya hanya menunduk sambil melanjutkan membaca novelnya. Aku memegang hasil milik Ayas.
- Ika -
Aku membencinya. Aku sangat membencinya. Sebenarnya aku membencinya bukan karena kata-kata yang ia ujarkan padaku 3 minggu yang lalu. Aku membencinya karena akhir akhir ini nilai ku dikalahkan dengannya. Aku iri padanya. Sekarang aku harus bisa agar Ayas tak lagi mendapatkan nilai semudah itu.
“aku harus melakukan sesuatu” gumamku.
- Ika -
Ting tong…
Bel pulang berbunyi. Kami satu kelas bersalam dan keluar untuk pulang. Sebelumnya Aku dan Ayas masih ke ruang guru untuk mengantarkan spidol papan. Aku tidak tahu Ika sudah pulang atau belum. Tetapi entahlah sekarang ia terlihat sombong.
“nilaimu mengagumkan loh!” ujarku.
“benarkah? Aku juga tak menyangka, karena baru kali ini aku mendapatkan nilai sebagus ini dengan usahaku sendiri” jelas Ayas.
Ia tersenyum manis menatapku sambil berjalan keluar sekolah. Saat kami mulai memandang ke depan, dari belakang Ika berlari dan mendorong Ayas hingga terjatuh. Di depan gerbang sekolah Ika tertawa jahat sambil memandang Ayas.
“Ika! Kenapa sih kamu! Kalau gak suka sama Ayas gak usah begini dong!”
Aku mulai muak dengan tingkah Ika yang keterlaluan. Aku mebentak bentak Ika. Tetapi Ika masih saja memasang wajah jahat pada Ayas.
“sudahlah May, aku tidak apa apa” ujar lembut dari Ayas.
“Hm! May kamu pulang sama Ayas atau sama aku? Kalau kamu pulang sama Ayas ya gak apa apa” ujar Ika padaku.
Ika langsung membalikkan badannya dan berlari menyeberangi jalan raya yang cukup bahaya itu. Ika tak menoleh kanan kiri namun ia langsung berlari. Belum sampai di seberang jalan.
“…”
Aku melihat Ika yang berteriak di tengah jalan raya yang lebar itu. waktu seakan berhenti. Semuanya diam membeku. Berdiri terpaku. Seperti tak bisa bernafas dan membatu.
“Ika!!” Ucap Ayas.
Waktu benar benar berhenti. Benar benar membatu. Benar benar sunyi. Semua diam dan memandangnya. Ika yang terjatuh di depanku dan Ayas yang terpelanting jauh di tengah jalan.
“A-Ayaaas!!!” teriakku.
Aku menyesal tak sempat menghentikan Ayas yang berlari ke arah Ika. Ika perlahan dan berdiri sambil membersihkan tubuhnya karena debu.
“aku hampir mati” ucap Ika pelan.
Perlahan aku menoleh ke arah Ika. Tak peduli seberapa banyak air menetes dari mataku.
“Ika! Kau kejam! Sekarang kau lihat sendiri kan?! Ayas masih menyayangimu! Tapi kenapa kau malah menambah kebencianmu padanya! Kau ini manusia atau iblis sih!” Aku mebentak bentak Ika di hadapan guru guru dan teman sekelasku.
“apa maksudmu! Bukankah Ay-”
Ika langsung berhenti berbicara. Ia melihat jalan raya yang di depanya penuh darah yang mengalir. Ia melihat Ayas yang digendong oleh Raka ke tepi jalan. Pandangan Ika berubah. Pupil matanya mengecil.
“Ayas” ucap Ika pelan.
Aku berhenti menatap mata Ika dan mengakihkan pandanganku. Ika berjalan melewatiku dan berlari ke arah Ayas yang ada di pangkuan Raka. Raka adalah kekasih Ayas selama 2 tahun yang lalu. Raka menangis rintih ditatapan Ayas. Ia memegang tangan Ayas.
“Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!”
Raka berusaha menyemangati Ayas agar ia tetap bertahan sampai tim dari Rumah Sakit datang. Aku tak melihat Ika lagi. Entah bagaimana ekspresinya aku tidak tahu. Ayas dengan penuh darah di tubuhnya ia terlihat sangat kesakitan.
“I-Ika maafkan aku” ujar Ayas yang terbata bata.
“aku memaafkanmu, aku memaafkanmu! Ayas maaf, maaf aku sudah membencimu” ujar Ika.
“eem” Ayas menggelengkan kepalanya.
“tak apa kau membenciku, terima kasih sudah memaafkanku” ujar Ayas kembali.
Melihat Ayas dengan keadaan seperti ini. aku tidak tahu harus berbuat apa. Tim dari RS belum datang juga. Di dalam hatiku aku berdoa agar Ayas bisa bertahan. Ika mengakui kesalahannya dan memegang tangan kanan Ayas. Ika menangis. Wajahnya merah padam. Entah apa yang ia tahan. Tetapi sepertinya ia sangat menyesal dengan sikapnya.
“Ika, Aku menyayangimu, kau adalah teman baikku, terima kasih sudah menjadi temanku” lanjut Ayas berbicara.
Ayas tersenyum manis pada Ika sembari menahan rasa sakit yang ia rasakan. Aku dan Raka semakin tak bisa membendung air mata lagi. Begitu derasnya air mata yang keluar dari mataku dan mata Raka.
“Ayas.. Aku..” ujar Ika ragu.
“Ika gak usah merasa bersalah, aku berterima kasih untuk Ika”
Tangannya terjatuh. Senyumnya menghilang. Matanya menutup perlahan.
“Ayaaas!!!” jerit Aku,Raka dan Ika.
Kini, Ayas telah pergi. Mungkin tak ada yang disalahkan. Namun penyesalan ada di hati Ika. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Ika. Yang aku tahu adalah Ika menyesal dengan perbuatannya sebelum kejadian ini. Aku memeluk erat Ayas. Begitu juga Raka, ia sangat kehilangan seseorang yang ia sayangi.
- Ika -
Kebodohan apa yang membalut tubuhku selama ini. aku kehilangan seorang teman yang tak pernah membenciku. Senyum indahnya. kegembiraannya. sekarang hanya ada di bayanganku.
“Ika! Lihatlah bunga ini, indah ya”
Suaranya terdengar kembali. Aku harus berbuat apa sekarang. Tanpa Ayas semuanya terasa hampa.
“Ayas maafkan aku”
Aku menangis sembari memeluk tubuh Ayas dengan erat. Tubuhnya semakin dingin. Aku tak peduli
“Ayas maafkan aku”
— END —
Cerpen Karangan: Indri Triyas Merliana
“maaf” ujarnya dengan raut wajah yang sangat bersalah.
Aku menatap wajahnya. Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah tadi pagi mereka saling tertawa. Ada apa dengan Ika mengapa dia hanya diam saja tanpa mengeluarkan secuil kata untuk menjawab ujaran Ayas.
“ayo pergi May!” Ajak Ika kepadaku.
“tapi kau belum menjawab maafnya”
“sudahlah! Ayo pergi!”
Ika menarik tanganku dan meninggalkan Ayas sendiri di ruang kelas. Setahuku Ayas anak yang lucu dan menyenangkan setiap kesalahan yang Ayas buat selalu membuat kami tertawa. Sebenarnya ada masalah apa antara Ayas dengan Ika bukankah mereka teman baik.
“Ika memangnya ada masalah apa sih sama Ayas?” tanyaku.
Ika hanya diam dan memainkan flashdisk yang ada di tangannya. Seperti memikirkan sesuatu. Seperti kebingungan. Seperti ada keraguan. Namun apa? Aku tidak bisa membaca hatinya lewat raut muka Ika.
“Ah! Gerbang sekolah sudah dibuka, aku pulang dulu ya, dah!!” ujar Ika padaku.
Hari ini Ika begitu senang ketika ia tidak pulang bersama Ayas. Hatiku penuh keheranan karena sikap mereka berdua. Mungkin ini tidak baik karena aku ingin mengetahui urusan orang lain, tapi aku sebagai teman tidak bisa diam saja.
“Maya” Ayas memanggil sembari berjalan menghampiriku.
“lo? Kok belum pulang?” ujarku.
Ayas tidak menjawab ujaranku. Ia hanya tersenyum manis dan duduk di sampingku. Melihatnya dengan raut wajah seperti ini aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ayas. Aku tak bisa berkata apa apa untuk menghibur Ayas dan yang ada di pikiranku saat ini ialah aku ingin bertanya kenapa Ayas dan Ika bertengkar.
“sebenarnya ada apa tadi? Kenapa kau meminta maaf pada Ika?”
Aku menatapnya kembali. Wajah manisnya mulai memerah. Mata indahnya mulai berkilau dan berkaca-kaca. “jangan menangis” gumamku.
“Aku… aku telah membuatnya marah” jawabnya yang terbata bata.
Mungkin ia sudah tak bisa membendung air matanya sehingga butiran air mata menetes dan mengalir di pipinya yang manis itu. seharusnya aku tidak menanyakannya saat ini. Kebodohan apa yang merasuk pada tubuhku sehingga Ayas semakin sedih.
“ia salah paham padaku”
“awalnya aku hanya bercanda, setelah itu aku tersenyum padanya tiba-tiba ia langsung meninggalkanku dengan wajah benci yang ditunjukkan” Jelas Ayas.
Aku tidak bisa membantunya. Apa yang harus aku lakukan? Sehingga mereka bisa saling tertawa kembali.
- Ayas -
Bagaimana caraku agar Ika bisa memaafkanku. Dia begitu marah, mungkinkah ia mulai membenciku? Ataukah ia sengaja seperti ini agar aku tidak bergantung padanya?. Tetapi kurasa bukan itu kesalahanku, lalu. Lalu apa kesalahanku?.
Aku terus memikirkan Ika. Aku tahu Ika adalah anak yang sensitif tetapi untuk tadi pagi aku benar benar tidak sengaja.
“jangan dekati aku lagi!!”
Aku menerima Email dari Ika. Ia benar benar membenciku. Aku telah membuat kesalahan yang fatal. Aku telah melukai hati seorang teman, bahkan dia adalah teman baik untukku. Kenapa semuanya jadi begini. Ya Allah tolong aku.
“maaf, aku tadi nggak bermaksud seperti itu, kumohon maafkan aku Ika”
Aku membelah sepi di kamarku dengan tangis. Apa yang harus aku katakan lagi pada Ika agar dia memaafkanku. Aku tak ingin dibenci oleh teman baikku. Aku menyayangi Ika. Sungguh.
- Maya -
“pagi Ayas” sapaku.
“pagi juga May”
Ika belum datang. Aku duduk di samping Ayas sambil menemaninya membaca Novel yang baru ia beli. Selama 3 minggu Ika dan Ayas belum bisa tertawa bersama. Seperti yang aku lihat sekarang, Ayas menjadi anak yang pendiam sedangkan Ika. Ia menjadi anak yang judes. Aku tak tahu harus membela Ayas atau Ika.
Hari ini pembagian hasil ulangan harian untuk 18 mata pelajaran. Aku sudah tak sabar ingin melihat nilaiku. Ayas yang duduk di depanku ia masih membaca buku novelnya sambil mendengarkan ucapan wali kelas kami di depan. Ika tersenyum senang.
“Waaahh..” girang Ika.
“Ika! Ika! Aku lihat! Aku lihat!” ujarku sambil berjalan ke arah Ika duduk.
Awalnya Ika berada di sebelah Ayas. Tetapi saat kejadian itu Ika menjauh dari Ayas. Saat ini Ika tak mempedulikan Ayas lagi. Ia sangat bangga dengan nilai yang ia dapatkan. Ada 1 untuk nilai 10, 9 untuk nilai 9, 5 untuk nilai 8, dan 3 untuk nilai 7. Di kelas Ika terkenal dengan kepintaranya. Ia sangat rajin dalam mengerjakan tugas dan sangat aktif dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan. Disamping itu Ayas juga ikut senang. Walaupun ia dibenci oleh Ika tetapi dia tetap senang jika Ika merasakan kegembiraan.
“Ayas” ujar wali kelas.
Aku melihat nilai yang didapatkan Ayas. Tidak aku sangka. 2 untuk nilai 10, 12 untuk nilai 9 dan 4 untuk nilai 8. Kali ini Ayas bisa mengalahkan Ika sejauh ini. benar benar mengagumkan. Ika yang memandang sinis Ayas karena nilai yang ia dapatkan tak sebanding dengan Ayas. Wajah Ika menunjukkan bahwa Ika semakin membenci Ayas. Ayas di tempat duduknya hanya menunduk sambil melanjutkan membaca novelnya. Aku memegang hasil milik Ayas.
- Ika -
Aku membencinya. Aku sangat membencinya. Sebenarnya aku membencinya bukan karena kata-kata yang ia ujarkan padaku 3 minggu yang lalu. Aku membencinya karena akhir akhir ini nilai ku dikalahkan dengannya. Aku iri padanya. Sekarang aku harus bisa agar Ayas tak lagi mendapatkan nilai semudah itu.
“aku harus melakukan sesuatu” gumamku.
- Ika -
Ting tong…
Bel pulang berbunyi. Kami satu kelas bersalam dan keluar untuk pulang. Sebelumnya Aku dan Ayas masih ke ruang guru untuk mengantarkan spidol papan. Aku tidak tahu Ika sudah pulang atau belum. Tetapi entahlah sekarang ia terlihat sombong.
“nilaimu mengagumkan loh!” ujarku.
“benarkah? Aku juga tak menyangka, karena baru kali ini aku mendapatkan nilai sebagus ini dengan usahaku sendiri” jelas Ayas.
Ia tersenyum manis menatapku sambil berjalan keluar sekolah. Saat kami mulai memandang ke depan, dari belakang Ika berlari dan mendorong Ayas hingga terjatuh. Di depan gerbang sekolah Ika tertawa jahat sambil memandang Ayas.
“Ika! Kenapa sih kamu! Kalau gak suka sama Ayas gak usah begini dong!”
Aku mulai muak dengan tingkah Ika yang keterlaluan. Aku mebentak bentak Ika. Tetapi Ika masih saja memasang wajah jahat pada Ayas.
“sudahlah May, aku tidak apa apa” ujar lembut dari Ayas.
“Hm! May kamu pulang sama Ayas atau sama aku? Kalau kamu pulang sama Ayas ya gak apa apa” ujar Ika padaku.
Ika langsung membalikkan badannya dan berlari menyeberangi jalan raya yang cukup bahaya itu. Ika tak menoleh kanan kiri namun ia langsung berlari. Belum sampai di seberang jalan.
“…”
Aku melihat Ika yang berteriak di tengah jalan raya yang lebar itu. waktu seakan berhenti. Semuanya diam membeku. Berdiri terpaku. Seperti tak bisa bernafas dan membatu.
“Ika!!” Ucap Ayas.
Waktu benar benar berhenti. Benar benar membatu. Benar benar sunyi. Semua diam dan memandangnya. Ika yang terjatuh di depanku dan Ayas yang terpelanting jauh di tengah jalan.
“A-Ayaaas!!!” teriakku.
Aku menyesal tak sempat menghentikan Ayas yang berlari ke arah Ika. Ika perlahan dan berdiri sambil membersihkan tubuhnya karena debu.
“aku hampir mati” ucap Ika pelan.
Perlahan aku menoleh ke arah Ika. Tak peduli seberapa banyak air menetes dari mataku.
“Ika! Kau kejam! Sekarang kau lihat sendiri kan?! Ayas masih menyayangimu! Tapi kenapa kau malah menambah kebencianmu padanya! Kau ini manusia atau iblis sih!” Aku mebentak bentak Ika di hadapan guru guru dan teman sekelasku.
“apa maksudmu! Bukankah Ay-”
Ika langsung berhenti berbicara. Ia melihat jalan raya yang di depanya penuh darah yang mengalir. Ia melihat Ayas yang digendong oleh Raka ke tepi jalan. Pandangan Ika berubah. Pupil matanya mengecil.
“Ayas” ucap Ika pelan.
Aku berhenti menatap mata Ika dan mengakihkan pandanganku. Ika berjalan melewatiku dan berlari ke arah Ayas yang ada di pangkuan Raka. Raka adalah kekasih Ayas selama 2 tahun yang lalu. Raka menangis rintih ditatapan Ayas. Ia memegang tangan Ayas.
“Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!”
Raka berusaha menyemangati Ayas agar ia tetap bertahan sampai tim dari Rumah Sakit datang. Aku tak melihat Ika lagi. Entah bagaimana ekspresinya aku tidak tahu. Ayas dengan penuh darah di tubuhnya ia terlihat sangat kesakitan.
“I-Ika maafkan aku” ujar Ayas yang terbata bata.
“aku memaafkanmu, aku memaafkanmu! Ayas maaf, maaf aku sudah membencimu” ujar Ika.
“eem” Ayas menggelengkan kepalanya.
“tak apa kau membenciku, terima kasih sudah memaafkanku” ujar Ayas kembali.
Melihat Ayas dengan keadaan seperti ini. aku tidak tahu harus berbuat apa. Tim dari RS belum datang juga. Di dalam hatiku aku berdoa agar Ayas bisa bertahan. Ika mengakui kesalahannya dan memegang tangan kanan Ayas. Ika menangis. Wajahnya merah padam. Entah apa yang ia tahan. Tetapi sepertinya ia sangat menyesal dengan sikapnya.
“Ika, Aku menyayangimu, kau adalah teman baikku, terima kasih sudah menjadi temanku” lanjut Ayas berbicara.
Ayas tersenyum manis pada Ika sembari menahan rasa sakit yang ia rasakan. Aku dan Raka semakin tak bisa membendung air mata lagi. Begitu derasnya air mata yang keluar dari mataku dan mata Raka.
“Ayas.. Aku..” ujar Ika ragu.
“Ika gak usah merasa bersalah, aku berterima kasih untuk Ika”
Tangannya terjatuh. Senyumnya menghilang. Matanya menutup perlahan.
“Ayaaas!!!” jerit Aku,Raka dan Ika.
Kini, Ayas telah pergi. Mungkin tak ada yang disalahkan. Namun penyesalan ada di hati Ika. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Ika. Yang aku tahu adalah Ika menyesal dengan perbuatannya sebelum kejadian ini. Aku memeluk erat Ayas. Begitu juga Raka, ia sangat kehilangan seseorang yang ia sayangi.
- Ika -
Kebodohan apa yang membalut tubuhku selama ini. aku kehilangan seorang teman yang tak pernah membenciku. Senyum indahnya. kegembiraannya. sekarang hanya ada di bayanganku.
“Ika! Lihatlah bunga ini, indah ya”
Suaranya terdengar kembali. Aku harus berbuat apa sekarang. Tanpa Ayas semuanya terasa hampa.
“Ayas maafkan aku”
Aku menangis sembari memeluk tubuh Ayas dengan erat. Tubuhnya semakin dingin. Aku tak peduli
“Ayas maafkan aku”
— END —
Cerpen Karangan: Indri Triyas Merliana
I’m Sorry
Aku adalah seorang superstar yang sedang naik daun. Namaku Aldy
saputra Septiansyah, nama“septiansyah” di ambil dari nama ayahku. Aku
memiliki seorang sahabat, namanya Denies Firdaus. Dia juga seorang
superstar sepertiku, dan kami akan pergi tour bersama. Selain memiliki
sahabat aku juga memiliki keluarga, aku punya seorang ibu yang sangat
aku sayangi dan pastinya aku memiliki seorang ayah tapi dia sudah tiada.
Aku juga memiliki seorang adik bernama Fivi Hesviansyah, nama belakang
dia juga di ambil dari nama ayah yaitu “Syah” dan kalian bisa
memanggilnya “Fivi”.
Jujur aku begitu membenci adikku. Aku membencinya karena dia ayah pergi untuk selamanya. Kesalahan yang fatal itu terjadi 11 tahun yang lalu, saat aku berumur 6 tahun dan dia berumur 4 tahun. Sewaktu itu aku dan keluarga pergi berlibur, dalam perjalanan kita salalu bercanda tapi tiba-tiba Fivi meminta ada di pangkuan ayah sedangkan waktu itu ayah sedang mengendarai mobil, Fivi menangis saat ayah tidak menerutinya namun karena ayah tidak tega melihat Fivi menangis akhirnya ayah menurutinya. Saat ayah hendak mengambil Fivi dari pangkuan ibu, ayah tidak menghentikan mobilnya terlebih dahulu hingga akhirnya “Bruuuught” mobil kami menabrak sebuah truk bermuatan pasir. Kami semua dilarikan ke rumah sakit. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit ayah sudah terlebih dahulu meninggalkan kami.
Sejak kejadian itulah aku membenci adikku. Andai saja Fivi tidak meminta untuk ada di pangkuan ayah pasti ayah masih ada disini. Aku pernah kembali seperti dulu, kembali menyayangi adikku saat aku lupa ingatan namun itu hanya sesaat saat aku mengingat kembali kejadian yang ayah alami aku kembali membencinya. Ya, ingatanku sempat menghilang karena aku pernah kecelakaan 2 tahun yang lalu, kecelakaan itulah yang membuat ingatan ku hilang namun setelah 1 bulan aku keluar dari rumah sakit ingatanku pulih kembali.
Aku tidak suka jika aku bersama dengan Fivi, namun ibu selalu menyuruh ku untuk bersamanya. Bahkan saat aku akan tour pun ibu menyuruhku mengajak Fivi.
“Aldy.. saat kau tour nanti kamu ajak Fivi ya..!” kata ibu.
“Jika ibu ikut aku mau mengajaknya” jawabku.
“Ibu tidak bisa ikut karena ibu masih banyak pekerjaan” tolak ibu.
“Kalau begitu aku tidak mau mengajaknya”
“Kalau begitu ibu juga tidak akan mengizinkan kamu pergi tour”
“Jika aku tidak pergi tour begaimana dengan album ku dan konserku di Australia dan beberpa Negara lainya”
“Masalah album kau jual saja pada artis lain dan masalah konser kau batalkan saja”
“Tidak bisa seperti itu bu, semua orang sudah tau tentang album dan tour ku jika semua di batalkan maka fans-fans ku akan kecewa..!”
“Tapi ibu akan lebih kecewa dari fans-fans mu jika kamu tidak mengajak adikmu” ancam ibu sambil berjalan meninggalkan ku.
(Jadwal keberangkatanpun tiba)
Hari ini waktunya aku berangkat tour, negara pertama yang akan ku kunjungi adalah Australia. Soal Fivi, aku terpaksa mengajaknya karena aku tidak mau mengecewakan ibuku. Dan pastinya Denies juga ikut karena kami akan konser bersama. Setelah sampai di Australia aku, Denies, Fivi dan para crew langsung ke tempat penginapan. Kami tidak melakukan aktifitas apa-apa hari ini karena besok pagi aku akan melakukan show, jadwal show ku berbeda dengan Denies. Kami hanya akan tampil bersama saat konser saja.
(Keesokkan harinya)
Pagi ini aku akan berangkat show tapi aku tidak mau mengajak Fivi, karena aku sedang malas bersamanya. Biarkan saja dia bersama Denies di sini.
“Fivi… Aku akan berangkat show tapi kau di sini saja, tidak usah ikut..!” Kataku kepada Fivi dengan sinis.
“Lalu aku bersama siapa disini kak..?” tanya Fivi.
“Bersama Denies saja..!”
Denies yang mendengarnya pun angkat bicara.
“Eh.. Aku juga ikut dengan kau..!” kata Denies.
“Kau tidak usah ikut..! kau jaga adik ku saja..!”
“Tumben kau perhatian dengan adik mu..?”
“Aku tidak bermaksud perhatian dengannya tapi karena aku malas bersamanya.”
“Oh.. Masa sih..?”
“Sudahlah.. kau ini berisik sekali..! Pokoknya kau harus disini..! Besok giliran kauyang show jadi kau di sini saja agar tidak kelelahan.”
“Woow.. Pangeran Septiansyah sedang baik hati, hahaha…” canda Denies.
“Huh.. Mengapa hari ini kau begitu menyebalkan..?” Kesalku.
“Karena hari ini kau begitu baik.. haha…”
“Terserah apa kata mu.!”
“Ooow… Pangeran Septiansyah marah..!!”
“Stop Denies..!! Berhenti bercanda..!” Sentak ku kepada Denies.
“Ups.. Pangeran Septiansyah ngamuk, lebih baik aku Kabuuurrr..!!” Kata Denies yang masih bercanda sambil berlari namun sebelum dia berlari terlalu jauh aku teriak “Deniiieeess… Aku marah padamu.!”
Denies pun berhenti berlari dan berkata “Marah kok bilang-bilang..?”
“Terserah apa katamu.. Intinya kau harus tetap di sini Denies!” Tegasku.
“Baiklah” Jawab Denies pasrah.
Sebenarnya Denies ingin ikut karena dia bosan di sini tapi biarkan sajalah, Toh.. di sini juga ada tv. Tadi Denies ke kamar Fivi dan ternyata Fivi sedang tidur. Denies berkata dalam hatinya “dia cantik juga jika sedang tidur. Tapi aku bingung mengapa Aldy begitu membencinya padahal hanya satu kesalahan yang Fivi lakukan, memang sih kesalahan Fivi itu sangat fatal hingga merebut nyawa ayahnya tapi itu juga takdir. Aku sudah tau semua tentang keluarga Septiansyah, sungguh miris kisah hidup seorang adik yang di tinggalkan oleh ayahnya lalu di benci oleh kakaknya. Fivi sempat curhat kepadaku, dia berkata bahwa dia menyesal telah melakukan kesalahan itu, dan dia juga sangat sayang kepada kakaknya walaupun kakanya sangat membencinya. Andai aku ada di posisi Aldy, aku tidak akan pernah membenci adikku sekalipun karena aku sadar semua itu adalah takdir. Hati Aldy sangat tertutup untuk Fivi, Bahkan tidak ada setetes kasih sayang yang Aldy berikan kepada adiknya. Aku sangat kasihan melihat Fivi seperti ini, Rasanya aku ingin menukar posisiku dengan Aldy agar aku dapat memberikan kasih sayang yang penuh untuk Fivi”. Melihat Fivi tertidur pulas membuat Denies mengantuk, dari pada dia bosan lebih baik dia tidur juga.
Fivi pun terbangun dari tidurnya, dan ternyata dia tidur lebih dari 2 jam. Fivi melihat Denies sedang tidur di kamarnya, padahal Fivi ingin minta antar membeli kado untuk ku karena besok saat tanggal 16 Agustus aku ulang tahun yang ke 17 tahun. Namun melihat Denies yang tidur dengan nyenyaknya membuat Fivi tak tega jika harus membangunkanya. Dia merasa bahwa dia lebih baik membeli kadonya sendiri, walaupun dia tak tau jalan tapi dia bisa berbahasa inggris dengan benar jadi jika dia lupa jalannya dia bisa bertanya kepada orang-orang disini.
Saat Fivi sedang mencari kadonya dia melihat kotak musik yang jika di buka akan muncul boneka kecil berbentuk manusia dan manusia itu adalah sepasang adik kakak. Kotak musik itu juga mengeluarkan alunan musik yang indah, dia benar-benar jatuh cinta dengan kotak musik itu dan kotak musik itulah yang akan dia jadikan kado. Setelah dia mendapatkan kadonya dia pergi ke taman dulu untuk bersantai sambil menulis surat untuk dia selipkan di dalam kado itu.
#Saat tetesan air mata mulai mengalir#
Saat Denies terbangun dia tidak melihat Fivi, hingga Denies bingung harus mencari Fivi kemana lagi. Denies kira Fivi menyusul ku, jadi Denies menelponku.
“Apa.?” Tanyaku galak karena aku masih kesal kepadanya soal tadi pagi.
“Kau masih marah denganku karena tadi pagi,,?”
“Tentu saja”
“Kau berlebihan sekali, hanya masalah itu kau marah. Aku kan hanya bercanda”
“Ah sudahlah.. ada apa kau menelponku..?”
“Dimana adik mu..?”
“Kenapa kau menanyakanya padaku..? Bukankah dia bersamamu..?”
“Tadi aku tidur setelah aku bangun aku tak melihatnya, ku bertanya padamu karena ku kira dia menyusulmu. Dan hpnya juga tertinggal”
“Tidak mungkin dia menyusulku karena dia tidak tau di mana aku show”
“Lalu bagaimana..?” tanya Denies.
“Biar aku yang mencarinya.” jawabku.
*Di tempat lain*
Tidak terasa sudah dua jam Fivi di taman itu hingga hari sudah mulai sore, Fivi merasa jika dia harus segera pulang karena dia tidak mau orang-orang mencarinya, apalagi dia pergi tanpa izin kepada siapa-siapa, dan Hpnya ketinggalan. Karena terlalu lama di taman dia jadi lupa jalan, dari tadi dia jalan cuman mute-muter saja. Fivi benar-benar lupa arahnya, dia mencobabertanya orang-orang yang ada di sini.
(dalam bahasa inggris)
“Permisi, boleh saya bertanya?”
“Ya”
“Jalan ke arah Hotel Angel Star di mana ya..?”
“Oh.. jalan nya kearah sana lurus sampai di jalan victoria ada pertigaan terus belok kiri lalu saat ada lampu merah kau belok ke kanan, di situ kau akan sampai di hotel yang kau maksud” jawab orang itu sambil menerangkan.
“Terimakasih”
Setelah Fivi bertanya dia langsung pergi ke arah yang orang itu tunjukan, namun dia malah tersesat lagi. Tapi saat di jalan dia melihat ada salah satu anggota crew dariku di sebrang, dia pun menghampirinya namun saat dia hendak menghampirinya dia malah menabrak seorang anak kecil yang sedang memegang es krim hingga es krimnya terjatuh lalu anak kecil itu pun menangis. karena Fivi tidak tega melihatnya menangis jadi Fivi membelikan anak kecil itu es krim. Dan saat Fivi kembali lagi ke tempat tadi dan salah satu anggota crew itu masih di sana namun saat Fivi akan menyebrang crew itu pergi maka Fivi mempercepat langkahnya hingga tiba-tiba “Bruuught” semua pandangannya menjadi gelap.
*kembali ke diriku*
Setelah aku mendapat telpon dari Denies aku langsung mengendarai mobil yang aku sewa. Aku mengendarainya dengan kecepatan yang tinggi, tiba-tiba ada orang menyebrang tidak melihat kanan kiri, karena aku tidak sempat mengerem akhirnya orang itu tertabrak olehku. Tidak mungkin aku kabur begitu saja, aku harus bertanggung jawab. Saat aku keluar dari mobil ternyata orang yang aku tabrak itu adalah adik ku, Fivi. langsung aku bawa dia ke rumah sakit dan barang-barang yang dia bawa saat itu aku bawa juga. Saat sampai di rumah sakit dia langsung masuk ke ruang UGD, sambil menunggu aku menelpon ibu.
“Hallo bu..” kataku.
“Kebetulan sekali kau menelpon ibu padahal tadi ibu mau menelpon mu tapi kau malah menelpon ibu duluan”
“Iya bu, aku menelpon karena aku ingin memberi kabar”
“kabar apa? di sana kau baik-baik saja kan.?”
“Aku sih baik bu, tapi Fivi..”
“Ada apa dengan Fivi?” Tanya ibu
“Dia kecelakaan bu” jawab ku
Ibu pun kaget “APA…!! Fivi kecelakaan..?”
“ya, dia kecelakaan bu”
“Ya sudah besok pagi ibu kesana, kamu kabari ibu jika ada apa-apa” kata ibu dengan suara panik.
“iya bu..”
Setelah menghubungi ibu aku segera menghubungi Denies dan para crew lainnya, dan mereka bilang bahwa mereka akan segera kesini. Aku melihat ada sebuah kado di dalam tas adikku, ku buka kado itu dan ternyata kado itu ditujukan untukku. Isi dari kado itu adalah sebuah kotak musik, dan di dalamnya juga ada sebuah surat, ku baca surat itu.
Kak..
Happy Birthday ya..
Semoga kakak panjang umur, sehat selalu
dan selalu sukses dalam karir kakak
Karena keberhasilan kakak sekarang adalah kebanggaanku, kebanggaan ibu, dan kebanggaan ayah..
Aku mohon terimalah kado dariku ini..
Kak aku juga minta maaf,
aku tau kakak benci banget sama aku karena aku udah bikin ayah pergi untuk selamanya..
tapi aku juga enggak mau itu semua terjadi..
Andai aku mampu menghentikan waktu dan memundurkannya maka tidak akan pernah aku lakukan hal itu..
Kak aku sangat senang saat dulu kak kembali menyayangiku namun itu hanya sesaat..
Aku senang bukan berarti aku senang kakak hilang ingatan namun aku hanya berharap saat semua ingatan kakak mengingat kembali, kakak tetap menyayangiku namun semua itu berbeda dengan apa yang aku harapkan..
Walau pun kakak benci sama aku tapi aku akan tetap sayang sama kakak..
Seberapapun rasa benci kakak sama aku tapi aku tidak pernah mau kehilangan kakak..
Sekali lagi aku mohon maaf kan aku kak..
Aku sayang kakak..
Fivi..
Seketika itu air matakupun menetes, sungguh aku sangat menyesal telah membenci dia. Aku membencinya tapi dia malah menyayangiku, rasa benciku sangat tinggi hingga aku ingin dia pergi dari kehidupanku tapi dia malah tidak ingin kehilangan aku.
Tiba-tiba dokter yang menangani Fivi keluar dari ruang UGD, aku pun langsung menghampirinya dan menannyakan keadaan Fivi.
“Dok.. bagai mana keadaan adik saya..?”
Dokter menarik nafas lalu menjawab “Hhh… dia tidak tertolong lagi karena benturan di kepalanya sangat keras hingga merusak sistem kerja otaknya lalu darah yang menggalir tidak berhenti sampai dia benar-benar kehabisan darah, dan sepertinya dadanya tepat di paru-paru sempat terbentur sangat keras hingga dia tidak dapat menghirup oksigen” jelas dokter itu.
“Dia sudah tidak terselamatkan..?” tanyaku lirih dengan suara yang melemas.
“ya, kalau begitu saya permisi” kata dokter itu.
Perih, itu yang aku rasakan saat ini. Tetesan air mata ku mengalir semakin deras. Saat itu Denies dan yang lainnya datang, lalu menanyakan keadaan Fivi.
“Bagaimana dengan keadaan Fivi? Apa dia baik-baik saja..?” tanya Denies.
“Tidak.. dia sudah pergi, sungguh aku menyesal telah membencinya. Aku benar-benar kakak yang bodoh, kakak yang jahat” kata ku.
“kau sabar saja! semua itu adalah takdir, kau bukan kakak yang jahat karena kau adalah kebanggaan Fivi” kata salah satu crew yang mencoba menenangkanku.
“Benar kata dia, Fivi pernah bilang kepadaku, bahwa dia sangat bangga dengan keberhasilanmu sekarang, jadi kau harus bikin dia lebih bangga lagi kepadamu walaupun dia sudah tiada tapi dia bisa melihatmu di alam sana” kata Denies.
“Ya, kau benar. Aku harus membuat dia lebih bangga lagi kepadaku, aku tidak mau mengecewakannya” semangatku.
Ibu sudah tau semua, bahkan dia sudah tau bahwa aku yang menabrak Fivi dan ibu bisa memaafkanku karena baginya itu semua adalah takdir yang harus dijalani. Konserku pun di undur karena kejadian ini. Hari ini adalah pemakaman Fivi, sungguh aku sangat rapuh sekarang, aku sedih dan menyesal telah melakukan semua ini. Tapi aku harus tetap semangat untuk menjalaninya. Setiap hari aku selalu membuka kotak musik yang diberikan oleh Fivi walaupun dia tidak memberinya secara langsung, setiap aku membukanya aku selalu mendapatkan semangat baru dalam hidupku..
Fivi, kakak janji kakak akan membahagiakan kamu, ayah dan ibu walaupun kamu, dan ayah sudah tiada. Dan kakak mohon maafkan kakak karena kakak sudah membencimu, sekarang kakak sadar bahwa kepergian ayah bukan salah mu namu kepergian ayah adalah sebuah takdir. Fivi, lihatlah kakak sekarang kakak bahagia kamu sudah bertemu dengan ayah di sana walaupun kakak masih merasa kehilangan. Semoga kamu bahagia disana. Kakak akan selalu menyayangimu walaupun kakak sempat membencimu. Selamat jalan adikku.
Cerpen Karangan: Evi Fitria Hesviana
Jujur aku begitu membenci adikku. Aku membencinya karena dia ayah pergi untuk selamanya. Kesalahan yang fatal itu terjadi 11 tahun yang lalu, saat aku berumur 6 tahun dan dia berumur 4 tahun. Sewaktu itu aku dan keluarga pergi berlibur, dalam perjalanan kita salalu bercanda tapi tiba-tiba Fivi meminta ada di pangkuan ayah sedangkan waktu itu ayah sedang mengendarai mobil, Fivi menangis saat ayah tidak menerutinya namun karena ayah tidak tega melihat Fivi menangis akhirnya ayah menurutinya. Saat ayah hendak mengambil Fivi dari pangkuan ibu, ayah tidak menghentikan mobilnya terlebih dahulu hingga akhirnya “Bruuuught” mobil kami menabrak sebuah truk bermuatan pasir. Kami semua dilarikan ke rumah sakit. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit ayah sudah terlebih dahulu meninggalkan kami.
Sejak kejadian itulah aku membenci adikku. Andai saja Fivi tidak meminta untuk ada di pangkuan ayah pasti ayah masih ada disini. Aku pernah kembali seperti dulu, kembali menyayangi adikku saat aku lupa ingatan namun itu hanya sesaat saat aku mengingat kembali kejadian yang ayah alami aku kembali membencinya. Ya, ingatanku sempat menghilang karena aku pernah kecelakaan 2 tahun yang lalu, kecelakaan itulah yang membuat ingatan ku hilang namun setelah 1 bulan aku keluar dari rumah sakit ingatanku pulih kembali.
Aku tidak suka jika aku bersama dengan Fivi, namun ibu selalu menyuruh ku untuk bersamanya. Bahkan saat aku akan tour pun ibu menyuruhku mengajak Fivi.
“Aldy.. saat kau tour nanti kamu ajak Fivi ya..!” kata ibu.
“Jika ibu ikut aku mau mengajaknya” jawabku.
“Ibu tidak bisa ikut karena ibu masih banyak pekerjaan” tolak ibu.
“Kalau begitu aku tidak mau mengajaknya”
“Kalau begitu ibu juga tidak akan mengizinkan kamu pergi tour”
“Jika aku tidak pergi tour begaimana dengan album ku dan konserku di Australia dan beberpa Negara lainya”
“Masalah album kau jual saja pada artis lain dan masalah konser kau batalkan saja”
“Tidak bisa seperti itu bu, semua orang sudah tau tentang album dan tour ku jika semua di batalkan maka fans-fans ku akan kecewa..!”
“Tapi ibu akan lebih kecewa dari fans-fans mu jika kamu tidak mengajak adikmu” ancam ibu sambil berjalan meninggalkan ku.
(Jadwal keberangkatanpun tiba)
Hari ini waktunya aku berangkat tour, negara pertama yang akan ku kunjungi adalah Australia. Soal Fivi, aku terpaksa mengajaknya karena aku tidak mau mengecewakan ibuku. Dan pastinya Denies juga ikut karena kami akan konser bersama. Setelah sampai di Australia aku, Denies, Fivi dan para crew langsung ke tempat penginapan. Kami tidak melakukan aktifitas apa-apa hari ini karena besok pagi aku akan melakukan show, jadwal show ku berbeda dengan Denies. Kami hanya akan tampil bersama saat konser saja.
(Keesokkan harinya)
Pagi ini aku akan berangkat show tapi aku tidak mau mengajak Fivi, karena aku sedang malas bersamanya. Biarkan saja dia bersama Denies di sini.
“Fivi… Aku akan berangkat show tapi kau di sini saja, tidak usah ikut..!” Kataku kepada Fivi dengan sinis.
“Lalu aku bersama siapa disini kak..?” tanya Fivi.
“Bersama Denies saja..!”
Denies yang mendengarnya pun angkat bicara.
“Eh.. Aku juga ikut dengan kau..!” kata Denies.
“Kau tidak usah ikut..! kau jaga adik ku saja..!”
“Tumben kau perhatian dengan adik mu..?”
“Aku tidak bermaksud perhatian dengannya tapi karena aku malas bersamanya.”
“Oh.. Masa sih..?”
“Sudahlah.. kau ini berisik sekali..! Pokoknya kau harus disini..! Besok giliran kauyang show jadi kau di sini saja agar tidak kelelahan.”
“Woow.. Pangeran Septiansyah sedang baik hati, hahaha…” canda Denies.
“Huh.. Mengapa hari ini kau begitu menyebalkan..?” Kesalku.
“Karena hari ini kau begitu baik.. haha…”
“Terserah apa kata mu.!”
“Ooow… Pangeran Septiansyah marah..!!”
“Stop Denies..!! Berhenti bercanda..!” Sentak ku kepada Denies.
“Ups.. Pangeran Septiansyah ngamuk, lebih baik aku Kabuuurrr..!!” Kata Denies yang masih bercanda sambil berlari namun sebelum dia berlari terlalu jauh aku teriak “Deniiieeess… Aku marah padamu.!”
Denies pun berhenti berlari dan berkata “Marah kok bilang-bilang..?”
“Terserah apa katamu.. Intinya kau harus tetap di sini Denies!” Tegasku.
“Baiklah” Jawab Denies pasrah.
Sebenarnya Denies ingin ikut karena dia bosan di sini tapi biarkan sajalah, Toh.. di sini juga ada tv. Tadi Denies ke kamar Fivi dan ternyata Fivi sedang tidur. Denies berkata dalam hatinya “dia cantik juga jika sedang tidur. Tapi aku bingung mengapa Aldy begitu membencinya padahal hanya satu kesalahan yang Fivi lakukan, memang sih kesalahan Fivi itu sangat fatal hingga merebut nyawa ayahnya tapi itu juga takdir. Aku sudah tau semua tentang keluarga Septiansyah, sungguh miris kisah hidup seorang adik yang di tinggalkan oleh ayahnya lalu di benci oleh kakaknya. Fivi sempat curhat kepadaku, dia berkata bahwa dia menyesal telah melakukan kesalahan itu, dan dia juga sangat sayang kepada kakaknya walaupun kakanya sangat membencinya. Andai aku ada di posisi Aldy, aku tidak akan pernah membenci adikku sekalipun karena aku sadar semua itu adalah takdir. Hati Aldy sangat tertutup untuk Fivi, Bahkan tidak ada setetes kasih sayang yang Aldy berikan kepada adiknya. Aku sangat kasihan melihat Fivi seperti ini, Rasanya aku ingin menukar posisiku dengan Aldy agar aku dapat memberikan kasih sayang yang penuh untuk Fivi”. Melihat Fivi tertidur pulas membuat Denies mengantuk, dari pada dia bosan lebih baik dia tidur juga.
Fivi pun terbangun dari tidurnya, dan ternyata dia tidur lebih dari 2 jam. Fivi melihat Denies sedang tidur di kamarnya, padahal Fivi ingin minta antar membeli kado untuk ku karena besok saat tanggal 16 Agustus aku ulang tahun yang ke 17 tahun. Namun melihat Denies yang tidur dengan nyenyaknya membuat Fivi tak tega jika harus membangunkanya. Dia merasa bahwa dia lebih baik membeli kadonya sendiri, walaupun dia tak tau jalan tapi dia bisa berbahasa inggris dengan benar jadi jika dia lupa jalannya dia bisa bertanya kepada orang-orang disini.
Saat Fivi sedang mencari kadonya dia melihat kotak musik yang jika di buka akan muncul boneka kecil berbentuk manusia dan manusia itu adalah sepasang adik kakak. Kotak musik itu juga mengeluarkan alunan musik yang indah, dia benar-benar jatuh cinta dengan kotak musik itu dan kotak musik itulah yang akan dia jadikan kado. Setelah dia mendapatkan kadonya dia pergi ke taman dulu untuk bersantai sambil menulis surat untuk dia selipkan di dalam kado itu.
#Saat tetesan air mata mulai mengalir#
Saat Denies terbangun dia tidak melihat Fivi, hingga Denies bingung harus mencari Fivi kemana lagi. Denies kira Fivi menyusul ku, jadi Denies menelponku.
“Apa.?” Tanyaku galak karena aku masih kesal kepadanya soal tadi pagi.
“Kau masih marah denganku karena tadi pagi,,?”
“Tentu saja”
“Kau berlebihan sekali, hanya masalah itu kau marah. Aku kan hanya bercanda”
“Ah sudahlah.. ada apa kau menelponku..?”
“Dimana adik mu..?”
“Kenapa kau menanyakanya padaku..? Bukankah dia bersamamu..?”
“Tadi aku tidur setelah aku bangun aku tak melihatnya, ku bertanya padamu karena ku kira dia menyusulmu. Dan hpnya juga tertinggal”
“Tidak mungkin dia menyusulku karena dia tidak tau di mana aku show”
“Lalu bagaimana..?” tanya Denies.
“Biar aku yang mencarinya.” jawabku.
*Di tempat lain*
Tidak terasa sudah dua jam Fivi di taman itu hingga hari sudah mulai sore, Fivi merasa jika dia harus segera pulang karena dia tidak mau orang-orang mencarinya, apalagi dia pergi tanpa izin kepada siapa-siapa, dan Hpnya ketinggalan. Karena terlalu lama di taman dia jadi lupa jalan, dari tadi dia jalan cuman mute-muter saja. Fivi benar-benar lupa arahnya, dia mencobabertanya orang-orang yang ada di sini.
(dalam bahasa inggris)
“Permisi, boleh saya bertanya?”
“Ya”
“Jalan ke arah Hotel Angel Star di mana ya..?”
“Oh.. jalan nya kearah sana lurus sampai di jalan victoria ada pertigaan terus belok kiri lalu saat ada lampu merah kau belok ke kanan, di situ kau akan sampai di hotel yang kau maksud” jawab orang itu sambil menerangkan.
“Terimakasih”
Setelah Fivi bertanya dia langsung pergi ke arah yang orang itu tunjukan, namun dia malah tersesat lagi. Tapi saat di jalan dia melihat ada salah satu anggota crew dariku di sebrang, dia pun menghampirinya namun saat dia hendak menghampirinya dia malah menabrak seorang anak kecil yang sedang memegang es krim hingga es krimnya terjatuh lalu anak kecil itu pun menangis. karena Fivi tidak tega melihatnya menangis jadi Fivi membelikan anak kecil itu es krim. Dan saat Fivi kembali lagi ke tempat tadi dan salah satu anggota crew itu masih di sana namun saat Fivi akan menyebrang crew itu pergi maka Fivi mempercepat langkahnya hingga tiba-tiba “Bruuught” semua pandangannya menjadi gelap.
*kembali ke diriku*
Setelah aku mendapat telpon dari Denies aku langsung mengendarai mobil yang aku sewa. Aku mengendarainya dengan kecepatan yang tinggi, tiba-tiba ada orang menyebrang tidak melihat kanan kiri, karena aku tidak sempat mengerem akhirnya orang itu tertabrak olehku. Tidak mungkin aku kabur begitu saja, aku harus bertanggung jawab. Saat aku keluar dari mobil ternyata orang yang aku tabrak itu adalah adik ku, Fivi. langsung aku bawa dia ke rumah sakit dan barang-barang yang dia bawa saat itu aku bawa juga. Saat sampai di rumah sakit dia langsung masuk ke ruang UGD, sambil menunggu aku menelpon ibu.
“Hallo bu..” kataku.
“Kebetulan sekali kau menelpon ibu padahal tadi ibu mau menelpon mu tapi kau malah menelpon ibu duluan”
“Iya bu, aku menelpon karena aku ingin memberi kabar”
“kabar apa? di sana kau baik-baik saja kan.?”
“Aku sih baik bu, tapi Fivi..”
“Ada apa dengan Fivi?” Tanya ibu
“Dia kecelakaan bu” jawab ku
Ibu pun kaget “APA…!! Fivi kecelakaan..?”
“ya, dia kecelakaan bu”
“Ya sudah besok pagi ibu kesana, kamu kabari ibu jika ada apa-apa” kata ibu dengan suara panik.
“iya bu..”
Setelah menghubungi ibu aku segera menghubungi Denies dan para crew lainnya, dan mereka bilang bahwa mereka akan segera kesini. Aku melihat ada sebuah kado di dalam tas adikku, ku buka kado itu dan ternyata kado itu ditujukan untukku. Isi dari kado itu adalah sebuah kotak musik, dan di dalamnya juga ada sebuah surat, ku baca surat itu.
Kak..
Happy Birthday ya..
Semoga kakak panjang umur, sehat selalu
dan selalu sukses dalam karir kakak
Karena keberhasilan kakak sekarang adalah kebanggaanku, kebanggaan ibu, dan kebanggaan ayah..
Aku mohon terimalah kado dariku ini..
Kak aku juga minta maaf,
aku tau kakak benci banget sama aku karena aku udah bikin ayah pergi untuk selamanya..
tapi aku juga enggak mau itu semua terjadi..
Andai aku mampu menghentikan waktu dan memundurkannya maka tidak akan pernah aku lakukan hal itu..
Kak aku sangat senang saat dulu kak kembali menyayangiku namun itu hanya sesaat..
Aku senang bukan berarti aku senang kakak hilang ingatan namun aku hanya berharap saat semua ingatan kakak mengingat kembali, kakak tetap menyayangiku namun semua itu berbeda dengan apa yang aku harapkan..
Walau pun kakak benci sama aku tapi aku akan tetap sayang sama kakak..
Seberapapun rasa benci kakak sama aku tapi aku tidak pernah mau kehilangan kakak..
Sekali lagi aku mohon maaf kan aku kak..
Aku sayang kakak..
Fivi..
Seketika itu air matakupun menetes, sungguh aku sangat menyesal telah membenci dia. Aku membencinya tapi dia malah menyayangiku, rasa benciku sangat tinggi hingga aku ingin dia pergi dari kehidupanku tapi dia malah tidak ingin kehilangan aku.
Tiba-tiba dokter yang menangani Fivi keluar dari ruang UGD, aku pun langsung menghampirinya dan menannyakan keadaan Fivi.
“Dok.. bagai mana keadaan adik saya..?”
Dokter menarik nafas lalu menjawab “Hhh… dia tidak tertolong lagi karena benturan di kepalanya sangat keras hingga merusak sistem kerja otaknya lalu darah yang menggalir tidak berhenti sampai dia benar-benar kehabisan darah, dan sepertinya dadanya tepat di paru-paru sempat terbentur sangat keras hingga dia tidak dapat menghirup oksigen” jelas dokter itu.
“Dia sudah tidak terselamatkan..?” tanyaku lirih dengan suara yang melemas.
“ya, kalau begitu saya permisi” kata dokter itu.
Perih, itu yang aku rasakan saat ini. Tetesan air mata ku mengalir semakin deras. Saat itu Denies dan yang lainnya datang, lalu menanyakan keadaan Fivi.
“Bagaimana dengan keadaan Fivi? Apa dia baik-baik saja..?” tanya Denies.
“Tidak.. dia sudah pergi, sungguh aku menyesal telah membencinya. Aku benar-benar kakak yang bodoh, kakak yang jahat” kata ku.
“kau sabar saja! semua itu adalah takdir, kau bukan kakak yang jahat karena kau adalah kebanggaan Fivi” kata salah satu crew yang mencoba menenangkanku.
“Benar kata dia, Fivi pernah bilang kepadaku, bahwa dia sangat bangga dengan keberhasilanmu sekarang, jadi kau harus bikin dia lebih bangga lagi kepadamu walaupun dia sudah tiada tapi dia bisa melihatmu di alam sana” kata Denies.
“Ya, kau benar. Aku harus membuat dia lebih bangga lagi kepadaku, aku tidak mau mengecewakannya” semangatku.
Ibu sudah tau semua, bahkan dia sudah tau bahwa aku yang menabrak Fivi dan ibu bisa memaafkanku karena baginya itu semua adalah takdir yang harus dijalani. Konserku pun di undur karena kejadian ini. Hari ini adalah pemakaman Fivi, sungguh aku sangat rapuh sekarang, aku sedih dan menyesal telah melakukan semua ini. Tapi aku harus tetap semangat untuk menjalaninya. Setiap hari aku selalu membuka kotak musik yang diberikan oleh Fivi walaupun dia tidak memberinya secara langsung, setiap aku membukanya aku selalu mendapatkan semangat baru dalam hidupku..
Fivi, kakak janji kakak akan membahagiakan kamu, ayah dan ibu walaupun kamu, dan ayah sudah tiada. Dan kakak mohon maafkan kakak karena kakak sudah membencimu, sekarang kakak sadar bahwa kepergian ayah bukan salah mu namu kepergian ayah adalah sebuah takdir. Fivi, lihatlah kakak sekarang kakak bahagia kamu sudah bertemu dengan ayah di sana walaupun kakak masih merasa kehilangan. Semoga kamu bahagia disana. Kakak akan selalu menyayangimu walaupun kakak sempat membencimu. Selamat jalan adikku.
Cerpen Karangan: Evi Fitria Hesviana
Ku Ingin Dia Tahu
“gue gak suka sama dia yan, gue gak mau dia. gue benci. dia terlalu
ngekang gue” sambil menangis. “yang sabar yah vit, kalau gitu lo putusin
aja dia”. “udah yan, udah tapi dia masih aja nyamperin gue, gue takut!
gue boleh kan minjem pundak lo?”. “oh, boleh kok vit. nangis aja sepuas
lo”.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 wib. matahari pun perlahan mulai tenggelam. “balik yuk, udah sore” ajak vita pada riyan. “hayuuu…”
Malam harinya vita pun sms riyan. “riyan, makasih ya udah mau dengerin curhatan gue, gue seneng banget bisa kenal lo. padahal kan kita baru kenal 4 hari, elo langsung main ke rumah gue. hahaha”
Riyan pun membalas. “oiya vit, sama-sama. gue seneng bisa duduk berdua bareng lo. kalau ada apa-apa cerita ke gue.” “pasti yan”.
Vita dan riyan pun menjalani pertemanan cukup lama. awalnya karana saling kenalan saja. riyan sering main ke rumah vita, biasanya malam hari. dari jam tujuh malam sampai sembilan malam. Setelah 1 bulan lamanya mereka berteman. tiba-tiba…
“ada sms nih.. baca dong”. begitulah nada sms handphone vita..
riyan? “vit, gue sayang sama elo, gue suka sama elo” Vita pun kaget, akhirnya dia memutuskan untuk tidak membalas sms dari riyan.
“vitaaa main yuk”. indah sahabat vita dari kecil mengajak vita main bareng. “eh lo ndah, disini ajah ndah mainnya. gua nggak boleh kemana-mana nih”. seru vita. “ya udah, yang penting kita cerita-cerita.”
“vit, kabar mengejutkan buat lo. masa si riyan ngaku-ngaku pacar elo ke temen-temennya. enggak banget deh! bukan kan vit?” “ih masa? ihh ogah banget, apa_apaan sih riyan tuh nyebelin. gue benci dia!” jawab vita.
Akhirnya vita pun menulis status di facebook, kebetulan riyan pun lagi online. status vita: “ih apa-apaan sih ngaku-ngaku pacar gua. nggak malu tah lo. gua benci sama elo!” menyindir riyan.
Sebelum vita menulis statusnya, status riyan lewat beranda: “gua sayang banget sama elo, gua suka elo. gua sangat menggaggumi elo. haruskah gua pendam perassaan ini (V)”. dan akhirnya vita pun mulai geram melihat status riyan. “kenapa sih si riyan gitu amat, bikin illfeel ihhh”.
Vita adalah sosok cewek yang jutek, cuek dan gak percaya omongan cowok. karena ia merasa trauma disakiti oleh cowok yang dia sayangi. walaupun vita bilang dia membenci riyan, tapi vita tetap berteman baik dengan riyan.
Sms dari riyan: “gua tau sifat elo, lo jutek. walaupun jutek. gua tetep sayang elo”.
Riyan tetap mencintai vita, memendam rasa untuk vita. dia tetap sabar menunggu vita. walawpun banyak cowok yang sering datang ke rumah vita. entah itu pacar, cowok yang suka vita, bahkan teman-teman cowok vita. vita sering mengabaikan sms dari riyan, dan setelah tau riyan suka pada dirinya, vita mulai menjauh dari riyan setiap riyan main ke rumah vita, vita mengurung diri di kamar. karena vita ngak suka riyan, yang bukan tipe vita. riyan selalu ada unuk vita. vita meminta jemput riyan, riyan pun datang.
Terkadang vita sadar, dia salah menuntut orang untuk tidak suka dia jika dia bukan tipe vita. vita sering minta maaf pada riyan, riyan pun memaafkan. tetapi vita tetap dengan sifat juteknya.
Riyan selalu tahu kebiiasaan vita, kalau sms sering dimulai dengan kata “weh”. makaanan kesukaan vita, cerita keluarganya. karana vita selalu curhat sama riyan. semua tentang vita tau, kecuali pacar vita.
Vita sering online facebook, ia melihat dinding riyan. dimana status riyan yang terakhir. yang semua tentang dirinya: “sampai kapan pun gua sayang elo (V),” “i love u (V), elo nggak pantes buat gua, elo terlalu angkuh.” “gua nyerah buat dapetin elo!” inbox terakhir: weh apa kabar lo, gua kangen nih sama elo. vita membalas: “alhamdulillah baik, sekarang elo dimana? gua juga kangen sama elo”.
“gua kerja di tanggerang, gua mau ngumpulin duit buat cewek yang gua suka. gua bakal nyamperin dia nanti kalau gua sukses”. vita pun merasa, akhirnya dia mulai tidak membalas inbox riyan.
Riyan dan vita sudah 2 bulan tidak pernah bertemu. karena vita harus pindah sekolah SMA di jakarta. riyan harus kerja, karana dia putus sekolah di smp.
Beberapa hari setelah dari fb itu riyan inbox, riyan sms lagi. “vit, apa kabar lo disana? gua mau main ke rumah lo. kirimin alamatnya dong”.
Vita mengabaikan sms riyan.
Seminggu setelah riyan sms vita, vita merasa di minggu ini dia gak pernah dapet sms dari riyan. Pas vita di sekolah, tiba tiba handphone vita bergetar. ada sms dari teman lamanya sebelum pindah ke jakarta dan sering main bareng sama riyan “innalillahi wainnalillahi roji’un. turut berduka cita untuk sahabat kita alm. riyan. yang pukul 02.00 siang tadi berpulang ke rahmatulloh. semoga dia tenang disana.” vita pun mulai tak percaya, tubuhnya lemah. dia tidak menyangka orang yng selama ini menjadi sahabatnya telah tiada. vita mencari tau melalui teman-temannya bahkan hingga fb riyan banyak sekali mengucapkan selamat tinggal. vita pun menangis.
Pulang sekolah, vita sms riyan. tapi tidak ada balasan dari riyan. dia buka inbox dari riyan bermaksud membalas inbox yang sebelumnya tak dibalas oleh vita. “wehhh apa kabar lo? lo baik-baik kan disana? kapan mau main kesini?” terus-terusan vita menginbox riyan, “bales weh! riyaaan gua juga sayang elo, gua minta maaf atas sikap gua selama ini. mana janji lo, kalau lo sukses bakal dateng ke ortu gua?”
untuk selamanya, vita nggak akan pernah lihat sosok riyan lagi, sosok yang ngefans band ungu itu lagi. selamanya nggak ada buat jengkel vita lagi. Vita pun tersadar, selama ini dia telah menyia-nyiakan orang yang sayang terhadapnya. vita pun belajar dari kisah ini. dia berjanji nggak akan cuek, jutek terhadap orang-orang yang menyukainya.
Selesai
Cerpen Karangan: Gita Fitri
Waktu menunjukkan pukul 17.00 wib. matahari pun perlahan mulai tenggelam. “balik yuk, udah sore” ajak vita pada riyan. “hayuuu…”
Malam harinya vita pun sms riyan. “riyan, makasih ya udah mau dengerin curhatan gue, gue seneng banget bisa kenal lo. padahal kan kita baru kenal 4 hari, elo langsung main ke rumah gue. hahaha”
Riyan pun membalas. “oiya vit, sama-sama. gue seneng bisa duduk berdua bareng lo. kalau ada apa-apa cerita ke gue.” “pasti yan”.
Vita dan riyan pun menjalani pertemanan cukup lama. awalnya karana saling kenalan saja. riyan sering main ke rumah vita, biasanya malam hari. dari jam tujuh malam sampai sembilan malam. Setelah 1 bulan lamanya mereka berteman. tiba-tiba…
“ada sms nih.. baca dong”. begitulah nada sms handphone vita..
riyan? “vit, gue sayang sama elo, gue suka sama elo” Vita pun kaget, akhirnya dia memutuskan untuk tidak membalas sms dari riyan.
“vitaaa main yuk”. indah sahabat vita dari kecil mengajak vita main bareng. “eh lo ndah, disini ajah ndah mainnya. gua nggak boleh kemana-mana nih”. seru vita. “ya udah, yang penting kita cerita-cerita.”
“vit, kabar mengejutkan buat lo. masa si riyan ngaku-ngaku pacar elo ke temen-temennya. enggak banget deh! bukan kan vit?” “ih masa? ihh ogah banget, apa_apaan sih riyan tuh nyebelin. gue benci dia!” jawab vita.
Akhirnya vita pun menulis status di facebook, kebetulan riyan pun lagi online. status vita: “ih apa-apaan sih ngaku-ngaku pacar gua. nggak malu tah lo. gua benci sama elo!” menyindir riyan.
Sebelum vita menulis statusnya, status riyan lewat beranda: “gua sayang banget sama elo, gua suka elo. gua sangat menggaggumi elo. haruskah gua pendam perassaan ini (V)”. dan akhirnya vita pun mulai geram melihat status riyan. “kenapa sih si riyan gitu amat, bikin illfeel ihhh”.
Vita adalah sosok cewek yang jutek, cuek dan gak percaya omongan cowok. karena ia merasa trauma disakiti oleh cowok yang dia sayangi. walaupun vita bilang dia membenci riyan, tapi vita tetap berteman baik dengan riyan.
Sms dari riyan: “gua tau sifat elo, lo jutek. walaupun jutek. gua tetep sayang elo”.
Riyan tetap mencintai vita, memendam rasa untuk vita. dia tetap sabar menunggu vita. walawpun banyak cowok yang sering datang ke rumah vita. entah itu pacar, cowok yang suka vita, bahkan teman-teman cowok vita. vita sering mengabaikan sms dari riyan, dan setelah tau riyan suka pada dirinya, vita mulai menjauh dari riyan setiap riyan main ke rumah vita, vita mengurung diri di kamar. karena vita ngak suka riyan, yang bukan tipe vita. riyan selalu ada unuk vita. vita meminta jemput riyan, riyan pun datang.
Terkadang vita sadar, dia salah menuntut orang untuk tidak suka dia jika dia bukan tipe vita. vita sering minta maaf pada riyan, riyan pun memaafkan. tetapi vita tetap dengan sifat juteknya.
Riyan selalu tahu kebiiasaan vita, kalau sms sering dimulai dengan kata “weh”. makaanan kesukaan vita, cerita keluarganya. karana vita selalu curhat sama riyan. semua tentang vita tau, kecuali pacar vita.
Vita sering online facebook, ia melihat dinding riyan. dimana status riyan yang terakhir. yang semua tentang dirinya: “sampai kapan pun gua sayang elo (V),” “i love u (V), elo nggak pantes buat gua, elo terlalu angkuh.” “gua nyerah buat dapetin elo!” inbox terakhir: weh apa kabar lo, gua kangen nih sama elo. vita membalas: “alhamdulillah baik, sekarang elo dimana? gua juga kangen sama elo”.
“gua kerja di tanggerang, gua mau ngumpulin duit buat cewek yang gua suka. gua bakal nyamperin dia nanti kalau gua sukses”. vita pun merasa, akhirnya dia mulai tidak membalas inbox riyan.
Riyan dan vita sudah 2 bulan tidak pernah bertemu. karena vita harus pindah sekolah SMA di jakarta. riyan harus kerja, karana dia putus sekolah di smp.
Beberapa hari setelah dari fb itu riyan inbox, riyan sms lagi. “vit, apa kabar lo disana? gua mau main ke rumah lo. kirimin alamatnya dong”.
Vita mengabaikan sms riyan.
Seminggu setelah riyan sms vita, vita merasa di minggu ini dia gak pernah dapet sms dari riyan. Pas vita di sekolah, tiba tiba handphone vita bergetar. ada sms dari teman lamanya sebelum pindah ke jakarta dan sering main bareng sama riyan “innalillahi wainnalillahi roji’un. turut berduka cita untuk sahabat kita alm. riyan. yang pukul 02.00 siang tadi berpulang ke rahmatulloh. semoga dia tenang disana.” vita pun mulai tak percaya, tubuhnya lemah. dia tidak menyangka orang yng selama ini menjadi sahabatnya telah tiada. vita mencari tau melalui teman-temannya bahkan hingga fb riyan banyak sekali mengucapkan selamat tinggal. vita pun menangis.
Pulang sekolah, vita sms riyan. tapi tidak ada balasan dari riyan. dia buka inbox dari riyan bermaksud membalas inbox yang sebelumnya tak dibalas oleh vita. “wehhh apa kabar lo? lo baik-baik kan disana? kapan mau main kesini?” terus-terusan vita menginbox riyan, “bales weh! riyaaan gua juga sayang elo, gua minta maaf atas sikap gua selama ini. mana janji lo, kalau lo sukses bakal dateng ke ortu gua?”
untuk selamanya, vita nggak akan pernah lihat sosok riyan lagi, sosok yang ngefans band ungu itu lagi. selamanya nggak ada buat jengkel vita lagi. Vita pun tersadar, selama ini dia telah menyia-nyiakan orang yang sayang terhadapnya. vita pun belajar dari kisah ini. dia berjanji nggak akan cuek, jutek terhadap orang-orang yang menyukainya.
Selesai
Cerpen Karangan: Gita Fitri
Perpisahan Mengajarkanku Arti Hadirmu
“Mengapa waktu berjalan begitu cepat? Dapatkah masa-masa indah itu
terulang kembali? mengapa kamu begitu cepat menjauh dariku? Mengapa kamu
pergi tanpa memberi kesempatan bagiku untuk menyampaikan penyesalanku
karena tidak pernah menghiraukan kehadiranmu?” Seringku berpikir aku
adalah orang yang jahat bagimu. Aku pun tak jarang menyalahkan diriku
sendiri “mengapa aku tak menganggapnya, mengapa perhatianku hanya
tertuju pada orang lain yang belum tentu saat itu memiliki perasaan yang
sama denganku?” pertanyaan ini selalu muncul dalam benakku. Sifat yang
pendiam dan tetutup itulah yang ku kenal dari dirimu. setiap tingkah
lakumu membuatku selalu berpikir “apa yang dimaksudnya?” Hal ini
membuatku terperangkap dalam ketertutupan dirimu, sehingga membawaku
untuk memulai sebuah cerita hidup yang tidak pernah ku tahu akhirnya.
Sifat ini juga yang membuatku terpuruk dalam suatu penyesalan besar
dalam hidupku dimana arti kehadiranmu tidak pernah kutanggapi
sebelumnya. “Haruskah aku menyalahkanmu karena kamu tak pernah mengakui
perasaanmu itu?, atau aku yang tidak pernah menyadarinya? Hingga aku pun
harus tetap memendam perasaanku? Akankah kita akan mendapatkan
kesempatan kedua? Atau takdir menginginkan kita untuk hanya dapat
memendam rasa ini?”
Sinar matahari pagi, secara langsung mendarat di mataku, seakan ingin menyadarkanku dari tidur. Hari ini adalah jadwalku untuk masuk kuliah, dan bahkan hari ini aku akan mempresentasikan hasil tugasku. “Miranti… Miranti..” terdengar suara ibu yang memanggilku sekedar mengingatkanku agar tidak terlamabat. Dengan segera aku mempersiapkan segala keperluanku. “Miranti sarapan dulu!” seru ibu dari ruang makan, “Tidak perlu bu, Miranti makan di luar saja, aku hampir terlambat” balasku dengan tergesa-gesa. Aku pun pergi ke kampus dengan berlari-lari kecil.
“Miranti, kenapa kamu terlambat?” tanya dosenku dengan tatapan marah, “maaf bu, tadi malam saya mengerjakan tugas hingga larut malam dan paginya saya terlambat bangun” balasku dengan suara terbata-bata. “Sebagai hukumannya kamu orang pertama mempresentasikan hasil tugasmu!” seru dosen tersebut “Baik bu” jawabku. Aku pun mempresentasikan tugasku dengan percaya diri.
“Uhm… akhirnya selesai tugasku” gumamku dalam hati.
Di tengah perjalanan pulang, dengan tak sengaja mataku tertuju pada seorang pria yang tampaknya tak asing bagi ku. “Apakah itu dia?” tanya ku dalam hati, tapi kembali ku berpikir itu mustahil, karena ku tahu dia tidak mungkin berada di sini. Selama perjalanaan pulang ke rumah aku memikirkan hal yang sama. Pria tersebut kembali mengingatkanku akan masa lalu yang selama ini membuatku terpuruk dalam penyesalan. Perasaan tersebut membuat ku ingin kembali mengenang peristiwa di masa lalu. “ku ingin kembali melihat tempat itu” ucapku dalam hati, aku sendiri bingung dengan perasaanku, selama ini aku sangat tidak ingin mengunjungi tempat itu, karena hanya akan menambah rasa penyesalanku, aku pun termenung dalam pemikiranku hingga membawaku telelap dalam tidur.
Hari itu pun datang, hari dimana ku akan melihat kembali kisah yang penuh tanda tanya dan bahkan meyesakkan hati dengan harapan aku dapat melihatnya disana, meskipun ku tahu itu jauh dari mungkin. Sejak terbitnya matahari pagi aku pun telah bergegas mempersiapkan diri, selama perjalanan sempat muncul keraguan dalam benakku, namun aku berusaha untuk menghilangkannya. Perasaanku semakin tak menentu, saat aku mulai mendekati tempat itu. Tempat aku menerima pendidikan menjadi tempat yang sangat berkesan dalam hidupku.
Kulangkahkan kaki menyusuri lorong sekolah yang sangat tidak asing bagiku, aku merasakan semua sisi dari sekolah ini menyimpan kenangannya tersendiri. Kembali kulangkahkan kaki ku hingga langkahku terhenti tepat di ruangan kelasku dulu. “ini masih sama persis seperti yang dulu” ucapku. Hal ini membuatku semakin teringat akan kisah masa laluku. Sejenak aku pun terdiam merenungi semuanya, semua kejadian di masa ku bersekolah, seolah-olah tergambar jelas. Tidak sadar aku mulai meneteskan air mata saat ku mengingat semuanya, berulang kali aku mengusapnya, namun kembali mengalir. Berada di tempat ini membuat rasa penyesalanku semakin mendalam.
Tiba-tiba dari luar terdengar langkah kaki seseorang, hal tersebut sempat membuat ku ketakutan “Bukankah hari ini hari libur?” pikirku. “Siapa kamu?” terdengar suara dari belakang. Aku pun membalikkan badan, dan tampak di depan ku seorang Pria dengan tubuh tinggi dan tegap sambil membawa sebuah surat di tangannya. “Bukankah dia Pria yang tadi?” tanya ku dalam hati. “Maaf saya hanya berkunjung di sini, dan saya tidak akan membuat kekacauan” ucapku, pria tersebut hanya menatapku tanpa berkata apapun. “Saya akan segera pergi” lanjutku. Aku pun melangkah untuk pergi. “Apa kamu masih mengingat tempat ini hingga kamu datang ke sini?” Tanya pria tersebut. Seketika langkahku pun terhenti saat mendengar hal tersebut. “Apakah tempat ini menyimpan kenangan bagimu?, Apakah kamu masih mengingat senda gurau 2 anak yang duduk di kursi paling belakang, Miranti?” Lanjut pria tersebut. Mendengar semua pertanyaan yang diucapkan pria tersebut, aku tidak dapat berkata apapun, tubuh ku terasa kaku, hanya air mata yang terus mengalir mengingat semua kejadian yang diceritakannya. “Apakah haparanku akan terwujud? Apakah dia Harry?” Ucapku dengan suara pelan. “Apakah kamu tidak berani menatapku Miranti?”. Aku pun memberanikan diri dan membalikkan badan, “Aku Harry” ucapnya “Harry?” balasku. “Ya aku Harry, teman sekelasmu yang duduk di depanmu di kelas ini,” Jawabnya. Mendengar semua itu, membuat air mataku semakin mengalir deras, perasaanku semakin tak menentu. “Bukankah kamu berkuliah di Amerika, tidak mungkin kamu ada sini?” ucapku. “Ya, aku memeng kuliah di sana, tapi saat ini aku ada di sini” ucap Harry “jadi yang kulihat kemarin itu benar Harry” ucapku dalam hati. “Bagaiman mungkin kau mengenaliku Harry setelah sekian lama kita tidak bertemu?” tanyaku “tidak ada orang lain yang mau datang ke sekolah selama hari libur, selain orang itu menyimpan kisah tersendiri di sini. Meskipun tidak bertemu denganmu tapi wajahmu masih teringat olehku” jawab Harry. Aku pun hanya biasa diam mendengar apa yang diucapkannya.
“Harry, apakah kamu masih mengingat semua peristiwa yang terjadi di sini?” tanyaku. “Ya aku masih mengingat semuanya” jawab Harry. “Apakah kau pernah mencoba untuk melupakannya?” lanjutku, “Aku sudah sering mencoba untuk melupakan semua kejadian menyakitkan tersebut, namun bayangan itu selalu menghantuiku” Jawabnya. “Lihatlah dua kursi itu, kamu mengingatnya?” tanya Harry, aku mengalihkan pandangan ke arah kursi yang di tunjuk Harry, kursi tempat aku dan Harry duduk saat kami belajar di kelas ini. “Di kursi ini kita sering bersenda gurau, bahkan tak jarang kita berkelahi hanya karena masalah sederhana” jelasku dengan air mata yang terus mengalir. “Kursi ini sangat indah” tagas Harry. “Indah? Menurutmu kursi ini indah? Tanya ku dengan suara terbata-bata, “ya, semua peristiwa yang terjadi di kursi ini sangat indah” jawab Harry, mendengar jawaban Harry tersebut semakin membuatku merasa bersalah.
Sebuah kotak berwarna putih yang terletak di atas lemari tua, yang tampaknya sudah tidak digunakan lagi menarik perhatianku. Perlahan kulangkahkan kaki menuju kotak itu, dengan perlahanku mencoba mengambil dan membukanya sambil ku melihat ke arah Harry yang seakan-akan mengisyaratkanku untuk membukanya.
Di dalamnya bertumpuk beberapa lipatan kertas putih, aku mengambil tumpukan kertas putih itu. “benda itu milikku, silahkan kamu baca yang terulis di tumpukan kertas itu!” ucap Harry. Mendengar ucapan Harry tersebut membuat ku bertanya dalam hati “apakah surat-surat ini ada hubungannya denganku?”. “Bacalah dari tumpukan surat yang paling bawah!” lanjut Harry. Aku pun mengambil kertas yang paling bawah dari tumpukan kertas tersebut dan mulai membuka lipatanya serta membacanya.
“Tahun pertama ku datang ke kembali ke sekolah ini, setelah kemarin kita berpisah, dan memulai hidupku di Amerika, masih tergambar jelas dalam pikiranku senyum terakhirmu dan senda gurau yang sering kita lakukan. Ku ingin bersenda gurau denganmu saat ini, ku ingin melihat senyummu sekali lagi, namun apakah itu mungkin?” isi surat pertama yang ku baca dalam dalam hati.
“Tahun kedua ku datang kembali, telah lewat setahun ku lalui hari-hari ku tanpa melihatmu dan tanpa mengetahui keberadaanmu. Tak seperti biasanya setiap hari aku dapat bertemu denganmu di tempat ini, meskipun kamu tak menghiraukanku, itu tak masalah bagiku, selang setahun kita tidak betemu apakah kamu masih mengingatku?” Isi surat kedua yang aku baca.
Lanjut aku membaca surat yang ketiga dengan air mata yang terus mengalir. “Tahun ketiga ku kembali, masih membawa perasaan yang sama seperti pertama kali aku berpisah denganmu. Telah dua tahun berlalu aku masih tidak bertemu denganmu, saat aku ingin melupakan, semakin aku teringat semua peristiwa itu meskipun menyakitkan bagiku, terkadang aku sendiri bingung, kamu telah menyakitiku namun mengapa hingga saat ini aku masih menginginkan dirimu agar berada disini.” Tulis Harry pada suratnya yang ketiga. Semakinku baca isi surat-surat tersebut semakin menyesakkan hatiku, “betapa jahatnya aku padanya” ucap ku dalam hati, aku membenci diriku sendiri dengan semua keadaan ini.
Aku melanjutkan membaca isi surat yang keempat “Tahun keempat aku kembali di tempat ini, tempat yang sangat berkesan dalam hidupku, meskipun di tempat ini juga mengoreskan luka dalam hatiku, sering ku berpikir mengapa aku harus selalu kembali di tempat ini jika tempat ini hanya mengingatkanku pada peristiwa-peristiwa yang menyakitkan itu, namun pikiranku tersebut dapat dikalahkan oleh keinginan ku untuk dapat melihatmu kembali di tempat ini, aku berharap waktu akan mempertemukan kita kembali” tulis Harry pada suratnya yang ke keempat.
Ku melanjutkan untuk membaca isi surat yang terakhir “sekali lagi ku kembali ke tempat ini dengan membawa harapan yang sama yakni aku dapat bertemu dengan mu, ku dapat melihat kembali senyummu, dan ku harap aku dapat menulis surat di tahun berikutnya denganmu di sampingku, aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku dapat melihatmu kembali, dan menyampaikan apa yang selama ini tidak sempat aku sampaikan padamu Miranti” tulis Harry dalam suratnya yang terakhir. Melihat tertera nama Miranti pada akhir surat tersebut membuatku bertanya dalam hati apakah yang di maksud Harry adalah aku? Tanya ku dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara Harry “kamu telah membacanya, aku yakin kamu telah tahu apa yang aku maksud dalam surat-surat tersebut” ucap Harry yang berdiri di hadapanku. “Harry..!” seruku dengan suara pelan “Ya, yang ku maksud dalam surat-surat itu adalah diri mu, setiap tahunnya aku kembali ke Indonesia dan berkunjung ke tempat ini untuk menulis surat-surat tersebut” lanjut Harry, mendengar ucapan Harry tesebut membuatku semakin merasa bersalah dan aku tidak dapat berkata apapun, hanya air mata yang membasahi wajahku.
Harry mulai melangkahkan kakinya menuju ke luar ruang kelas, “Tak ku sangka setelah 14 tahun kita berpisah tanpa ku tahu keberadaanmu, kabarmu, bahkan ku telah berhenti menulis surat-surat itu karena aku merasa semua yang aku tulis hanyalah harapan hampa, ternyata, di saat ini ku dapat melihatmu kembali secara nyata bukan hanya sekedar banyanganmu, dan harapanku untuk dapat melihatmu kembali telah terpenuhi” ucap Harry. “Harry, maafkan aku, aku sangat menyesal, bahkan aku sering mengingat semua itu, selama ini aku selalu hidup dalam rasa bersalah dan penyesalanku, mengapa aku harus tahu perasaanmu itu saat kamu telah pergi, dan aku mengetahui dari orang lain bukan dari mu, Harry” balasku sambil mengusap air mataku. “Aku akui, bahwa aku tidak berani menggungkapkan semua perasaanku saat itu, aku takut kamu akan menjauhiku jika kamu tahu aku menyukai mu!” ucap Harry. Aku tidak dapat berkata apapun saat ku mendengar apa yang diucapkan Harry yang ada dalam pikiranku betapa baiknya Harry, sedangkan aku hanya membuat luka dalam hatinya. “saat itu aku tidak memiliki keberanian seperti teman-temanmu yang lain, yang dapat ku lakukan hanyalah menatapmu dari kejauhan dan memebelamu secara diam-diam meskipun demikian aku sangat ingin melindungimu” lanjut Harry. “Harry maafkan aku, karena selama ini ku tak menyadari semua itu, dan aku pun hanya bisa diam dengan perasaan yang berusaha ku tutupi” balasku dengan suara terbata-bata. “Harry aku tahu kamu pasti membenciku, tapi aku minta maaf, meskipun aku tahu kamu sulit untuk melakukannya.” Pintaku. “Membencimu pernah tersirat dalam pikirannku, namun itu semua mampu tertutupi oleh perasaanku terhadapmu, sehingga memaafkanmu adalah sesuatu yang mudah bagiku Miranti” ucapan Harry. Ucapan Harry tersebut semakin meyakinkanku bahwa ia adalah orang yang sangat baik.
Harry dan aku pun berjalan menuju ke halaman sekolah, tempat pertama kali aku dan dia bertemu. “Terima kasih karena telah kembali di sini, memberi ku kesempatan untuk melihatmu kembali” ucap Harry “akulah yang seharunya berterima kasih, karena kamu telah memaafkanku, kamu memberiku sebuah pelajaran besar, yang mungkin takkan aku dapatkan jika tak bertemu dengamu” balasku. Kami pun menghabiskan waktu di tempat yang berkesan tersebut dengan mengenang semua peristiwa-peristiwa yang sempat kita lalui bersama, seakan waktu memberi kesempatan untuk mengulang kembali kisah yang menyakitkan tersebut, namun saat ini kisah tersebut menjadi sebuah kisah yang penuh bahagia.
“Terima kasih karena telah mengajarkanku pentingnya kehadiran dirimu, dengan berpisah denganmu aku menyadari akan pentingnya mengahargai keberadaan seseorang dan membantuku untuk mempercayai bahwa adanya sebuah kesempatan kedua” balasku dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan. “Aku akan selalu ada untukmu, aku akan dengan berani membelamu secara langsung” lanjut Harry dengan senyum yang terlukis di wajahnya sama seperti yang terakhir kali aku melihatnya. Kini semua pertanyaan yang sejak lama tesirat dalam pikiranku telah terjawab” gumamku dalam hati, diiringi dengan kicauan burung yang hinggap di atas pohon tempat kami bernaung.
Cerpen Karangan: Angelina N Surian
Sinar matahari pagi, secara langsung mendarat di mataku, seakan ingin menyadarkanku dari tidur. Hari ini adalah jadwalku untuk masuk kuliah, dan bahkan hari ini aku akan mempresentasikan hasil tugasku. “Miranti… Miranti..” terdengar suara ibu yang memanggilku sekedar mengingatkanku agar tidak terlamabat. Dengan segera aku mempersiapkan segala keperluanku. “Miranti sarapan dulu!” seru ibu dari ruang makan, “Tidak perlu bu, Miranti makan di luar saja, aku hampir terlambat” balasku dengan tergesa-gesa. Aku pun pergi ke kampus dengan berlari-lari kecil.
“Miranti, kenapa kamu terlambat?” tanya dosenku dengan tatapan marah, “maaf bu, tadi malam saya mengerjakan tugas hingga larut malam dan paginya saya terlambat bangun” balasku dengan suara terbata-bata. “Sebagai hukumannya kamu orang pertama mempresentasikan hasil tugasmu!” seru dosen tersebut “Baik bu” jawabku. Aku pun mempresentasikan tugasku dengan percaya diri.
“Uhm… akhirnya selesai tugasku” gumamku dalam hati.
Di tengah perjalanan pulang, dengan tak sengaja mataku tertuju pada seorang pria yang tampaknya tak asing bagi ku. “Apakah itu dia?” tanya ku dalam hati, tapi kembali ku berpikir itu mustahil, karena ku tahu dia tidak mungkin berada di sini. Selama perjalanaan pulang ke rumah aku memikirkan hal yang sama. Pria tersebut kembali mengingatkanku akan masa lalu yang selama ini membuatku terpuruk dalam penyesalan. Perasaan tersebut membuat ku ingin kembali mengenang peristiwa di masa lalu. “ku ingin kembali melihat tempat itu” ucapku dalam hati, aku sendiri bingung dengan perasaanku, selama ini aku sangat tidak ingin mengunjungi tempat itu, karena hanya akan menambah rasa penyesalanku, aku pun termenung dalam pemikiranku hingga membawaku telelap dalam tidur.
Hari itu pun datang, hari dimana ku akan melihat kembali kisah yang penuh tanda tanya dan bahkan meyesakkan hati dengan harapan aku dapat melihatnya disana, meskipun ku tahu itu jauh dari mungkin. Sejak terbitnya matahari pagi aku pun telah bergegas mempersiapkan diri, selama perjalanan sempat muncul keraguan dalam benakku, namun aku berusaha untuk menghilangkannya. Perasaanku semakin tak menentu, saat aku mulai mendekati tempat itu. Tempat aku menerima pendidikan menjadi tempat yang sangat berkesan dalam hidupku.
Kulangkahkan kaki menyusuri lorong sekolah yang sangat tidak asing bagiku, aku merasakan semua sisi dari sekolah ini menyimpan kenangannya tersendiri. Kembali kulangkahkan kaki ku hingga langkahku terhenti tepat di ruangan kelasku dulu. “ini masih sama persis seperti yang dulu” ucapku. Hal ini membuatku semakin teringat akan kisah masa laluku. Sejenak aku pun terdiam merenungi semuanya, semua kejadian di masa ku bersekolah, seolah-olah tergambar jelas. Tidak sadar aku mulai meneteskan air mata saat ku mengingat semuanya, berulang kali aku mengusapnya, namun kembali mengalir. Berada di tempat ini membuat rasa penyesalanku semakin mendalam.
Tiba-tiba dari luar terdengar langkah kaki seseorang, hal tersebut sempat membuat ku ketakutan “Bukankah hari ini hari libur?” pikirku. “Siapa kamu?” terdengar suara dari belakang. Aku pun membalikkan badan, dan tampak di depan ku seorang Pria dengan tubuh tinggi dan tegap sambil membawa sebuah surat di tangannya. “Bukankah dia Pria yang tadi?” tanya ku dalam hati. “Maaf saya hanya berkunjung di sini, dan saya tidak akan membuat kekacauan” ucapku, pria tersebut hanya menatapku tanpa berkata apapun. “Saya akan segera pergi” lanjutku. Aku pun melangkah untuk pergi. “Apa kamu masih mengingat tempat ini hingga kamu datang ke sini?” Tanya pria tersebut. Seketika langkahku pun terhenti saat mendengar hal tersebut. “Apakah tempat ini menyimpan kenangan bagimu?, Apakah kamu masih mengingat senda gurau 2 anak yang duduk di kursi paling belakang, Miranti?” Lanjut pria tersebut. Mendengar semua pertanyaan yang diucapkan pria tersebut, aku tidak dapat berkata apapun, tubuh ku terasa kaku, hanya air mata yang terus mengalir mengingat semua kejadian yang diceritakannya. “Apakah haparanku akan terwujud? Apakah dia Harry?” Ucapku dengan suara pelan. “Apakah kamu tidak berani menatapku Miranti?”. Aku pun memberanikan diri dan membalikkan badan, “Aku Harry” ucapnya “Harry?” balasku. “Ya aku Harry, teman sekelasmu yang duduk di depanmu di kelas ini,” Jawabnya. Mendengar semua itu, membuat air mataku semakin mengalir deras, perasaanku semakin tak menentu. “Bukankah kamu berkuliah di Amerika, tidak mungkin kamu ada sini?” ucapku. “Ya, aku memeng kuliah di sana, tapi saat ini aku ada di sini” ucap Harry “jadi yang kulihat kemarin itu benar Harry” ucapku dalam hati. “Bagaiman mungkin kau mengenaliku Harry setelah sekian lama kita tidak bertemu?” tanyaku “tidak ada orang lain yang mau datang ke sekolah selama hari libur, selain orang itu menyimpan kisah tersendiri di sini. Meskipun tidak bertemu denganmu tapi wajahmu masih teringat olehku” jawab Harry. Aku pun hanya biasa diam mendengar apa yang diucapkannya.
“Harry, apakah kamu masih mengingat semua peristiwa yang terjadi di sini?” tanyaku. “Ya aku masih mengingat semuanya” jawab Harry. “Apakah kau pernah mencoba untuk melupakannya?” lanjutku, “Aku sudah sering mencoba untuk melupakan semua kejadian menyakitkan tersebut, namun bayangan itu selalu menghantuiku” Jawabnya. “Lihatlah dua kursi itu, kamu mengingatnya?” tanya Harry, aku mengalihkan pandangan ke arah kursi yang di tunjuk Harry, kursi tempat aku dan Harry duduk saat kami belajar di kelas ini. “Di kursi ini kita sering bersenda gurau, bahkan tak jarang kita berkelahi hanya karena masalah sederhana” jelasku dengan air mata yang terus mengalir. “Kursi ini sangat indah” tagas Harry. “Indah? Menurutmu kursi ini indah? Tanya ku dengan suara terbata-bata, “ya, semua peristiwa yang terjadi di kursi ini sangat indah” jawab Harry, mendengar jawaban Harry tersebut semakin membuatku merasa bersalah.
Sebuah kotak berwarna putih yang terletak di atas lemari tua, yang tampaknya sudah tidak digunakan lagi menarik perhatianku. Perlahan kulangkahkan kaki menuju kotak itu, dengan perlahanku mencoba mengambil dan membukanya sambil ku melihat ke arah Harry yang seakan-akan mengisyaratkanku untuk membukanya.
Di dalamnya bertumpuk beberapa lipatan kertas putih, aku mengambil tumpukan kertas putih itu. “benda itu milikku, silahkan kamu baca yang terulis di tumpukan kertas itu!” ucap Harry. Mendengar ucapan Harry tersebut membuat ku bertanya dalam hati “apakah surat-surat ini ada hubungannya denganku?”. “Bacalah dari tumpukan surat yang paling bawah!” lanjut Harry. Aku pun mengambil kertas yang paling bawah dari tumpukan kertas tersebut dan mulai membuka lipatanya serta membacanya.
“Tahun pertama ku datang ke kembali ke sekolah ini, setelah kemarin kita berpisah, dan memulai hidupku di Amerika, masih tergambar jelas dalam pikiranku senyum terakhirmu dan senda gurau yang sering kita lakukan. Ku ingin bersenda gurau denganmu saat ini, ku ingin melihat senyummu sekali lagi, namun apakah itu mungkin?” isi surat pertama yang ku baca dalam dalam hati.
“Tahun kedua ku datang kembali, telah lewat setahun ku lalui hari-hari ku tanpa melihatmu dan tanpa mengetahui keberadaanmu. Tak seperti biasanya setiap hari aku dapat bertemu denganmu di tempat ini, meskipun kamu tak menghiraukanku, itu tak masalah bagiku, selang setahun kita tidak betemu apakah kamu masih mengingatku?” Isi surat kedua yang aku baca.
Lanjut aku membaca surat yang ketiga dengan air mata yang terus mengalir. “Tahun ketiga ku kembali, masih membawa perasaan yang sama seperti pertama kali aku berpisah denganmu. Telah dua tahun berlalu aku masih tidak bertemu denganmu, saat aku ingin melupakan, semakin aku teringat semua peristiwa itu meskipun menyakitkan bagiku, terkadang aku sendiri bingung, kamu telah menyakitiku namun mengapa hingga saat ini aku masih menginginkan dirimu agar berada disini.” Tulis Harry pada suratnya yang ketiga. Semakinku baca isi surat-surat tersebut semakin menyesakkan hatiku, “betapa jahatnya aku padanya” ucap ku dalam hati, aku membenci diriku sendiri dengan semua keadaan ini.
Aku melanjutkan membaca isi surat yang keempat “Tahun keempat aku kembali di tempat ini, tempat yang sangat berkesan dalam hidupku, meskipun di tempat ini juga mengoreskan luka dalam hatiku, sering ku berpikir mengapa aku harus selalu kembali di tempat ini jika tempat ini hanya mengingatkanku pada peristiwa-peristiwa yang menyakitkan itu, namun pikiranku tersebut dapat dikalahkan oleh keinginan ku untuk dapat melihatmu kembali di tempat ini, aku berharap waktu akan mempertemukan kita kembali” tulis Harry pada suratnya yang ke keempat.
Ku melanjutkan untuk membaca isi surat yang terakhir “sekali lagi ku kembali ke tempat ini dengan membawa harapan yang sama yakni aku dapat bertemu dengan mu, ku dapat melihat kembali senyummu, dan ku harap aku dapat menulis surat di tahun berikutnya denganmu di sampingku, aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku dapat melihatmu kembali, dan menyampaikan apa yang selama ini tidak sempat aku sampaikan padamu Miranti” tulis Harry dalam suratnya yang terakhir. Melihat tertera nama Miranti pada akhir surat tersebut membuatku bertanya dalam hati apakah yang di maksud Harry adalah aku? Tanya ku dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara Harry “kamu telah membacanya, aku yakin kamu telah tahu apa yang aku maksud dalam surat-surat tersebut” ucap Harry yang berdiri di hadapanku. “Harry..!” seruku dengan suara pelan “Ya, yang ku maksud dalam surat-surat itu adalah diri mu, setiap tahunnya aku kembali ke Indonesia dan berkunjung ke tempat ini untuk menulis surat-surat tersebut” lanjut Harry, mendengar ucapan Harry tesebut membuatku semakin merasa bersalah dan aku tidak dapat berkata apapun, hanya air mata yang membasahi wajahku.
Harry mulai melangkahkan kakinya menuju ke luar ruang kelas, “Tak ku sangka setelah 14 tahun kita berpisah tanpa ku tahu keberadaanmu, kabarmu, bahkan ku telah berhenti menulis surat-surat itu karena aku merasa semua yang aku tulis hanyalah harapan hampa, ternyata, di saat ini ku dapat melihatmu kembali secara nyata bukan hanya sekedar banyanganmu, dan harapanku untuk dapat melihatmu kembali telah terpenuhi” ucap Harry. “Harry, maafkan aku, aku sangat menyesal, bahkan aku sering mengingat semua itu, selama ini aku selalu hidup dalam rasa bersalah dan penyesalanku, mengapa aku harus tahu perasaanmu itu saat kamu telah pergi, dan aku mengetahui dari orang lain bukan dari mu, Harry” balasku sambil mengusap air mataku. “Aku akui, bahwa aku tidak berani menggungkapkan semua perasaanku saat itu, aku takut kamu akan menjauhiku jika kamu tahu aku menyukai mu!” ucap Harry. Aku tidak dapat berkata apapun saat ku mendengar apa yang diucapkan Harry yang ada dalam pikiranku betapa baiknya Harry, sedangkan aku hanya membuat luka dalam hatinya. “saat itu aku tidak memiliki keberanian seperti teman-temanmu yang lain, yang dapat ku lakukan hanyalah menatapmu dari kejauhan dan memebelamu secara diam-diam meskipun demikian aku sangat ingin melindungimu” lanjut Harry. “Harry maafkan aku, karena selama ini ku tak menyadari semua itu, dan aku pun hanya bisa diam dengan perasaan yang berusaha ku tutupi” balasku dengan suara terbata-bata. “Harry aku tahu kamu pasti membenciku, tapi aku minta maaf, meskipun aku tahu kamu sulit untuk melakukannya.” Pintaku. “Membencimu pernah tersirat dalam pikirannku, namun itu semua mampu tertutupi oleh perasaanku terhadapmu, sehingga memaafkanmu adalah sesuatu yang mudah bagiku Miranti” ucapan Harry. Ucapan Harry tersebut semakin meyakinkanku bahwa ia adalah orang yang sangat baik.
Harry dan aku pun berjalan menuju ke halaman sekolah, tempat pertama kali aku dan dia bertemu. “Terima kasih karena telah kembali di sini, memberi ku kesempatan untuk melihatmu kembali” ucap Harry “akulah yang seharunya berterima kasih, karena kamu telah memaafkanku, kamu memberiku sebuah pelajaran besar, yang mungkin takkan aku dapatkan jika tak bertemu dengamu” balasku. Kami pun menghabiskan waktu di tempat yang berkesan tersebut dengan mengenang semua peristiwa-peristiwa yang sempat kita lalui bersama, seakan waktu memberi kesempatan untuk mengulang kembali kisah yang menyakitkan tersebut, namun saat ini kisah tersebut menjadi sebuah kisah yang penuh bahagia.
“Terima kasih karena telah mengajarkanku pentingnya kehadiran dirimu, dengan berpisah denganmu aku menyadari akan pentingnya mengahargai keberadaan seseorang dan membantuku untuk mempercayai bahwa adanya sebuah kesempatan kedua” balasku dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan. “Aku akan selalu ada untukmu, aku akan dengan berani membelamu secara langsung” lanjut Harry dengan senyum yang terlukis di wajahnya sama seperti yang terakhir kali aku melihatnya. Kini semua pertanyaan yang sejak lama tesirat dalam pikiranku telah terjawab” gumamku dalam hati, diiringi dengan kicauan burung yang hinggap di atas pohon tempat kami bernaung.
Cerpen Karangan: Angelina N Surian
Kado Terakhir Dari Ibu
Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Ya itulah yang
dialami bu Ratmi. Nadia, tak pernah menyukai ibunya. Ia selalu
uring-uringan. Ia ingin seperti teman-temannya yang pulang pergi diantar
pakai mobil. Tapi, apalah daya, tangan tak sampai. Ia bukanlah anak
dari seseorang yang berada. Ia anak dari seorang janda tua yang
pekerjaannya hanya menjadi pemulung. Ia menyesal, kenapa ia terlahir
dari seorang ibu miskin seperti ibunya.
Bu Ratmi mencoba menuruti semua permintaan anaknya itu. Suatu saat Nadia ingin pesta ulang tahunnya di rayakan seperti teman-teman yang lainnya. Di sebuah gedung mewah dan kue tart yang tinggi. Mengenakan gaun yang indah serta aneka makanan lezat. Bagaikan pungguk merindukan rembulan. Rasanya mustahil sekali jika ia bisa merayakan ultahnya semewah itu.
“pokoknya Nadia nggak mau tau, bagaimanapun caranya”, paksanya kepada ibunya.
Setiap hari Nadia merengek. Ulang tahunnya kurang satu minggu lagi. Ia terus menekan ibunya. Ibunya sering menangis karena bingung harus berbuat apa untuk memenuhi kemauan anaknya yang satu itu. Air susu dibalas air tuba. Tak pernah ada rasa terima kasihnya terhadap ibu yang membesarkannya. Nadia tak pernah mau mengerti keaadaan, ia selalu menuntut terhadap ibunya. Ibunya juga sering ia dorong sampai jatuh jika tak mau menuruti kemauannya.
“nak, ibu ndak punya unag buat itu semua”, ujarnya lesu. Namun Nadia tak pernah mau mengerti.
Karena Nadia tetap memaksa, sang ibu pun banting tulang setiap hari untuk mengumpulkan uang buat ulang tahun Nadia. Ia ingin membahagiakan anaknya, ia ingin Nadia bangga terhadapnya karena mempunyai seorang ibu yang suka bekerja keras.
Hari ulang tahun Nadya semakin dekat. Nadia terus mendesak ibunya. Saat pulang dari memulung, pintu rumah terkunci rapat. Nadia menguncinya dari dalam. Ia tak mengizinkan ibunya masuk. Ia tak akan membukakan pintu jika besok tak ada pesta ulang tahun yang mewah untuknya.
“nak, bukakan pintunnya. Ibu kedinginan di luar”, pinta bu Ratmi. Hujan mulai turun, dan ia kebasahan. Perutnya sangat lapar, belum lagi dinginnya hujan menusuk kuli-kulit rentanya. Kepalanya agak sedikit pusing, ia berjalan terhuyung-huyung di tengah-tengah hujannya malam.
Pagi-pagi seseorang mendatangi rumah bu Ratmi. Nadia pikir ibunya. Ternyata bukan. Seorang laki-laki setengah tua, mengajak Nadia untuk ikut dengannya. Dengan penuh keheranan, ia mengikuti orang tersebut. Orang tersebut membawa Nadia ke sebuah hotel dengan mata ditutup. Lelaki itu menuntunnya memasuku sebuah ruangan. Dan saat di buka penutup mata Nadia, ia terkejut senang saat melihat ruangan itu telah didekorasi dengan penuh balon, dan kue tart bersusun tiga. Nadia begitu senang, ia menari-nari mengelilingi kue tart. Nampak wajah iba pada lelaki itu.
Lelaki itu kemudian memanggil Nadia, ia memberikan sebuah surat untuk Nadia. Ternyata dari ibunya. Ibunya berpesan, ia harus jaga diri baik-baik. Lelaki itu menceritakan bahwa, bu Ratmi telah mendonorkan jantungnya untuk istrinya. Dan sebagai imbalannya, lelaki itu harus membuatkan pesta ultah yang meriah untuk anaknya. Entah mengapa air mata Nadia tiba-tiba menetes…
Cerpen Karangan: Yuni Maulina
Bu Ratmi mencoba menuruti semua permintaan anaknya itu. Suatu saat Nadia ingin pesta ulang tahunnya di rayakan seperti teman-teman yang lainnya. Di sebuah gedung mewah dan kue tart yang tinggi. Mengenakan gaun yang indah serta aneka makanan lezat. Bagaikan pungguk merindukan rembulan. Rasanya mustahil sekali jika ia bisa merayakan ultahnya semewah itu.
“pokoknya Nadia nggak mau tau, bagaimanapun caranya”, paksanya kepada ibunya.
Setiap hari Nadia merengek. Ulang tahunnya kurang satu minggu lagi. Ia terus menekan ibunya. Ibunya sering menangis karena bingung harus berbuat apa untuk memenuhi kemauan anaknya yang satu itu. Air susu dibalas air tuba. Tak pernah ada rasa terima kasihnya terhadap ibu yang membesarkannya. Nadia tak pernah mau mengerti keaadaan, ia selalu menuntut terhadap ibunya. Ibunya juga sering ia dorong sampai jatuh jika tak mau menuruti kemauannya.
“nak, ibu ndak punya unag buat itu semua”, ujarnya lesu. Namun Nadia tak pernah mau mengerti.
Karena Nadia tetap memaksa, sang ibu pun banting tulang setiap hari untuk mengumpulkan uang buat ulang tahun Nadia. Ia ingin membahagiakan anaknya, ia ingin Nadia bangga terhadapnya karena mempunyai seorang ibu yang suka bekerja keras.
Hari ulang tahun Nadya semakin dekat. Nadia terus mendesak ibunya. Saat pulang dari memulung, pintu rumah terkunci rapat. Nadia menguncinya dari dalam. Ia tak mengizinkan ibunya masuk. Ia tak akan membukakan pintu jika besok tak ada pesta ulang tahun yang mewah untuknya.
“nak, bukakan pintunnya. Ibu kedinginan di luar”, pinta bu Ratmi. Hujan mulai turun, dan ia kebasahan. Perutnya sangat lapar, belum lagi dinginnya hujan menusuk kuli-kulit rentanya. Kepalanya agak sedikit pusing, ia berjalan terhuyung-huyung di tengah-tengah hujannya malam.
Pagi-pagi seseorang mendatangi rumah bu Ratmi. Nadia pikir ibunya. Ternyata bukan. Seorang laki-laki setengah tua, mengajak Nadia untuk ikut dengannya. Dengan penuh keheranan, ia mengikuti orang tersebut. Orang tersebut membawa Nadia ke sebuah hotel dengan mata ditutup. Lelaki itu menuntunnya memasuku sebuah ruangan. Dan saat di buka penutup mata Nadia, ia terkejut senang saat melihat ruangan itu telah didekorasi dengan penuh balon, dan kue tart bersusun tiga. Nadia begitu senang, ia menari-nari mengelilingi kue tart. Nampak wajah iba pada lelaki itu.
Lelaki itu kemudian memanggil Nadia, ia memberikan sebuah surat untuk Nadia. Ternyata dari ibunya. Ibunya berpesan, ia harus jaga diri baik-baik. Lelaki itu menceritakan bahwa, bu Ratmi telah mendonorkan jantungnya untuk istrinya. Dan sebagai imbalannya, lelaki itu harus membuatkan pesta ultah yang meriah untuk anaknya. Entah mengapa air mata Nadia tiba-tiba menetes…
Cerpen Karangan: Yuni Maulina
Tuhan, Jadikan Dia Jodohku
Ia berbaring dan terpaku menatap langit-langit kamarnya sambil
sesekali melirik layar handphonenya. Ia masih tak percaya ia telah
diputuskan oleh pacar yang dicintainya selama satu tahun ini. Alunan
musik beraroma galau mengalun lembut, tapi tak setitik air mata menetes.
Ia bertanya-tanya dalam hatinya, mana mungkin Brian lebih
memperjuangkan cewek yang baru seminggu ia kenal sampai Brian melepasnya
yang sudah satu tahun menjalin hubungan.
“Ka Ika.. coba liat deh pacar barunya Brian anak kelas X itu liatin kamunya gak enak banget! Minta gak akur ya itu anak” cetus okta sambil menepuk bahu Ika dengan keras.
“Udahlah ta, biarin aja Brian putusin aku demi Venti anak baru itu. Toh aku juga gak sedih kan, gak galau kan? Gak sampai bunuh diri kan?” jawab Ika asal asalan.
“Yah lebay banget sih sampai bunuh diri gitu? Gak segitunya lah” sekali lagi Okta menepuk pundak Ika.
“Tapi jujur ya, kamu masih sayang dia? Masih berharap sama Brian?” tambah Okta dengan wajah serius.
“Nggak lah ta, buat apa seriusin orang yang gak pernah serius sama kita? Buat apa berharap sama cowok gak punya hati kayak dia. Udahlah lupain aja ya ta”
“Salut deh sama kamu, bisa setegar itu” Okta mengacungkan dua jempolnya.
Ika menggandeng Okta menuju kelas. Di tengah kerumunan Ika melihat sosok mantan yang saat ini dibencinya. Jarak Brian dan Ika semakin dekat raut wajah penuh emosi memuncak pada benak Ika, ia hanya menjulingkan mata begitu saja saat Brian melewatinya.
Dua bulan belalu hubungan Brian dan Venti tetap bertahan, sekalipun itu Ika tak akan perduli tentang itu karena Ika punya gebetan yang bisa dibilang lebih dari cukup alias banyak. Semenjak putus dengan Brian, Ika tak pernah menjalani hubungan serius hanya sekedar kenal dekat, tapi untuk jadian Ika tak pernah menerima satu pun dari sekian banyak gebetannya.
“Ciee yang sekarang gebetannya delapan bisa dibagi bagi tuh”
Pesan singkat tertera di layar handphoneku membuat Ika tertawa girang melihat sms Okta. Ketika jari-jari Ika dengan cepat membalas pesan singkat Okta, tiba-tiba satu pesan singkat yang sempat membuat Ika tersentak. Jari Ika dengan tangkas membatalkan pesan yang sedang diketik dan langsung membuka pesan singkat yang baru masuk.
“Kamu sekarang berubah, kamu bukan Ika yang dulu ku kenal”
Mata Ika membelalak lebar membaca pesan Brian dengan teliti. Ia semakin tak mengerti apa yang dimaksud Brian
“Maksudnya apa?” Balas Ika dengan cepat.
“Kamu berubah, Ika yang dulu ku kenal setia dan tak suka mempermainkan perasaan orang lain. Ika yang kukenal dulu bukan orang pedendam seperti sekarang. Ika yang kukenal dulu suka memberikan senyum manisnya kepadaku, bukan menampakkan wajah yang muram dan penuh dendam, aku kecewa”
“Itu bukan urusanmu, kamu hanya MANTANKU.”
Ika membalas pesan Brian dengan singkat dan dingin bahkan tak memberi alasan apapun.
“Aku kecewa, jangan pernah anggap aku mantanmu dan aku gak akan anggap kamu sebagai mantanku”
“Oke!”
Ika mengakhiri percakapannya dengan jawaban yang singkat dan pedas. Sepanjang dan seruntut apapun penjelasan Brian mengenai Ika akan dibalas dingin oleh Ika. Sekelibat bayangan memori tentang Brian memenuhi otaknya, tetapi Ika membiarkan otaknya mengingat memori indah tentang Brian. Ika meraih album foto yang ia letakkan di bawah tempat tidurnya, dilihatnya foto dimana saat mereka masih bersama, sebelum ada Venti hadir dalam kehidupan Brian. Ika hanya tersenyum dan mengambil foto-foto itu dari tempatnya, ditempelnya foto-foto itu pada lembaran diarynya.
“Ta, gimana nih? Nanti malem minggu diajak Patran makan malam. Ah males banget”
“loh gak papa dong ka, kalau boleh aku tebak nih nanti bakalan ditembak Patran deh” ucap Okta sambil menelan burger yang ia genggam.
“Aku masih gak mau pacaran Okta, males males!” balas Ika sambil mengerucutkan bibirnya.
“Udah deh Ka, dia itu kayaknya serius banget sama kamu, masa masih gak percaya aja ada cinta yang tulus, kasihan Patran lho”
“Ah iya bener juga, apa salahnya nyoba sama Patran” ucapku sembari menggaruk garuk kepalaku.
Berkali kali Ika berkaca di cerminnya yang super besar, merapikan baju yang ia kenakan, menata rambut yang sesuai dengan dirinya, dan memakai perhiasan yang pas untuk malam ini. Suara deru motor Patran terdengar, Ika segera meraih tas mungilnya dan menghampiri Patran yang telah siap berangkat.
“Ika..” bisik Patran dengan lembut
“Iya Patran, ada apa?” jawab Ika dengan polosnya.
“Akuu…” belum sempat Patran melanjutkan kalimatnya, Ika melihat orang yang tak asing baginya, mereka adalah Brian dan Venti yang tengah asik makan malam di meja cafe bagian depan, seketika emosinya memuncak dan membuyarkan suasana romantis yang Patran buat. Dendam Ika akan masa lalu kembali meluap, dengan sikap yang diluar kendali Ika meninggalkan Patran dan menghampiri meja mereka dengan emosi yang meluap luap.
“Ada apa Ika?” tanya Brian dengan wajah penuh tanda tanya.
Tanpa banyak bicara Ika menarik taplak meja mereka dengan kasar, makanan dan minuman jatuh berserakan, piring dan gelas telah menjadi pecahan kaca yang tergeletak di lantai cafe.
“IKA! Apa apaan kau ini!!” Brian berdiri dan membentak Ika dengan suara lantang, semua mata tertuju pada mereka. Tanpa merasa bersalah Ika segera meninggalkan mereka.
Satu tahun sendiri tanpa seorang kekasih tak mudah dijalani, ia selalu berkeinginan untuk memiliki seseorang yang mendampinginya tapi Ika takut akan luka lama akan terulang kembali. Masa SMA kini telah berakhir akan tetapi perselisihan di antara mereka tetap berlanjut, entah sampai kapan.
“Hey ka! Ngelamun aja, mikirin apaan ka?” teriak Okta dari kejauhan.
“Ta, besok aku udah harus pindah ke Bali, keputusanku udah pasti buat kuliah di luar kota bahkan luar propinsi” jawabku sambil terisak di bahu Okta.
“Iya Ka, aku ngerti kok, aku selalu dukung apa yang kamu anggap baik untuk masa depanmu” ucap Okta dengan lirih sambil memeluk Ika.
“Iya makasih Ta, teman-teman gak ada yang tau soal ini kan?”
“Nggak ada Ka, cuma aku yang tau” Okta melontarkan senyuman manisnya untuk menenangkan Ika sekaligus menjadi senyum terakhir yang Ika lihat.
“Selamat tinggal teman temanku, selamat tinggal sahabatku, selamat tinggal masa laluku. Akan selalu ku kenang kalian sebagai pelajaran hidup yang sangat berarti bagiku.”
Kalimat terakhir yang Ika tulis dalam lembaran terakhir diarynya. Dibukanya lagi halaman awal disaat awal SMA, Ika hanya tersenyum melihat betapa susah, sedih dan bahagia yang dirasakannya dulu saat pertama kali SMA serta seseorang yang amat berarti bagi Ika dulu. Ika kembali menutup lembaran diarynya. Sengaja Ika tidak membawa diary yang telah habis itu, ia tinggalkan di kamar sebagai tanda masa lalu yang ia tulis di setiap lembarannya akan menjadi masa lalu dan tak perlu untuk dikenang ataupun diungkit kembali.
—
“Ika, aku merindukanmu” gerutu Brian dalam hati. Betapa lamanya Brian tak berkomunikasi sedikit pun dengan Ika dan saat ini Brian benar-benar merindukan Ika. Brian tak sanggup lagi menahan rindu yang dirasakannya sejak dulu, bahkan sejak Brian mengatakan Ika telah berubah rindu itu semakin menjadi jadi. Brian hanya memandangi foto Ika yang masih tersisa, hanya memandangi tanpa berkata apapun.
Brian berdiri dengan sigap lalu meraih jaket dan memakainya, dengan langkah yang cepat Brian mengeluarkan motor dari garasinya dan pergi untuk menemui Ika. Brian hanya ingin meminta maaf atas segala sesuatu yang telah ia lakukan kepada Ika dan mengatakan perasaan Brian yang sesungguhnya. Pikiran Brian tercampur aduk antara rindu dan takut, tak ada sedikit pun rasa benci seperti yang ditunjukan dulu.
“Tok tok tok” Brian mengetuk pintu rumah Ika yang terlihat sunyi.
Tanpa ada jawaban, Brian menerobos masuk rumah Ika. Yang ia lihat hanya rumah kosong dengan sedikit barang yang tertinggal disana. Brian semakin bingung, kemana perginya Ika. Brian mengambil handphone dari saku celananya dan menghubungi Okta, satu satunya sahabat Ika yang paling dekat.
“Halo, Okta?”
“Iya Brian, ada apa?”
“Ika dimana? Kenapa di rumahnya sepi?”
“Oh maaf Brian, Ika dan keluarganya udah pindah ke Bali. Ika juga melanjutkan kuliah disana” jawab Okta dengan terbata bata.
“Kenapa gak ada kabar sama sekali kalau Ika pindah?” nada Brian meninggi.
“Maaf Brian, memang kabar ini hanya aku yang tau, Ika ingin merahasiakannya” nafas Okta mulai tersengal-sengal
“Tapi kenapa ta, kenapa?”
“Mungkin sebaiknya kamu cari diary milik Ika yang ia tinggalkan di rumah”
“Diary? Diary?”
Telepon terputus begitu saja. Berkali kali Brian mencoba menghubungi Okta tetapi tak ada jawaban satu pun dari Okta.
Brian perlahan-lahan mulai mencerna apa yang dikatakan Okta tentang diary Ika. Ia teringat dulu Ika pernah memperlihatkan diarynya kepada Brian tapi ingatan itu samar-samar. Brian mencari diary seisi rumah Ika, di setiap sudut dan cela rumah ia perhatikan baik-baik. Diary itu telah ditemukan Brian di bawah tempat tidur Ika. Ia membuka pelan-pelan isi diary itu dari awal.
Tak satu pun kenangan manis mereka terlewat di diary itu. Kisah indah bahkan foto-foto masih tertata rapi. Brian tersenyum melihat foto mereka dengan penampilan yang seadanya, wajah yang polos tapi tetap serasi. Dibukanya halaman terakhir saat-saat cinta mereka berdua telah usai
“Semenjak kau pergi aku selalu berpura-pura tegar, tapi tak bisa ku pungkiri batinku menangis tapi mata ini tak pernah meneteskan air mata. Disaat kejauhan ku selalu memperhatikanmu, memastikan kau baik-baik saja dan tetap tersenyum tanpa kau tau aku mengawasimu. Disaat ku berpura-pura membencimu, disitulah letak rasa rinduku yang sedalam dalamnya, aku tak bisa mencurahkan kerinduanku. Kasih, aku selalu berharap engkau kembali kepadaku, tapi kenyataan berbeda.. jangankan kembali kepadaku, kau pandang aku layaknya aku orang yang paling kau benci di dunia. Kau membenciku karena sikapku berubah, sedangkan aku terlalu mencintaimu sehingga aku berusaha untuk membencimu dengan merubah semua sikapku, aku berhasil membuatmu membenciku, tapi aku tak berhasil merubah cintaku menjadi benci. Mungkin banyak cowok yang datang mendekatiku, aku membuka hatiku untuk mereka yang mencintaiku tapi itu semua percuma, aku tak bisa memaksakan hati ini, jauh di dalam hati ini masih tersimpan namamu dan berjuta memori indah tentangmu dan aku tak bisa menggantikanmu dengan orang lain. Mungkin aku sudah gila atau cinta mati aku tak perduli, yang ku tau aku mencintaimu walau kau membenciku. Setiap doa yang kupanjatkan kusertakan namamu, aku memelukmu, mendekapmu meski dari kejauhan ku tetap merasakan kehadiranmu. Aku mengerti, cinta tak harus memiliki. Mencintai seseorang tak harus diwujudkan untuk bersama orang itu, cinta yang tulus itu setia menunggu walaupun orang yang kau cinta tidak menginginkanmu. Aku selalu ingat kata kata itu. Bahkan perasaanku ini tak ada yang tau selain diriku, sahabat dekat dan orangtua pun tak tau tentang ini. Itulah sebabnya aku bertahan dalam kesendirian satu tahun ini, itu semua karenamu Brian, karenamu. Hari ini adalah hari terakhir aku disini karena besok aku sekeluarga akan pindah ke Bali, tetapi hanya aku dan Okta yang tau. Aku ingin semua orang yang mengenalku menghargai arti kehadiranku setelah aku pergi. Aku akan selalu merindukanmu Brian. Aku selalu berdoa kepada tuhan agar kelak kau menjadi jodohku”
Tanpa terasa air mata Brian menetes membasahi lembaran buku yang ia genggam erat. Brian tak percaya mantan kekasih yang ia anggap benci menyimpan rasa cinta yang mendalam pada dirinya.
Cerpen Karangan: Nalini Wikasita
“Ka Ika.. coba liat deh pacar barunya Brian anak kelas X itu liatin kamunya gak enak banget! Minta gak akur ya itu anak” cetus okta sambil menepuk bahu Ika dengan keras.
“Udahlah ta, biarin aja Brian putusin aku demi Venti anak baru itu. Toh aku juga gak sedih kan, gak galau kan? Gak sampai bunuh diri kan?” jawab Ika asal asalan.
“Yah lebay banget sih sampai bunuh diri gitu? Gak segitunya lah” sekali lagi Okta menepuk pundak Ika.
“Tapi jujur ya, kamu masih sayang dia? Masih berharap sama Brian?” tambah Okta dengan wajah serius.
“Nggak lah ta, buat apa seriusin orang yang gak pernah serius sama kita? Buat apa berharap sama cowok gak punya hati kayak dia. Udahlah lupain aja ya ta”
“Salut deh sama kamu, bisa setegar itu” Okta mengacungkan dua jempolnya.
Ika menggandeng Okta menuju kelas. Di tengah kerumunan Ika melihat sosok mantan yang saat ini dibencinya. Jarak Brian dan Ika semakin dekat raut wajah penuh emosi memuncak pada benak Ika, ia hanya menjulingkan mata begitu saja saat Brian melewatinya.
Dua bulan belalu hubungan Brian dan Venti tetap bertahan, sekalipun itu Ika tak akan perduli tentang itu karena Ika punya gebetan yang bisa dibilang lebih dari cukup alias banyak. Semenjak putus dengan Brian, Ika tak pernah menjalani hubungan serius hanya sekedar kenal dekat, tapi untuk jadian Ika tak pernah menerima satu pun dari sekian banyak gebetannya.
“Ciee yang sekarang gebetannya delapan bisa dibagi bagi tuh”
Pesan singkat tertera di layar handphoneku membuat Ika tertawa girang melihat sms Okta. Ketika jari-jari Ika dengan cepat membalas pesan singkat Okta, tiba-tiba satu pesan singkat yang sempat membuat Ika tersentak. Jari Ika dengan tangkas membatalkan pesan yang sedang diketik dan langsung membuka pesan singkat yang baru masuk.
“Kamu sekarang berubah, kamu bukan Ika yang dulu ku kenal”
Mata Ika membelalak lebar membaca pesan Brian dengan teliti. Ia semakin tak mengerti apa yang dimaksud Brian
“Maksudnya apa?” Balas Ika dengan cepat.
“Kamu berubah, Ika yang dulu ku kenal setia dan tak suka mempermainkan perasaan orang lain. Ika yang kukenal dulu bukan orang pedendam seperti sekarang. Ika yang kukenal dulu suka memberikan senyum manisnya kepadaku, bukan menampakkan wajah yang muram dan penuh dendam, aku kecewa”
“Itu bukan urusanmu, kamu hanya MANTANKU.”
Ika membalas pesan Brian dengan singkat dan dingin bahkan tak memberi alasan apapun.
“Aku kecewa, jangan pernah anggap aku mantanmu dan aku gak akan anggap kamu sebagai mantanku”
“Oke!”
Ika mengakhiri percakapannya dengan jawaban yang singkat dan pedas. Sepanjang dan seruntut apapun penjelasan Brian mengenai Ika akan dibalas dingin oleh Ika. Sekelibat bayangan memori tentang Brian memenuhi otaknya, tetapi Ika membiarkan otaknya mengingat memori indah tentang Brian. Ika meraih album foto yang ia letakkan di bawah tempat tidurnya, dilihatnya foto dimana saat mereka masih bersama, sebelum ada Venti hadir dalam kehidupan Brian. Ika hanya tersenyum dan mengambil foto-foto itu dari tempatnya, ditempelnya foto-foto itu pada lembaran diarynya.
“Ta, gimana nih? Nanti malem minggu diajak Patran makan malam. Ah males banget”
“loh gak papa dong ka, kalau boleh aku tebak nih nanti bakalan ditembak Patran deh” ucap Okta sambil menelan burger yang ia genggam.
“Aku masih gak mau pacaran Okta, males males!” balas Ika sambil mengerucutkan bibirnya.
“Udah deh Ka, dia itu kayaknya serius banget sama kamu, masa masih gak percaya aja ada cinta yang tulus, kasihan Patran lho”
“Ah iya bener juga, apa salahnya nyoba sama Patran” ucapku sembari menggaruk garuk kepalaku.
Berkali kali Ika berkaca di cerminnya yang super besar, merapikan baju yang ia kenakan, menata rambut yang sesuai dengan dirinya, dan memakai perhiasan yang pas untuk malam ini. Suara deru motor Patran terdengar, Ika segera meraih tas mungilnya dan menghampiri Patran yang telah siap berangkat.
“Ika..” bisik Patran dengan lembut
“Iya Patran, ada apa?” jawab Ika dengan polosnya.
“Akuu…” belum sempat Patran melanjutkan kalimatnya, Ika melihat orang yang tak asing baginya, mereka adalah Brian dan Venti yang tengah asik makan malam di meja cafe bagian depan, seketika emosinya memuncak dan membuyarkan suasana romantis yang Patran buat. Dendam Ika akan masa lalu kembali meluap, dengan sikap yang diluar kendali Ika meninggalkan Patran dan menghampiri meja mereka dengan emosi yang meluap luap.
“Ada apa Ika?” tanya Brian dengan wajah penuh tanda tanya.
Tanpa banyak bicara Ika menarik taplak meja mereka dengan kasar, makanan dan minuman jatuh berserakan, piring dan gelas telah menjadi pecahan kaca yang tergeletak di lantai cafe.
“IKA! Apa apaan kau ini!!” Brian berdiri dan membentak Ika dengan suara lantang, semua mata tertuju pada mereka. Tanpa merasa bersalah Ika segera meninggalkan mereka.
Satu tahun sendiri tanpa seorang kekasih tak mudah dijalani, ia selalu berkeinginan untuk memiliki seseorang yang mendampinginya tapi Ika takut akan luka lama akan terulang kembali. Masa SMA kini telah berakhir akan tetapi perselisihan di antara mereka tetap berlanjut, entah sampai kapan.
“Hey ka! Ngelamun aja, mikirin apaan ka?” teriak Okta dari kejauhan.
“Ta, besok aku udah harus pindah ke Bali, keputusanku udah pasti buat kuliah di luar kota bahkan luar propinsi” jawabku sambil terisak di bahu Okta.
“Iya Ka, aku ngerti kok, aku selalu dukung apa yang kamu anggap baik untuk masa depanmu” ucap Okta dengan lirih sambil memeluk Ika.
“Iya makasih Ta, teman-teman gak ada yang tau soal ini kan?”
“Nggak ada Ka, cuma aku yang tau” Okta melontarkan senyuman manisnya untuk menenangkan Ika sekaligus menjadi senyum terakhir yang Ika lihat.
“Selamat tinggal teman temanku, selamat tinggal sahabatku, selamat tinggal masa laluku. Akan selalu ku kenang kalian sebagai pelajaran hidup yang sangat berarti bagiku.”
Kalimat terakhir yang Ika tulis dalam lembaran terakhir diarynya. Dibukanya lagi halaman awal disaat awal SMA, Ika hanya tersenyum melihat betapa susah, sedih dan bahagia yang dirasakannya dulu saat pertama kali SMA serta seseorang yang amat berarti bagi Ika dulu. Ika kembali menutup lembaran diarynya. Sengaja Ika tidak membawa diary yang telah habis itu, ia tinggalkan di kamar sebagai tanda masa lalu yang ia tulis di setiap lembarannya akan menjadi masa lalu dan tak perlu untuk dikenang ataupun diungkit kembali.
—
“Ika, aku merindukanmu” gerutu Brian dalam hati. Betapa lamanya Brian tak berkomunikasi sedikit pun dengan Ika dan saat ini Brian benar-benar merindukan Ika. Brian tak sanggup lagi menahan rindu yang dirasakannya sejak dulu, bahkan sejak Brian mengatakan Ika telah berubah rindu itu semakin menjadi jadi. Brian hanya memandangi foto Ika yang masih tersisa, hanya memandangi tanpa berkata apapun.
Brian berdiri dengan sigap lalu meraih jaket dan memakainya, dengan langkah yang cepat Brian mengeluarkan motor dari garasinya dan pergi untuk menemui Ika. Brian hanya ingin meminta maaf atas segala sesuatu yang telah ia lakukan kepada Ika dan mengatakan perasaan Brian yang sesungguhnya. Pikiran Brian tercampur aduk antara rindu dan takut, tak ada sedikit pun rasa benci seperti yang ditunjukan dulu.
“Tok tok tok” Brian mengetuk pintu rumah Ika yang terlihat sunyi.
Tanpa ada jawaban, Brian menerobos masuk rumah Ika. Yang ia lihat hanya rumah kosong dengan sedikit barang yang tertinggal disana. Brian semakin bingung, kemana perginya Ika. Brian mengambil handphone dari saku celananya dan menghubungi Okta, satu satunya sahabat Ika yang paling dekat.
“Halo, Okta?”
“Iya Brian, ada apa?”
“Ika dimana? Kenapa di rumahnya sepi?”
“Oh maaf Brian, Ika dan keluarganya udah pindah ke Bali. Ika juga melanjutkan kuliah disana” jawab Okta dengan terbata bata.
“Kenapa gak ada kabar sama sekali kalau Ika pindah?” nada Brian meninggi.
“Maaf Brian, memang kabar ini hanya aku yang tau, Ika ingin merahasiakannya” nafas Okta mulai tersengal-sengal
“Tapi kenapa ta, kenapa?”
“Mungkin sebaiknya kamu cari diary milik Ika yang ia tinggalkan di rumah”
“Diary? Diary?”
Telepon terputus begitu saja. Berkali kali Brian mencoba menghubungi Okta tetapi tak ada jawaban satu pun dari Okta.
Brian perlahan-lahan mulai mencerna apa yang dikatakan Okta tentang diary Ika. Ia teringat dulu Ika pernah memperlihatkan diarynya kepada Brian tapi ingatan itu samar-samar. Brian mencari diary seisi rumah Ika, di setiap sudut dan cela rumah ia perhatikan baik-baik. Diary itu telah ditemukan Brian di bawah tempat tidur Ika. Ia membuka pelan-pelan isi diary itu dari awal.
Tak satu pun kenangan manis mereka terlewat di diary itu. Kisah indah bahkan foto-foto masih tertata rapi. Brian tersenyum melihat foto mereka dengan penampilan yang seadanya, wajah yang polos tapi tetap serasi. Dibukanya halaman terakhir saat-saat cinta mereka berdua telah usai
“Semenjak kau pergi aku selalu berpura-pura tegar, tapi tak bisa ku pungkiri batinku menangis tapi mata ini tak pernah meneteskan air mata. Disaat kejauhan ku selalu memperhatikanmu, memastikan kau baik-baik saja dan tetap tersenyum tanpa kau tau aku mengawasimu. Disaat ku berpura-pura membencimu, disitulah letak rasa rinduku yang sedalam dalamnya, aku tak bisa mencurahkan kerinduanku. Kasih, aku selalu berharap engkau kembali kepadaku, tapi kenyataan berbeda.. jangankan kembali kepadaku, kau pandang aku layaknya aku orang yang paling kau benci di dunia. Kau membenciku karena sikapku berubah, sedangkan aku terlalu mencintaimu sehingga aku berusaha untuk membencimu dengan merubah semua sikapku, aku berhasil membuatmu membenciku, tapi aku tak berhasil merubah cintaku menjadi benci. Mungkin banyak cowok yang datang mendekatiku, aku membuka hatiku untuk mereka yang mencintaiku tapi itu semua percuma, aku tak bisa memaksakan hati ini, jauh di dalam hati ini masih tersimpan namamu dan berjuta memori indah tentangmu dan aku tak bisa menggantikanmu dengan orang lain. Mungkin aku sudah gila atau cinta mati aku tak perduli, yang ku tau aku mencintaimu walau kau membenciku. Setiap doa yang kupanjatkan kusertakan namamu, aku memelukmu, mendekapmu meski dari kejauhan ku tetap merasakan kehadiranmu. Aku mengerti, cinta tak harus memiliki. Mencintai seseorang tak harus diwujudkan untuk bersama orang itu, cinta yang tulus itu setia menunggu walaupun orang yang kau cinta tidak menginginkanmu. Aku selalu ingat kata kata itu. Bahkan perasaanku ini tak ada yang tau selain diriku, sahabat dekat dan orangtua pun tak tau tentang ini. Itulah sebabnya aku bertahan dalam kesendirian satu tahun ini, itu semua karenamu Brian, karenamu. Hari ini adalah hari terakhir aku disini karena besok aku sekeluarga akan pindah ke Bali, tetapi hanya aku dan Okta yang tau. Aku ingin semua orang yang mengenalku menghargai arti kehadiranku setelah aku pergi. Aku akan selalu merindukanmu Brian. Aku selalu berdoa kepada tuhan agar kelak kau menjadi jodohku”
Tanpa terasa air mata Brian menetes membasahi lembaran buku yang ia genggam erat. Brian tak percaya mantan kekasih yang ia anggap benci menyimpan rasa cinta yang mendalam pada dirinya.
Cerpen Karangan: Nalini Wikasita
Calon Gebetan Untuk Mantanku
Tak pernah terpikir sebelumnya, kalau aku harus kembali akur
dengannya. Hal yang lebih gila adalah ketika sahabat lamaku Alya,
sahabat lamaku semenjak SMP naksir dengannya lewat saranku sendri.
“Bagaimana mungkin?” Aku selalu tak habis pikir dengan apa yang telah
aku lakukan. Ini semua bermula semenjak percakapan online di malam itu.
“Hai kamu gak pulang kampung kan libur?”, sapaku memulai dengan iseng.
“gak, lagi males..”, balasnya kemudian.
Setelah itu beberapa pertanyaan dan berikut balasannya pun berlangsung. Hingga sampailah pada pernyataan yang tak tahu mengapa bisa terlontar begitu saja dariku.
“btw temanku ada yang tisam amamu loh..” Aku menunggu reaksinya.
“teman atau kamu..?”, sahutnya kemudian.
Sejenak aku terpaku oleh kata-katanya. Lalu aku balas kemudian
“teman.. Kalo aku gak mungkinlah..”
Tak lama kemudian box online-nya muncul.
“iya ea..”
“Lalu gimana tuh, temanku?”, ujarku kemudian karena masih penasaran dengan tanggapannya.
Tak kusangka malah ditanggapinya dengan serius. Dia malah bertanya siapa dia, tinggalnya dimana, apa kegiatannya. Trus kapan bisa ketemuannya.
Hmmm, mampuslah aku termakan sama omonganku sendiri. “Tadi aku kan hanya iseng”, pikirku.
Ada bagusnya sih aku punya kesempatan buat ngerjain dia. Dia kan play boy cap “cacing” hehehe.
Tapi yang aku pusingkan, siapalah orang yang bisa membantuku dalam hal rumit ini. Tadinya kan aku cuma ngarang tentang temanku yang tisam sama dia. Aku sekedar ingin tahu reaksinya saja. Secara teman-temanku sekarang ini pada liburan pulang kampung. Maklum pergantian semester baru anak kuliahan sekaligus menjelang hari raya lebaran.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku nama Alya. Yah Alya sahabat lamaku.
Saat Gerald nanyain info tentang temanku yang tisam itu. Aku sebut saja ciri-ciri yang mengarah pada Alya. Aku belum punya pilihan ide yang lain. Kebetulan dia sedang berlibur. Itulah jadi alasanku untuk sementara mencegah permintaan pertemuan yang diajukan Gerald.
Seiring berjalannya waktu, aku harus pusing sendiri dengan ulahku. Aku harus berusaha menghubungi Alya dan meminta tolong padanya.
Alya malah tertawa geli melihatku saat mendengar permintaanku untuk berpura-pura jadi objek yang tergila gila pada Gerald. Tentu saja dia menolak dan tidak mau terseret oleh masalahku.
“Alya.. please help me!!”
Aku kembali membujuk Alya, bagaimanapun caranya.
Aku memberikan nomer hp, serta nama fb Gerald pada Alya. Setidaknya setelah melihat foto orangnya dia bisa mempertimbangkan kembali permintaanku.
Aku yakin setelah melihat orangnya, kemungkinan besar dia akan terpikat. Secara aku sudah pengalaman dengan Gerald. Hanya saja mungkin kami bukan jodoh. Sehingga kami pun terpisah di tengah jalan.
Beberapa hari setelah itu, Alya belum juga memberi tanggapan. Sementara Gerald selalu nanyain perkembangan info tentang teman misteriusku itu. Aku selalu mengelak dan mencari-cari alasan ketika Gerald meminta nomer hape atau nama fb teman yang aku maksud.
Beberapa hari kemudian, Alya mengkonfirmasi tentang pertemanannya dengan Gerald. Bahkan Gerald dan Alya sudah beberapa kali saling smsan. Katanya sih Gerald orangnya lumayan seru.
“Tuh kan Alya.. apa aku bilang belum ketemu orangnya saja kamu udah bilang dia orangnya seru”, dia pun cengar-cengir tak menentu.
Beberapa minggu kemudian Alya menghubungiku, menurut kata-kata yang aku dengar dia mulai menyukai Gerald. Awalnya aku senang aku terbebas dari masalah tapi mengapa tiba-tiba perasaanku diterpa gejolak yang tidak bisa kujelaskan. Beberapa waktu berikutnya Alya juga lebih sering menghubungiku dia bilang sebuah keberuntungan baginya bisa mengenal Gerald. Dia selalu bercerita tentang Gerald.
Dua minggu belakangan Alya tidak pernah menghubungiku lagi. Mungkin dia sibuk atau mungkinkah.. ah aku cepat-cepat menepis dugaan yang meresahkan pikiranku. Hingga aku sendirilah yang berinisiatif akan menghubunginya. Tapi kemudian aku berpikir dua kali untuk menghubunginya duluan apalagi untuk sekedar ingin tahu tentang kelanjutan cerita tentang dia dengan Gerald.
Beberapa bulan kemudian..
teringat masa-masa bersama Gerald disini, tempat ini adalah tempat favoritku beli es krim. Biasanya Gerald selalu tak habis pikir denganku, aku selalu minta dibeliin es krim rasa vanilla dan harus disini tempatnya. Dia akan menggeleng kepala lalu mengacak-acak rambutku sesukanya.
Ah.. ini tidak boleh terjadi. Aku berusaha menepis kenangan itu. Aku segera melahap es krim di tanganku lalu beranjak pergi.
Astaga!! aku berpapasan dengan Gerald di pintu keluar.
“Nisa.. sedang apa disini?”, sahut Alya tiba-tiba menyapa duluan.
Hmm.. aku.. akuuu.. aku kebingungan dan tidak tau harus bilang apa.
“Ehm.. eh kalian berdua..”, sahutku kemudian dengan kaku.
“Oh iya, isha.. ekmm maksudku nisa aku sama alya baru saja jadian. Apa kamu gak mau kasih selamat nih sama kita berdua. Btw thanks ya nis”. Kalimat itu tiba-tiba terasa menyengat sekujur tubuhku. Kata-kata itu terlontar dari Gerald sambil mempererat genggaman tangannya dengan Alya.
“Oh.. iya pasti. Aku turut senang selamat ya Al, rald kalian pasangan yang serasi”, sahutku sambil mengulurkan tangan.
Ternyata Gerald dan Alya sudah jadian. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan dadaku terasa sesak. Aku segera pergi meninggalkan mereka.
“Apa yang sedang kurasakan? Mengapa aku seolah tidak rela melihat kemesraan mereka? Apakah aku sedang cemburu? Ah tidak!! mantan adalah mantan. Tidak boleh ada perasaan lagi”, aku berusaha menepis pikiran itu. Aku berbaring dan mencoba memejamkan mataku dan kemudian terlelap.
Di kampus aku tidak berani lagi untuk berpapasan dengan Gerald. Aku tidak bisa. Melihatnya membuatku merasa muak. “Bukankah ini yang kamu inginkan?”, kata-kata itu selalu hadir dan menjadi bayang-bayang dalam pikiranku.
Cerpen Karangan: Dewi Samosir
“Hai kamu gak pulang kampung kan libur?”, sapaku memulai dengan iseng.
“gak, lagi males..”, balasnya kemudian.
Setelah itu beberapa pertanyaan dan berikut balasannya pun berlangsung. Hingga sampailah pada pernyataan yang tak tahu mengapa bisa terlontar begitu saja dariku.
“btw temanku ada yang tisam amamu loh..” Aku menunggu reaksinya.
“teman atau kamu..?”, sahutnya kemudian.
Sejenak aku terpaku oleh kata-katanya. Lalu aku balas kemudian
“teman.. Kalo aku gak mungkinlah..”
Tak lama kemudian box online-nya muncul.
“iya ea..”
“Lalu gimana tuh, temanku?”, ujarku kemudian karena masih penasaran dengan tanggapannya.
Tak kusangka malah ditanggapinya dengan serius. Dia malah bertanya siapa dia, tinggalnya dimana, apa kegiatannya. Trus kapan bisa ketemuannya.
Hmmm, mampuslah aku termakan sama omonganku sendiri. “Tadi aku kan hanya iseng”, pikirku.
Ada bagusnya sih aku punya kesempatan buat ngerjain dia. Dia kan play boy cap “cacing” hehehe.
Tapi yang aku pusingkan, siapalah orang yang bisa membantuku dalam hal rumit ini. Tadinya kan aku cuma ngarang tentang temanku yang tisam sama dia. Aku sekedar ingin tahu reaksinya saja. Secara teman-temanku sekarang ini pada liburan pulang kampung. Maklum pergantian semester baru anak kuliahan sekaligus menjelang hari raya lebaran.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku nama Alya. Yah Alya sahabat lamaku.
Saat Gerald nanyain info tentang temanku yang tisam itu. Aku sebut saja ciri-ciri yang mengarah pada Alya. Aku belum punya pilihan ide yang lain. Kebetulan dia sedang berlibur. Itulah jadi alasanku untuk sementara mencegah permintaan pertemuan yang diajukan Gerald.
Seiring berjalannya waktu, aku harus pusing sendiri dengan ulahku. Aku harus berusaha menghubungi Alya dan meminta tolong padanya.
Alya malah tertawa geli melihatku saat mendengar permintaanku untuk berpura-pura jadi objek yang tergila gila pada Gerald. Tentu saja dia menolak dan tidak mau terseret oleh masalahku.
“Alya.. please help me!!”
Aku kembali membujuk Alya, bagaimanapun caranya.
Aku memberikan nomer hp, serta nama fb Gerald pada Alya. Setidaknya setelah melihat foto orangnya dia bisa mempertimbangkan kembali permintaanku.
Aku yakin setelah melihat orangnya, kemungkinan besar dia akan terpikat. Secara aku sudah pengalaman dengan Gerald. Hanya saja mungkin kami bukan jodoh. Sehingga kami pun terpisah di tengah jalan.
Beberapa hari setelah itu, Alya belum juga memberi tanggapan. Sementara Gerald selalu nanyain perkembangan info tentang teman misteriusku itu. Aku selalu mengelak dan mencari-cari alasan ketika Gerald meminta nomer hape atau nama fb teman yang aku maksud.
Beberapa hari kemudian, Alya mengkonfirmasi tentang pertemanannya dengan Gerald. Bahkan Gerald dan Alya sudah beberapa kali saling smsan. Katanya sih Gerald orangnya lumayan seru.
“Tuh kan Alya.. apa aku bilang belum ketemu orangnya saja kamu udah bilang dia orangnya seru”, dia pun cengar-cengir tak menentu.
Beberapa minggu kemudian Alya menghubungiku, menurut kata-kata yang aku dengar dia mulai menyukai Gerald. Awalnya aku senang aku terbebas dari masalah tapi mengapa tiba-tiba perasaanku diterpa gejolak yang tidak bisa kujelaskan. Beberapa waktu berikutnya Alya juga lebih sering menghubungiku dia bilang sebuah keberuntungan baginya bisa mengenal Gerald. Dia selalu bercerita tentang Gerald.
Dua minggu belakangan Alya tidak pernah menghubungiku lagi. Mungkin dia sibuk atau mungkinkah.. ah aku cepat-cepat menepis dugaan yang meresahkan pikiranku. Hingga aku sendirilah yang berinisiatif akan menghubunginya. Tapi kemudian aku berpikir dua kali untuk menghubunginya duluan apalagi untuk sekedar ingin tahu tentang kelanjutan cerita tentang dia dengan Gerald.
Beberapa bulan kemudian..
teringat masa-masa bersama Gerald disini, tempat ini adalah tempat favoritku beli es krim. Biasanya Gerald selalu tak habis pikir denganku, aku selalu minta dibeliin es krim rasa vanilla dan harus disini tempatnya. Dia akan menggeleng kepala lalu mengacak-acak rambutku sesukanya.
Ah.. ini tidak boleh terjadi. Aku berusaha menepis kenangan itu. Aku segera melahap es krim di tanganku lalu beranjak pergi.
Astaga!! aku berpapasan dengan Gerald di pintu keluar.
“Nisa.. sedang apa disini?”, sahut Alya tiba-tiba menyapa duluan.
Hmm.. aku.. akuuu.. aku kebingungan dan tidak tau harus bilang apa.
“Ehm.. eh kalian berdua..”, sahutku kemudian dengan kaku.
“Oh iya, isha.. ekmm maksudku nisa aku sama alya baru saja jadian. Apa kamu gak mau kasih selamat nih sama kita berdua. Btw thanks ya nis”. Kalimat itu tiba-tiba terasa menyengat sekujur tubuhku. Kata-kata itu terlontar dari Gerald sambil mempererat genggaman tangannya dengan Alya.
“Oh.. iya pasti. Aku turut senang selamat ya Al, rald kalian pasangan yang serasi”, sahutku sambil mengulurkan tangan.
Ternyata Gerald dan Alya sudah jadian. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan dadaku terasa sesak. Aku segera pergi meninggalkan mereka.
“Apa yang sedang kurasakan? Mengapa aku seolah tidak rela melihat kemesraan mereka? Apakah aku sedang cemburu? Ah tidak!! mantan adalah mantan. Tidak boleh ada perasaan lagi”, aku berusaha menepis pikiran itu. Aku berbaring dan mencoba memejamkan mataku dan kemudian terlelap.
Di kampus aku tidak berani lagi untuk berpapasan dengan Gerald. Aku tidak bisa. Melihatnya membuatku merasa muak. “Bukankah ini yang kamu inginkan?”, kata-kata itu selalu hadir dan menjadi bayang-bayang dalam pikiranku.
Cerpen Karangan: Dewi Samosir
Air Mataku
Ini terjadi ketika aku berada di bangku SMA, tepatnya pada kelas 3,
aku bernama Tia. Kisah ini dimulai sejak aku mengenal Dika, Dika adalah
salah satu mahasiswa di Universitas Negeri semester 4. Aku berhubungan
baik dengan dia, dia sangatlah lugu dan polos, aku juga mengaggumi
sifatnya yang bertanggung jawab.
Disaat dika menyatakan cinta kepadaku, dengan seketika itu aku langsung menerimanya. Aku bahagia ketika bersamanya, ketika dia libur kuliah atau gak ada kuliah, dia menyempatkan diri untuk menjemputku sekolah, bahkan kadang juga dia mengantarku ke sekolah. Dika sering sekali main ke rumah, sampai tak kenal waktu, malah tak jarang dia sampai seharian di rumah, kadang kita juga ketiduran ketika menonton acara TV.
Aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Dika juga tidak pernah absen malam mingguan di rumah bersamaku, tapi yang tak kusuka dengan dika, dika jarang mengajakku pergi ke luar, malah hampir tidak pernah, ataupun pernah mesti hanya sebentar. Dika lebih suka main di rumah daripada keluar, padahal aku juga ingin jalan-jalan keluar.
Aku pernah mengajaknya untuk jalan ke pantai, tapi dia menolaknya. Dia berkata “Dari pada main ke pantai, mending aku main ke rumahmu aja, kalau kita keluar aku sungkan sama mama papamu” lalu aku menjawab “tapi aku sudah ijin sama mama dan mama mengijinkan” tapi dika lebih memilih main ke rumah. aku pun mulai berniat menjauh darinya, karena aku merasa bosan dengan dika.
Di saat dika ada kuliah aku sering keluar sama cowok lain dia bernama Dama. Setiap aku mau keluar orang yang pertama aku ajak adalah dama, karena aku yakin ketika mengajak dika pasti dia menolaknya. Tapi walaupun aku sering jalan sama dama, dika masih sering datang ke rumah dan masih belum absen dalam malam minggu, dika sama sekali tidak mencurigaiku.
Saat itu pada malam minggu dika datang ke rumah untuk menemuiku, Dika tiba-tiba aneh, dia selalu bilang “aku tak ingin kehilanganmu” dika ingin selalu bersamaku, aku mulai kasihan kepada dika, dan ketika dia pulang pun ibuku menasihatikku
“Apa kamu gak kasihan sama Dika, dengan apa yang kamu lakukan?”
“Kasihan sih bu, tapi kalau aku ingin keluar, dika mesti gak mau!”
“Ngapain keluar segala, kan bisa pacaran di rumah”
“Iya tapi aku bosan bu”
“Apa kamu gak mikir perasaan Dika, kalau dia mengetahui kamu sering keluar dengan cowok lain?”
“Biarin dah bu”
Aku masih sering jalan keluar sama dama, dan Dika masih sama sekali tidak mencurigaiku.
Tidak terasa umurku mulai bertambah, pada waktu malam sabtu dika datang ke rumahku, karena aku ingin melewati malam pergantian umurku dengan dika, dika berada di rumahku sampai larut malam. Di saat waktu menunjukan jam 12 malam tepat, Dika mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan membawa kue tart yang telah dipesan dia mencium keningku sambil berkata “Aku sayang kamu, jangan pernah tinggalin aku”, selepas itu sekitaran jam 1 dika pamit untuk pulang.
Untuk keesokan harinya pas malam minggu aku menyuruh Dika untuk datang ke rumah, tapi tiba-tiba dika menolaknya dengan alasan yang tak jelas, aku mulai curiga kepada Dika, karena dia tidak bersikap seperi biasanya, lalu aku marah kepadanya dan memaksa dika untuk datang ke rumah, tapi dika tidak membalas smsku dan tak mengangkat telfonku, aku merasa malam minggu sendirian, lalu aku mencoba sms dama untuk datang ke rumah. Kita berdua ngobrol dan saling berbagi. Di tengah-tengah aku dan dama ngobrol, tiba-tiba toni menelfon aku, toni adalah sahabat baik dika, dia mengabariku kalau dia kecelakaan dan kini dia dirawat di rumah sakit. Aku langsung menyuruh dama untuk pulang dan bergegas menemui dika di rumah sakit, sesampai aku di rumah sakit, tiba-tiba toni menariku keluar dan memarahiku sambil dia menangis.
“kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu tega kepada Dika?”
“Memang Dika kenapa?”
“Dika telah pergi ke surga dan membawa cinta tulusnya yang telah km sia-siakan”
aku langsung mengangis sejadi-jadinya sambil berteriak nama Dika dengan kencang.
“Percuma kamu memanggil nama Dika, dia tidak akan pernah kembali, asal kamu tau penyebab Dika kecelakaan adalah kamu!”
“Kenapa aku?” sambil menangis
“Kamu masih gak menyadarinya?, kalau kamu gak memaksa Dika untuk menemuimu, itu semua gak akan terjadi. Dika kecelakaan pada waktu pulang dari rumah kamu, padahal dia dalam keadaan sakit, habis semalaman dari rumah kamu kemarin, kenapa kamu masih tega kepada Dika?” masih menangis
“Tapi Dika tidak datang ke rumah?”
“Asal kamu tau, Dika tadi ke rumahmu tapi setelah sampai disana, Dika melihat kamu bersama cowok lain di rumahmu, Terus dia tidak berani mengganggumu dan memutuskan untuk pulang, di perjalanan pulang Dika mengalami kecelakaan”
Aku langsung jatuh berlutut sambil terus menangis dengan kencang
“Percuma kamu menangis, Dika sudah ada di surga dan gak akan pernah kembali. Aku heran kepada Dika, kenapa dia sebegitu sayang kepadamu, tetapi orang yang disayang malah mengecewakanya”
Aku masih tidak bisa menghentikan air mataku “Dika maafkan aku, aku menyayangimu, kamu meminta aku untuk tidak meninggalkanmu, tapi kenapa kamu meninggalkanku”
“Kalau kamu menyayanginya, kenapa kamu selingkuh?, padahal Dika sudah lama mengetahui perselingkuhanmu, dia dikasih tau oleh mama kamu sendiri, mamamu sangatlah sayang pada Dika, dia sudah menganggap Dika sebagai anaknya sendiri, tapi Dika masih terus bersabar dan selalu menyembunyikanya dari kamu”
Tangisanku semakin menjadi, “Kenapa Dika tidak bilang itu semua, aku berbuat kayak gitu karena dika selalu menolak kalau aku ajak jalan”
“Kenapa kamu masih sempat berfikir kayak gitu, Dika melakukan itu semua atas pesan dari papamu, papamu dulu sempat berpesan sama dika, “kalau pacaran di rumah aja, jangan keluar ke tempat-tempat yang gak jelas””
“Kenapa dika tidak memberi tahu kepadaku, kalau itu perintah papa”
“Satu jawaban dari Dika: karena dia menyayangimu dan keluargamu”
Air mataku terasa tidak ada hentinya meneteskan, setelah mendengar semua cerita dari Toni.
Keesokan harinya aku dan sekeluarga datang di acara pemakaman Dika, dan aku masih tidak bisa menghentikan air mataku yang terus mengalir. Setelah semua pada pulang aku masih ada dipemakaman Dika, aku memeluk erat batu nisan “Dika maafkan aku, aku janji, aku disini akan terus selalu menyayangimu, karena kamu yang terbaik bagiku, aku selalu mencintaimu, bahagialah kamu di surga aku disini akan selalu mendoakanmu”
Sesampai aku di rumah, aku masih teringat saat-saat bersamanya, aku rindu saat kita berdua bercanda, ketika menonton TV pun aku masih saja teringat tentangnya, hingga air mata menetes sendiri tanpa kusadar, tak ku sangka kini ku benar-benar kehilangan Dika untuk selamanya.
Cerpen Karangan: Dewan Mahardika
Disaat dika menyatakan cinta kepadaku, dengan seketika itu aku langsung menerimanya. Aku bahagia ketika bersamanya, ketika dia libur kuliah atau gak ada kuliah, dia menyempatkan diri untuk menjemputku sekolah, bahkan kadang juga dia mengantarku ke sekolah. Dika sering sekali main ke rumah, sampai tak kenal waktu, malah tak jarang dia sampai seharian di rumah, kadang kita juga ketiduran ketika menonton acara TV.
Aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Dika juga tidak pernah absen malam mingguan di rumah bersamaku, tapi yang tak kusuka dengan dika, dika jarang mengajakku pergi ke luar, malah hampir tidak pernah, ataupun pernah mesti hanya sebentar. Dika lebih suka main di rumah daripada keluar, padahal aku juga ingin jalan-jalan keluar.
Aku pernah mengajaknya untuk jalan ke pantai, tapi dia menolaknya. Dia berkata “Dari pada main ke pantai, mending aku main ke rumahmu aja, kalau kita keluar aku sungkan sama mama papamu” lalu aku menjawab “tapi aku sudah ijin sama mama dan mama mengijinkan” tapi dika lebih memilih main ke rumah. aku pun mulai berniat menjauh darinya, karena aku merasa bosan dengan dika.
Di saat dika ada kuliah aku sering keluar sama cowok lain dia bernama Dama. Setiap aku mau keluar orang yang pertama aku ajak adalah dama, karena aku yakin ketika mengajak dika pasti dia menolaknya. Tapi walaupun aku sering jalan sama dama, dika masih sering datang ke rumah dan masih belum absen dalam malam minggu, dika sama sekali tidak mencurigaiku.
Saat itu pada malam minggu dika datang ke rumah untuk menemuiku, Dika tiba-tiba aneh, dia selalu bilang “aku tak ingin kehilanganmu” dika ingin selalu bersamaku, aku mulai kasihan kepada dika, dan ketika dia pulang pun ibuku menasihatikku
“Apa kamu gak kasihan sama Dika, dengan apa yang kamu lakukan?”
“Kasihan sih bu, tapi kalau aku ingin keluar, dika mesti gak mau!”
“Ngapain keluar segala, kan bisa pacaran di rumah”
“Iya tapi aku bosan bu”
“Apa kamu gak mikir perasaan Dika, kalau dia mengetahui kamu sering keluar dengan cowok lain?”
“Biarin dah bu”
Aku masih sering jalan keluar sama dama, dan Dika masih sama sekali tidak mencurigaiku.
Tidak terasa umurku mulai bertambah, pada waktu malam sabtu dika datang ke rumahku, karena aku ingin melewati malam pergantian umurku dengan dika, dika berada di rumahku sampai larut malam. Di saat waktu menunjukan jam 12 malam tepat, Dika mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan membawa kue tart yang telah dipesan dia mencium keningku sambil berkata “Aku sayang kamu, jangan pernah tinggalin aku”, selepas itu sekitaran jam 1 dika pamit untuk pulang.
Untuk keesokan harinya pas malam minggu aku menyuruh Dika untuk datang ke rumah, tapi tiba-tiba dika menolaknya dengan alasan yang tak jelas, aku mulai curiga kepada Dika, karena dia tidak bersikap seperi biasanya, lalu aku marah kepadanya dan memaksa dika untuk datang ke rumah, tapi dika tidak membalas smsku dan tak mengangkat telfonku, aku merasa malam minggu sendirian, lalu aku mencoba sms dama untuk datang ke rumah. Kita berdua ngobrol dan saling berbagi. Di tengah-tengah aku dan dama ngobrol, tiba-tiba toni menelfon aku, toni adalah sahabat baik dika, dia mengabariku kalau dia kecelakaan dan kini dia dirawat di rumah sakit. Aku langsung menyuruh dama untuk pulang dan bergegas menemui dika di rumah sakit, sesampai aku di rumah sakit, tiba-tiba toni menariku keluar dan memarahiku sambil dia menangis.
“kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu tega kepada Dika?”
“Memang Dika kenapa?”
“Dika telah pergi ke surga dan membawa cinta tulusnya yang telah km sia-siakan”
aku langsung mengangis sejadi-jadinya sambil berteriak nama Dika dengan kencang.
“Percuma kamu memanggil nama Dika, dia tidak akan pernah kembali, asal kamu tau penyebab Dika kecelakaan adalah kamu!”
“Kenapa aku?” sambil menangis
“Kamu masih gak menyadarinya?, kalau kamu gak memaksa Dika untuk menemuimu, itu semua gak akan terjadi. Dika kecelakaan pada waktu pulang dari rumah kamu, padahal dia dalam keadaan sakit, habis semalaman dari rumah kamu kemarin, kenapa kamu masih tega kepada Dika?” masih menangis
“Tapi Dika tidak datang ke rumah?”
“Asal kamu tau, Dika tadi ke rumahmu tapi setelah sampai disana, Dika melihat kamu bersama cowok lain di rumahmu, Terus dia tidak berani mengganggumu dan memutuskan untuk pulang, di perjalanan pulang Dika mengalami kecelakaan”
Aku langsung jatuh berlutut sambil terus menangis dengan kencang
“Percuma kamu menangis, Dika sudah ada di surga dan gak akan pernah kembali. Aku heran kepada Dika, kenapa dia sebegitu sayang kepadamu, tetapi orang yang disayang malah mengecewakanya”
Aku masih tidak bisa menghentikan air mataku “Dika maafkan aku, aku menyayangimu, kamu meminta aku untuk tidak meninggalkanmu, tapi kenapa kamu meninggalkanku”
“Kalau kamu menyayanginya, kenapa kamu selingkuh?, padahal Dika sudah lama mengetahui perselingkuhanmu, dia dikasih tau oleh mama kamu sendiri, mamamu sangatlah sayang pada Dika, dia sudah menganggap Dika sebagai anaknya sendiri, tapi Dika masih terus bersabar dan selalu menyembunyikanya dari kamu”
Tangisanku semakin menjadi, “Kenapa Dika tidak bilang itu semua, aku berbuat kayak gitu karena dika selalu menolak kalau aku ajak jalan”
“Kenapa kamu masih sempat berfikir kayak gitu, Dika melakukan itu semua atas pesan dari papamu, papamu dulu sempat berpesan sama dika, “kalau pacaran di rumah aja, jangan keluar ke tempat-tempat yang gak jelas””
“Kenapa dika tidak memberi tahu kepadaku, kalau itu perintah papa”
“Satu jawaban dari Dika: karena dia menyayangimu dan keluargamu”
Air mataku terasa tidak ada hentinya meneteskan, setelah mendengar semua cerita dari Toni.
Keesokan harinya aku dan sekeluarga datang di acara pemakaman Dika, dan aku masih tidak bisa menghentikan air mataku yang terus mengalir. Setelah semua pada pulang aku masih ada dipemakaman Dika, aku memeluk erat batu nisan “Dika maafkan aku, aku janji, aku disini akan terus selalu menyayangimu, karena kamu yang terbaik bagiku, aku selalu mencintaimu, bahagialah kamu di surga aku disini akan selalu mendoakanmu”
Sesampai aku di rumah, aku masih teringat saat-saat bersamanya, aku rindu saat kita berdua bercanda, ketika menonton TV pun aku masih saja teringat tentangnya, hingga air mata menetes sendiri tanpa kusadar, tak ku sangka kini ku benar-benar kehilangan Dika untuk selamanya.
Cerpen Karangan: Dewan Mahardika
Dia Yang Bodoh!
Langit biru itu berubah menjadi mendung, dan seketika kegelapan
menyelimuti sore menjelang malam itu. Awan yang mendung digantikan
dengan tetesan-tetesan kecil dari langit yang di namakan gerimis, dan
seketika juga tetesan-tetesan air kecil itu berubah menjadi air bah yang
di iringi dengan bunyi gemuruh dari langit yang mencengkam. Tak ada
seorang pun yang akan keluar dari rumahnya, yang mereka lakukan pastinya
mengunci diri di rumah dan mengistirahatkan diri di bawah selimut yang
hangat.
Hujan seperti ini membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas di luar rumah, namun berbeda dengan lelaki ini, Restu namanya. Di kala petir menggelegar dan hujan yang lebat, dia berdiri seperti patung, nampak kaku dan tak bergerak sedikitpun. Baju, celana dan tubuhnya basah di guyur hujan tanpa ampun. Dia tak mampu menghentikan hujan untuk berhenti membasahi baju, celana dan tubuhnya. Toh siapa yang dapat meghentikan hujan? Namun dia dapat menghindar dari hujan, berteduh misalnya. Hanya manusia bodoh sajalah yang melakukan itu, berdiri seperti patung di tengah hujan deras. Kecuali, dia melakukan itu untuk membuktikan perjuangan cintanya. Agar sang gadis tahu bahwa dia teramat mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya, ya apapun!
Namun terkadang, apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sang gadis tak pernah ingin tahu dan tak pernah menghargai perjuangan atau apapun yang Restu lakukan untuknya. Dia tak pernah ingin kehadiran Restu dalam hidupnya, bahkan dia telah menganggap Restu layaknya benda mati. Kejam sekali bukan? Apa susahnya sedikit menghargai perjuangan seseorang untuk dirinya sebagai bukti bahwa lelaki itu sungguh-sungguh mencintainya. Tidak harus dengan mengikat suatu hubungan, besikap baik saja itu sudah cukup. Tak perlu harus Restu melakukan tindakan bodoh yang tak pernah dihargai gadis itu.
“Pergilah! Kamu melakukan hal apapun, aku juga tidak peduli!” teriak Bella dari teras depan rumahnya dengan tanpa memperdulikan tindakan bodoh Restu yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya
Restu hanya menatap gadis itu sambil tersenyum di bibirnya yang pucat karena sudah 1 jam dia berdiri di tengah guyuran hujan lebat, entah apa yang ditunggunya. Rasa simpati atau balasan rasa yang selalu dia pupuk untuk gadis itu, entahlah!
“Berhentilah melakukan tindakan bodoh! Kamu sudah bodoh, jangan buat dirimu menjadi lebih bodoh!” hardik gadis itu dengan suara kerasnya
“Aku akan menunggumu sampai kamu membuka pintu itu selebar-lebarnya.” sekali lagi, Restu hanya tersenyum di bibirnya yang mulai memutih pucat.
“Kamu selalu membuatku ingin mengasihimu, padahal aku muak dengan semua tindakan bodohmu itu.” ucap Bella dengan suara lirihnya sambil menatap Restu dari kejauhan, entah ada rasa iba atau tidak dalam dirinya, yang pasti setelah itu dia hanya menutup pintu dan menghambur masuk kedalam. Jangankan untuk mengizinkan Restu masuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah, tersenyum pun tak dia lakukan.
—
Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu Garasi, dia berlari-lari kecil menghindari guyuran air hujan sambil membawa payung. Bukan untuk melindungi dirinya dari guyuran air hujan, karena dia telah dilindungi dengan payung lain yang bertengger di atas kepalanya yang berambut putih itu.
“Ini payung, Mas. Maaf, Non Bella tidak mau di ganggu.” ucapnya dengan suara yang dibuatnya keras karena suaranya hampir tak terdengar di karenakan bunyi guyuran air hujan yang semakin deras, yang sekarang Restu mengenal siapa wanita paruh baya itu, dia adalah pembantu Keluarga Bella.
“Terimakasih, Mbok. Tapi saya tidak butuh itu, saya masih ingin tetap di sini.” lelaki ini memang keras kepala, tak pernah mengerti apa akibat dari semua tindakan konyolnya
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan raut wajahnya yang simpati, mungkin dia merasa iba dengan Restu namun di sisi lain dia merasa takut dan menghargai permintaan Bella yang menginginkan Restu untuk enyah dari rumahnya walaupun dalam kondisi tubuhnya yang kaku dan hujan yang terus mengguyur dengan semangatnya.
“Sudah Mbok, kalau dia memang tidak mau.” teriakan Bella tepat di depan pintu rumahnya membangunkan lamunan Mbok Yum
Mbok Yum hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Restu. Restu hanya menatapnya pergi sambil berlari-lari kecil menuju Garasi tempat tadi dia muncul. Dan pandangannya beralih ke Bella yang sedang berdiri dengan merengkuh kedua tangannya. Memandang Restu dengan pandangan seolah-olah Restu adalah orang yang teramat dibencinya. Sekali lagi Restu hanya tersenyum seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya bahagia, bodohnya lelaki itu, benar-benar bodoh. Sejalan dengan Bella menutup pintu, tak luntur senyum mengembang di bibir Restu yang memutih itu.
Dalam hatinya bergumam, “Bella, biar apapun balasanmu atas semua tindakan bodohku ini. Aku tak peduli, selagi kamu tetap terus menatapku dan aku tak pernah hilang dari pandanganmu aku akan bahagia dengan itu semua. Karena aku tak dapat membedakan cinta dan kebutaan.”
Lelaki itu hanya tersenyum di balik gerbang putih itu, dia tersenyum dengan bingkai bibir pucatnya dan mata sayunya karena lelah. Sang gadis bernama Bella itu hanya melihat lelaki itu dari balik gordyn kamarnya dengan pandangan acuh seakan dia seperti iblis yang berwujud gadis cantik bak bidadari.
“Bel, aku pinjam catatan kamu ya. Tadi aku ngantuk di jamnya Pak Hutabarat…” ucap seorang gadis lain, Puji namanya. Gadis jawa yang sudah setahun ini menjadi teman karib Bella di Kampus.
Bella hanya diam sambil menatap lurus ke depan, seperti dia tak menggubris omongan teman karibnya itu. Kelas hari itu sepi karena sehabis jam mata kuliah Sociolinguistic dari Pak Hutabarat yang ada hanya mereka berdua saja di dalam Kelas.
“Melamun saja kamu…”
“Aduhh..”
“Makanya jangan melamun, kesambet lho!” ujar Puji sambil tersenyum jahil setelah dia mencubit pinggang Bella
Bella hanya diam, enggan rasanya untuk membalas perlakuan jahil temannya itu. Dia hanya membenarkan duduknya dan membaringkan kepalanya ke samping menghadap Puji di atas meja bercat coklat itu. Lalu mendesah lelah, seperti ini adalah akhir dari dunia.
“Aku benar-benar heran dengan lelaki itu,” ucapnya dengan tanpa semangat
“Memangnya apa lagi yang dia lakukan sama kamu?” tanya Puji yang sekarang mulai mengunyah makanan yang dibelinya di Kantin Kampus
“Dia benar-benar lelaki bodoh!” ucap Bella dengan ekspresi kesalnya sambil mengingat kejadian kemarin sore di rumahnya
Puji langsung menelan habis makanannya dan memandang Bella dengan pandangan heran.
“Kamu jangan bilang seperti itu. Apapun yang dia lakukan buat kamu, cobalah buat sedikit tersenyum untuk dia.” ucap Puji dengan lembut
“Tersenyum? Melihatnya saja aku tidak sudi!”
“Lho kenapa? Restu tidak buruk rupa, dia juga tidak cacat. Apa yang membuat kamu tidak sudi melihatnya?” tanya Puji bertubi-tubi, dan kini Bella menengadahkan kepalanya ke atas dan membuang nafas berat seperti dia sehabis memikul beban yang berat sekali.
Lalu dia memandang Puji dengan dekatnya, “Yang membuatku tak sudi melihatnya itu karena dia bodoh. Melihat dan tersenyum padanya hanya membuang waktuku saja. Dia tak hanya bodoh, tapi dia juga idiot…”
Tiba-tiba omongan Bella di potong oleh Puji, “Cukup Bel!” tukas Puji dan Bella hanya terdiam, Puji tajam memandang Bella dengan ekspresi kekesalan pada dirinya. Bukankah tak seharusnya temannya itu mengucapkan kata-kata seperti itu tentang Restu.
“Bukannya aku membela Restu, tapi menurutku ucapanmu sudah keterlaluan tentang dia.” ucap Puji tenang
“Puji, apa maksud kamu?” tanya Bella, mungkin dia merasa tercengang karena teman karibnya ini tak membelanya
“Kamu mempunyai wajah yang cantik, siapa lelaki yang tak mengagumi mu? Tak ada, jika pun ada mungkin mata mereka telah buta,” ucap Puji masih dengan pandangan kesal pada temannya itu
“Sama halnya dengan Restu, dan tak seharusnya kamu memperlakukan pengagummu seperti ini. Tidak akan membuang waktu dan tenagamu jika kamu bisa menghargainya, paling tidak tersenyum padanya.” lanjutnya memberi sedikit nasihat kepada teman karibnya itu
“Puji, dia itu sudah keterlaluan. Apakah aku harus tersenyum atas semua tindakan bodohnya?”
“Tapi kamu yang membuatnya melakukan tindakan bodoh itu!” ucap Puji, kali ini dia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang tanpa melepas pandangan kesalnya pada Bella
“Aku tidak menyukai sifat sombongmu itu. Jika kamu memang tidak menyukainya, kamu cukup berbicara baik-baik dengannya tanpa dia harus menunggu kamu terus, sampai kamu bisa tersenyum dengannya. Apakah kamu masih ingat? Saat dia hampir tiada dengan dia mengiris nadinya dengan silet? Apakah kamu juga masih ingat saat dia nekat ingin menabrakkan dirinya di depan kereta, dia benar-benar akan tiada jika tidak ada seseorang yang menolongnya waktu itu, menyeret tubuhnya menjauhi kereta. Dan semua tindakan bodohnya itu kamu yang menyuruh, dan kamu yang memintanya. Tidakkah kamu sadari itu, Bel?”
Bella hanya terdiam, bukan terdiam karena menyesali semua perbuatannya kepada Restu. Namun dia membenci saat teman karibnya ini tak membelanya sedikitpun.
“Kamu memang bukan temanku!” ucap Bella beranjak dari duduknya dan menghambur keluar Kelas
“Kamu benar-benar akan membunuhnya jika masih membenarkan kesombonganmu!” teriakan Puji kepada Bella seakan di anggap angin lalu oleh Bella yang dia terus berjalan pulang, dan tak mengikuti jam mata kuliah selanjutnya.
—
Pandangan matanya lurus ke depan, kakinya berjalan dengan cepat yang membuat bunyi di sepatu ketsnya menjadi berisik di lorong Kampus itu. Tak di hiraukannya sapaan teman-temannya yang ramah sekali padanya, tidak seperti dirinya yang menanam sifat kesombongan yang tak mengerti rasa dan menghargai. Gadis itu hanya berjalan lurus ke depan, rambutnya yang hitam panjang itu menyebarkan keharuman yang ditiup angin siang kala itu. Segala keindahan ada pada dirinya, kesempurnaan sebagai seorang wanita ada padanya. Tapi kesempurnaan sifat seakan luntur di kalahkan dengan kesempurnaan pesona fisiknya. Dia tak pernah mengerti apa arti menghargai, dan apa arti membagi senyum. Banyak yang ingin berteman dengannya, namun dia hanya acuh tak peduli apapun kecuali tentangnya, banyak lelaki mengagumnya namun dia hanya buat mereka mematahkan hati mereka sendiri. Lelaki itu menyerah dengan ketidakberdayaan di depan gadis itu, tanpa tahu bahwa harga diri bukanlah menjadi tameng untuk ucapan gadis itu yang selalu menyakiti hati. Namun lelaki satu ini, Restu yang teramat memujanya lebih dari apapun. Mempunyai tameng sekuat baja yang melindunginya dari hinaan gadis itu, dan mempunyai penawar di kala hatinya sekarat. Rasa kagum yang begitu mendalam membuat dirinya seakan lupa diri dan hanya kebutaanlah yang mengelilinginya, membuat mata hatinya tertutup akan sesuatu yang tak pantas untuk di cinta.
Gadis itu terus berjalan dengan ekspresi wajahnya yang acuh, senyuman tak menghiasi wajahnya yang ayu, mungkin tersenyum adalah suatu dosa besar baginya sehingga dia terus menghindarinya dan tak akan pernah melakukannya, karena dia tak ingin menanggung dosa. Sesosok lelaki dari seberang sana membuat pandangan gadis itu langsung meradam, seketika dia berbalik arah untuk menghindari lelaki itu, muak rasanya dia bertemu lelaki konyol. Namun lelaki itu terus memanggil namanya, hingga gadis itu mendengar suara dentaman sepatu di atas lantai dengan kerasnya. Ya lelaki itu berlari untuk mengejar gadis sombong itu.
“Bella, aku mohon berhentilah. Aku ingin menyampaikan sesuatu…” ucapnya berhenti berlari dengan nafas yang tersenggal-senggal
Gadis itu berhenti, lalu segera menghampiri lelaki itu dan tepat dia berdiri di hadapannya.
“Te.. rimaka..sih Bella, aku capek sekali mengejarmu. Kamu berjalan begitu cepat.” ucap Restu dengan suara tersenggal-senggal sambil dia mengatur nafasnya
“Kamu bodoh! Mengapa kamu selalu membuat dirimu bodoh?” ucapan Bella membuat Restu hanya diam, dan menundukkan kepalanya
“Berhentilah membuat dirimu bodoh, bukankah aku sudah bilang. Kamu sudah bodoh, jangan buat diri kamu jadi makin bodoh!” kali ini Restu menatap Bella sambil tersenyum, hanya itulah yang dia lakukan, diam dan tersenyum
Mahasiswa-mahasiswa lainnya hanya memandangi mereka yang berdiri di tengah lorong Gedung Fakultas Sastra, seperti melihat adegan sepasang kekasih yang sedang tidak akur. Namun sepertinya pemandangan seperti ini selalu di lihat mereka dengan Restu dan Bella sebagai lakonnya yang Bella selalu berkata “bodoh” terhadap Restu. Seketika mereka beranjak berlalu dari tontonan itu, mereka seakan jemu untuk melihatnya lagi dan lagi. Dimana Restu yang selalu mengejar-ngejar Bella, dan Bella yang hanya acuh kepadanya. Itulah skenario yang selalu di ulang dan tak pernah ada habisnya.
“Behentilah menatapku seperti itu! Aku benci tatapanmu itu, aku muak akan semua tingkah lakumu. Tindakan bodoh dari seorang yang idiot, bahkan aku tidak bangga jika kamu menjadikanku sebagai idolamu atau apapun yang kamu puja. Aku sungguh membencimu.” dan Restu hanya tersenyum, seakan perkataan Bella yang baru saja dia dengar adalah potongan syair yang membuat hatinya seakan bagaikan pelangi
“Enyahlah dari pandanganku!” ucap Bella tanpa ekspresi dengan tanpa menatap Restu
Ucapan itu bak halilintar menusuki dada Restu, yang dia lakukan hanya menundukkan kepalanya sambil berkata, “Ingatkah kamu Bel, dulu aku sudah pernah berkata padamu bahwa aku akan menuruti semua inginmu sekalipun nyawaku akan hilang.”
Bella hanya diam dengan pandangan acuhnya, Restu menengadahkan kepalanya menghadap Bella sambil tersenyum seakan senyumannya itu tak akan pernah luntur di wajahnya yang tirus itu “Surga dari hidupku adalah keinginanku untuk melihat senyumanmu, walaupun aku tak pernah mendapatkannya. Namun selagi aku bisa terus melihatmu dan pandangan mu terus tertuju padaku, ya meski aku harus melakukan semua tindakan yang menurutmu bodoh, aku akan lakukan. Karena kamu adalah cahaya ku, cahaya yang paling terang yang Tuhan cipta dengan sempurnanya, kamu adalah makhluk tersempurna untukku, dan bukan sebuah dosa jika aku terus memujamu, aku akan lakukan itu hingga umurku habis.” masih dengan pandangan acuhnya, Bella tak menggubris satu pun apa yang di ucapkan Restu
“Aku akan terus memujamu sampai mati, aku bersumpah!”
Seketika pandangan Bella tertuju di kedua mata Restu, hatinya seperti terkoyak ketika mendengar ucapan Restu itu. Entah apa itu, yang pasti seakan hatinya ditabuh dengan genderang yang sangat kencangnya.
Bella membuang nafas panjang sambil berkata, “Jika kamu memang memujaku sampai kamu mati, lakukanlah. Lakukan sekarang juga dengan kamu melompat dari lantai paling atas Gedung ini. Lakukanlah!” seperti sebuah perintah konyol yang Bella ucapkan dengan tanpa pemikiran terlebih dahulu
“Ya, aku akan lakukan.” dan Restu hanya tersenyum lagi, dan seketika Bella beranjak dari pandangannya, membuang pandangannya ke arah Kelas tempat sebentar lagi akan di mulai mata kuliah Sejarah Sastra dari Prof. Dwiki. Dan Restu hanya terdiam, sembari tersenyum seakan ingin melepas semua penderitaannya, membalikkan tubuhnya dan menatap tubuh sang gadis pujaan dari belakang, yang rambut hitamnya bergerak kesana kemari senada dengan angin yang bertiup pelan siang kala itu. Dan sekali lagi Restu tersenyum, seperti ingin mengucapkan selamat tinggal tanpa harus mulutnya berucap, namun anginlah yang akan menyampaikannya pada sang gadis pujaannya itu.
—
Sirine Ambulan memecahkan kesunyian di Gedung Fakultas Sastra siang kala itu, dan sontak menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang sedang melepas pikiran di Kantin berseberangan dengan Lapangan Basket. Mengapa ada Ambulans di lingkungan Kampus?
Senada itu, Kelas Prof. Dwiki usai, para mahasiswa berhamburan keluar Ruangan, mencari tahu apa yang terjadi di Gedung Fakultas Sastra itu. Berbeda dengan gadis itu, Bella hanya duduk di dalam Kelas dan enggan untuk beranjak keluar, malas sekali rasanya dia untuk keluar dari Ruangan itu.
“Hey, ada seseorang jatuh dari lantai atas…” ucap salah seorang mahasiswa yang tengah berada di luar Kelas
Bella hanya diam, sembari membereskan beberapa bukunya dari atas meja, beranjak dan keluar Kelas. Tepat saat dia sampai di pintu Kelas, seseorang berkata, “Aku dengar dia mahasiswa Ekonomi semester 6…”
Bella masih acuh dan terus berjalan menuju tempat Parkir, tempat dia memarkirkan Sepeda Motornya.
“Namanya Restu, mahasiswa yang jatuh dari lantai atas itu namanya Restu…”
“Aku mengenalnya..”
“Tragis sekali!” suara-suara itu seakan berbisik-bisik di tengah kerumunan orang banyak di Gedung itu
Bella terdiam dan menghentikan langkah kakinya, entah mengapa semua orang di lorong Kampus itu menatapinya dengan pandangan lain.
Sontak dia langsung teringat perkataannya pada Restu pagi tadi, di lorong ini tepat mereka berdua berdiri. Mimpi! Ini semua hanya mimpi, tentu perkataannya pagi tadi bukanlah sebuah permintaan yang harus di lakukan. Ini sungguh konyol!
“Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan Restu jatuh dari lantai atas?” tanya Bella dengan air bening yang mulai menetesi pipinya yang kurus itu
“Kamu pasti bercanda, itu bukan Restu!” ucap Bella dengan menarik-narik Kaos salah satu mahasiswa yang berdiri di hadapanya dengan tangan kirinya di lorong itu
Pandangannya seakan kosong, namun seseorang menggengam tangan kanannya dari belakang.
“Iya, dia Restu. Restu telah tiada, Bel..” suara Puji begitu lemah di iringi dengan tangisannya yang terisak
“Tidak! Tidak mungkin! Ini semua hanya mimpi…” ucap Bella sambil menatap Puji dengan ekspresi wajah meyakinkannya dengan air mata yang terus membasahi kelopak matanya
“Tidak Bel, ini semua nyata. Kamu telah berhasil mengenyahkannya.” balas Puji dengan air matanya yang terus membanjiri
“Pagi tadi, aku hanya asal ucap. Mengapa dia begitu bodoh melakukan semua apa yang aku minta, tidak! Tidak!” teriakannya membuat mahasiswa-mahasiswa yang berada di lorong itu menatapinya dengan pandangan benci, seolah-olah Bella adalah pembunuh, pembunuh dari Restu yang teramat memujanya.
Segera Bella berlari dengan air mata yang terus menetes tanpa dia usap, berlari menuju Restu. Tepatnya jasad Restu yang telah rusak dan berlumuran darah segar.
Di tatapinya wajah lelaki itu yang telah hancur, hancur karena hantaman keras. Hampir tak bisa dikenali, dan dengan tangan putihnya dia pegang wajah Restu yang berlumuran darah itu. Inilah pertama kalinya dia menyentuh wajah lelaki itu, lelaki yang selalu menggangunya, lelaki yang dia ingin musnahkan dari pandangannya, dan lelaki yang teramat dibencinya.
“Aku pembunuh!” hujatnya dengan lirih dengan tanpa melepas pandangannya dari jasad Restu
“Maafkan aku…” air matanya jatuh membasahi wajah hancur itu, terus membanjiri dengan tangisan sedihnya
Terdengar sebuah bisikan, “Bella, aku akan selalu meletakkanmu di dalam ruangan nyaman di hatiku. Aku berharap di lain kehidupan, kamu akan tersenyum padaku dan menggenggam erat tanganku. Dan selamanya aku akan memujamu, tak berhenti dan tak akan habis…”
Tangisannya terus menerus menderu dengan air mata yang terus membanjiri tiada henti, entah sampai kapan.
The End…
Cerpen Karangan: Ria Febiana Arifin
Hujan seperti ini membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas di luar rumah, namun berbeda dengan lelaki ini, Restu namanya. Di kala petir menggelegar dan hujan yang lebat, dia berdiri seperti patung, nampak kaku dan tak bergerak sedikitpun. Baju, celana dan tubuhnya basah di guyur hujan tanpa ampun. Dia tak mampu menghentikan hujan untuk berhenti membasahi baju, celana dan tubuhnya. Toh siapa yang dapat meghentikan hujan? Namun dia dapat menghindar dari hujan, berteduh misalnya. Hanya manusia bodoh sajalah yang melakukan itu, berdiri seperti patung di tengah hujan deras. Kecuali, dia melakukan itu untuk membuktikan perjuangan cintanya. Agar sang gadis tahu bahwa dia teramat mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya, ya apapun!
Namun terkadang, apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sang gadis tak pernah ingin tahu dan tak pernah menghargai perjuangan atau apapun yang Restu lakukan untuknya. Dia tak pernah ingin kehadiran Restu dalam hidupnya, bahkan dia telah menganggap Restu layaknya benda mati. Kejam sekali bukan? Apa susahnya sedikit menghargai perjuangan seseorang untuk dirinya sebagai bukti bahwa lelaki itu sungguh-sungguh mencintainya. Tidak harus dengan mengikat suatu hubungan, besikap baik saja itu sudah cukup. Tak perlu harus Restu melakukan tindakan bodoh yang tak pernah dihargai gadis itu.
“Pergilah! Kamu melakukan hal apapun, aku juga tidak peduli!” teriak Bella dari teras depan rumahnya dengan tanpa memperdulikan tindakan bodoh Restu yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya
Restu hanya menatap gadis itu sambil tersenyum di bibirnya yang pucat karena sudah 1 jam dia berdiri di tengah guyuran hujan lebat, entah apa yang ditunggunya. Rasa simpati atau balasan rasa yang selalu dia pupuk untuk gadis itu, entahlah!
“Berhentilah melakukan tindakan bodoh! Kamu sudah bodoh, jangan buat dirimu menjadi lebih bodoh!” hardik gadis itu dengan suara kerasnya
“Aku akan menunggumu sampai kamu membuka pintu itu selebar-lebarnya.” sekali lagi, Restu hanya tersenyum di bibirnya yang mulai memutih pucat.
“Kamu selalu membuatku ingin mengasihimu, padahal aku muak dengan semua tindakan bodohmu itu.” ucap Bella dengan suara lirihnya sambil menatap Restu dari kejauhan, entah ada rasa iba atau tidak dalam dirinya, yang pasti setelah itu dia hanya menutup pintu dan menghambur masuk kedalam. Jangankan untuk mengizinkan Restu masuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah, tersenyum pun tak dia lakukan.
—
Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu Garasi, dia berlari-lari kecil menghindari guyuran air hujan sambil membawa payung. Bukan untuk melindungi dirinya dari guyuran air hujan, karena dia telah dilindungi dengan payung lain yang bertengger di atas kepalanya yang berambut putih itu.
“Ini payung, Mas. Maaf, Non Bella tidak mau di ganggu.” ucapnya dengan suara yang dibuatnya keras karena suaranya hampir tak terdengar di karenakan bunyi guyuran air hujan yang semakin deras, yang sekarang Restu mengenal siapa wanita paruh baya itu, dia adalah pembantu Keluarga Bella.
“Terimakasih, Mbok. Tapi saya tidak butuh itu, saya masih ingin tetap di sini.” lelaki ini memang keras kepala, tak pernah mengerti apa akibat dari semua tindakan konyolnya
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan raut wajahnya yang simpati, mungkin dia merasa iba dengan Restu namun di sisi lain dia merasa takut dan menghargai permintaan Bella yang menginginkan Restu untuk enyah dari rumahnya walaupun dalam kondisi tubuhnya yang kaku dan hujan yang terus mengguyur dengan semangatnya.
“Sudah Mbok, kalau dia memang tidak mau.” teriakan Bella tepat di depan pintu rumahnya membangunkan lamunan Mbok Yum
Mbok Yum hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Restu. Restu hanya menatapnya pergi sambil berlari-lari kecil menuju Garasi tempat tadi dia muncul. Dan pandangannya beralih ke Bella yang sedang berdiri dengan merengkuh kedua tangannya. Memandang Restu dengan pandangan seolah-olah Restu adalah orang yang teramat dibencinya. Sekali lagi Restu hanya tersenyum seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya bahagia, bodohnya lelaki itu, benar-benar bodoh. Sejalan dengan Bella menutup pintu, tak luntur senyum mengembang di bibir Restu yang memutih itu.
Dalam hatinya bergumam, “Bella, biar apapun balasanmu atas semua tindakan bodohku ini. Aku tak peduli, selagi kamu tetap terus menatapku dan aku tak pernah hilang dari pandanganmu aku akan bahagia dengan itu semua. Karena aku tak dapat membedakan cinta dan kebutaan.”
Lelaki itu hanya tersenyum di balik gerbang putih itu, dia tersenyum dengan bingkai bibir pucatnya dan mata sayunya karena lelah. Sang gadis bernama Bella itu hanya melihat lelaki itu dari balik gordyn kamarnya dengan pandangan acuh seakan dia seperti iblis yang berwujud gadis cantik bak bidadari.
“Bel, aku pinjam catatan kamu ya. Tadi aku ngantuk di jamnya Pak Hutabarat…” ucap seorang gadis lain, Puji namanya. Gadis jawa yang sudah setahun ini menjadi teman karib Bella di Kampus.
Bella hanya diam sambil menatap lurus ke depan, seperti dia tak menggubris omongan teman karibnya itu. Kelas hari itu sepi karena sehabis jam mata kuliah Sociolinguistic dari Pak Hutabarat yang ada hanya mereka berdua saja di dalam Kelas.
“Melamun saja kamu…”
“Aduhh..”
“Makanya jangan melamun, kesambet lho!” ujar Puji sambil tersenyum jahil setelah dia mencubit pinggang Bella
Bella hanya diam, enggan rasanya untuk membalas perlakuan jahil temannya itu. Dia hanya membenarkan duduknya dan membaringkan kepalanya ke samping menghadap Puji di atas meja bercat coklat itu. Lalu mendesah lelah, seperti ini adalah akhir dari dunia.
“Aku benar-benar heran dengan lelaki itu,” ucapnya dengan tanpa semangat
“Memangnya apa lagi yang dia lakukan sama kamu?” tanya Puji yang sekarang mulai mengunyah makanan yang dibelinya di Kantin Kampus
“Dia benar-benar lelaki bodoh!” ucap Bella dengan ekspresi kesalnya sambil mengingat kejadian kemarin sore di rumahnya
Puji langsung menelan habis makanannya dan memandang Bella dengan pandangan heran.
“Kamu jangan bilang seperti itu. Apapun yang dia lakukan buat kamu, cobalah buat sedikit tersenyum untuk dia.” ucap Puji dengan lembut
“Tersenyum? Melihatnya saja aku tidak sudi!”
“Lho kenapa? Restu tidak buruk rupa, dia juga tidak cacat. Apa yang membuat kamu tidak sudi melihatnya?” tanya Puji bertubi-tubi, dan kini Bella menengadahkan kepalanya ke atas dan membuang nafas berat seperti dia sehabis memikul beban yang berat sekali.
Lalu dia memandang Puji dengan dekatnya, “Yang membuatku tak sudi melihatnya itu karena dia bodoh. Melihat dan tersenyum padanya hanya membuang waktuku saja. Dia tak hanya bodoh, tapi dia juga idiot…”
Tiba-tiba omongan Bella di potong oleh Puji, “Cukup Bel!” tukas Puji dan Bella hanya terdiam, Puji tajam memandang Bella dengan ekspresi kekesalan pada dirinya. Bukankah tak seharusnya temannya itu mengucapkan kata-kata seperti itu tentang Restu.
“Bukannya aku membela Restu, tapi menurutku ucapanmu sudah keterlaluan tentang dia.” ucap Puji tenang
“Puji, apa maksud kamu?” tanya Bella, mungkin dia merasa tercengang karena teman karibnya ini tak membelanya
“Kamu mempunyai wajah yang cantik, siapa lelaki yang tak mengagumi mu? Tak ada, jika pun ada mungkin mata mereka telah buta,” ucap Puji masih dengan pandangan kesal pada temannya itu
“Sama halnya dengan Restu, dan tak seharusnya kamu memperlakukan pengagummu seperti ini. Tidak akan membuang waktu dan tenagamu jika kamu bisa menghargainya, paling tidak tersenyum padanya.” lanjutnya memberi sedikit nasihat kepada teman karibnya itu
“Puji, dia itu sudah keterlaluan. Apakah aku harus tersenyum atas semua tindakan bodohnya?”
“Tapi kamu yang membuatnya melakukan tindakan bodoh itu!” ucap Puji, kali ini dia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang tanpa melepas pandangan kesalnya pada Bella
“Aku tidak menyukai sifat sombongmu itu. Jika kamu memang tidak menyukainya, kamu cukup berbicara baik-baik dengannya tanpa dia harus menunggu kamu terus, sampai kamu bisa tersenyum dengannya. Apakah kamu masih ingat? Saat dia hampir tiada dengan dia mengiris nadinya dengan silet? Apakah kamu juga masih ingat saat dia nekat ingin menabrakkan dirinya di depan kereta, dia benar-benar akan tiada jika tidak ada seseorang yang menolongnya waktu itu, menyeret tubuhnya menjauhi kereta. Dan semua tindakan bodohnya itu kamu yang menyuruh, dan kamu yang memintanya. Tidakkah kamu sadari itu, Bel?”
Bella hanya terdiam, bukan terdiam karena menyesali semua perbuatannya kepada Restu. Namun dia membenci saat teman karibnya ini tak membelanya sedikitpun.
“Kamu memang bukan temanku!” ucap Bella beranjak dari duduknya dan menghambur keluar Kelas
“Kamu benar-benar akan membunuhnya jika masih membenarkan kesombonganmu!” teriakan Puji kepada Bella seakan di anggap angin lalu oleh Bella yang dia terus berjalan pulang, dan tak mengikuti jam mata kuliah selanjutnya.
—
Pandangan matanya lurus ke depan, kakinya berjalan dengan cepat yang membuat bunyi di sepatu ketsnya menjadi berisik di lorong Kampus itu. Tak di hiraukannya sapaan teman-temannya yang ramah sekali padanya, tidak seperti dirinya yang menanam sifat kesombongan yang tak mengerti rasa dan menghargai. Gadis itu hanya berjalan lurus ke depan, rambutnya yang hitam panjang itu menyebarkan keharuman yang ditiup angin siang kala itu. Segala keindahan ada pada dirinya, kesempurnaan sebagai seorang wanita ada padanya. Tapi kesempurnaan sifat seakan luntur di kalahkan dengan kesempurnaan pesona fisiknya. Dia tak pernah mengerti apa arti menghargai, dan apa arti membagi senyum. Banyak yang ingin berteman dengannya, namun dia hanya acuh tak peduli apapun kecuali tentangnya, banyak lelaki mengagumnya namun dia hanya buat mereka mematahkan hati mereka sendiri. Lelaki itu menyerah dengan ketidakberdayaan di depan gadis itu, tanpa tahu bahwa harga diri bukanlah menjadi tameng untuk ucapan gadis itu yang selalu menyakiti hati. Namun lelaki satu ini, Restu yang teramat memujanya lebih dari apapun. Mempunyai tameng sekuat baja yang melindunginya dari hinaan gadis itu, dan mempunyai penawar di kala hatinya sekarat. Rasa kagum yang begitu mendalam membuat dirinya seakan lupa diri dan hanya kebutaanlah yang mengelilinginya, membuat mata hatinya tertutup akan sesuatu yang tak pantas untuk di cinta.
Gadis itu terus berjalan dengan ekspresi wajahnya yang acuh, senyuman tak menghiasi wajahnya yang ayu, mungkin tersenyum adalah suatu dosa besar baginya sehingga dia terus menghindarinya dan tak akan pernah melakukannya, karena dia tak ingin menanggung dosa. Sesosok lelaki dari seberang sana membuat pandangan gadis itu langsung meradam, seketika dia berbalik arah untuk menghindari lelaki itu, muak rasanya dia bertemu lelaki konyol. Namun lelaki itu terus memanggil namanya, hingga gadis itu mendengar suara dentaman sepatu di atas lantai dengan kerasnya. Ya lelaki itu berlari untuk mengejar gadis sombong itu.
“Bella, aku mohon berhentilah. Aku ingin menyampaikan sesuatu…” ucapnya berhenti berlari dengan nafas yang tersenggal-senggal
Gadis itu berhenti, lalu segera menghampiri lelaki itu dan tepat dia berdiri di hadapannya.
“Te.. rimaka..sih Bella, aku capek sekali mengejarmu. Kamu berjalan begitu cepat.” ucap Restu dengan suara tersenggal-senggal sambil dia mengatur nafasnya
“Kamu bodoh! Mengapa kamu selalu membuat dirimu bodoh?” ucapan Bella membuat Restu hanya diam, dan menundukkan kepalanya
“Berhentilah membuat dirimu bodoh, bukankah aku sudah bilang. Kamu sudah bodoh, jangan buat diri kamu jadi makin bodoh!” kali ini Restu menatap Bella sambil tersenyum, hanya itulah yang dia lakukan, diam dan tersenyum
Mahasiswa-mahasiswa lainnya hanya memandangi mereka yang berdiri di tengah lorong Gedung Fakultas Sastra, seperti melihat adegan sepasang kekasih yang sedang tidak akur. Namun sepertinya pemandangan seperti ini selalu di lihat mereka dengan Restu dan Bella sebagai lakonnya yang Bella selalu berkata “bodoh” terhadap Restu. Seketika mereka beranjak berlalu dari tontonan itu, mereka seakan jemu untuk melihatnya lagi dan lagi. Dimana Restu yang selalu mengejar-ngejar Bella, dan Bella yang hanya acuh kepadanya. Itulah skenario yang selalu di ulang dan tak pernah ada habisnya.
“Behentilah menatapku seperti itu! Aku benci tatapanmu itu, aku muak akan semua tingkah lakumu. Tindakan bodoh dari seorang yang idiot, bahkan aku tidak bangga jika kamu menjadikanku sebagai idolamu atau apapun yang kamu puja. Aku sungguh membencimu.” dan Restu hanya tersenyum, seakan perkataan Bella yang baru saja dia dengar adalah potongan syair yang membuat hatinya seakan bagaikan pelangi
“Enyahlah dari pandanganku!” ucap Bella tanpa ekspresi dengan tanpa menatap Restu
Ucapan itu bak halilintar menusuki dada Restu, yang dia lakukan hanya menundukkan kepalanya sambil berkata, “Ingatkah kamu Bel, dulu aku sudah pernah berkata padamu bahwa aku akan menuruti semua inginmu sekalipun nyawaku akan hilang.”
Bella hanya diam dengan pandangan acuhnya, Restu menengadahkan kepalanya menghadap Bella sambil tersenyum seakan senyumannya itu tak akan pernah luntur di wajahnya yang tirus itu “Surga dari hidupku adalah keinginanku untuk melihat senyumanmu, walaupun aku tak pernah mendapatkannya. Namun selagi aku bisa terus melihatmu dan pandangan mu terus tertuju padaku, ya meski aku harus melakukan semua tindakan yang menurutmu bodoh, aku akan lakukan. Karena kamu adalah cahaya ku, cahaya yang paling terang yang Tuhan cipta dengan sempurnanya, kamu adalah makhluk tersempurna untukku, dan bukan sebuah dosa jika aku terus memujamu, aku akan lakukan itu hingga umurku habis.” masih dengan pandangan acuhnya, Bella tak menggubris satu pun apa yang di ucapkan Restu
“Aku akan terus memujamu sampai mati, aku bersumpah!”
Seketika pandangan Bella tertuju di kedua mata Restu, hatinya seperti terkoyak ketika mendengar ucapan Restu itu. Entah apa itu, yang pasti seakan hatinya ditabuh dengan genderang yang sangat kencangnya.
Bella membuang nafas panjang sambil berkata, “Jika kamu memang memujaku sampai kamu mati, lakukanlah. Lakukan sekarang juga dengan kamu melompat dari lantai paling atas Gedung ini. Lakukanlah!” seperti sebuah perintah konyol yang Bella ucapkan dengan tanpa pemikiran terlebih dahulu
“Ya, aku akan lakukan.” dan Restu hanya tersenyum lagi, dan seketika Bella beranjak dari pandangannya, membuang pandangannya ke arah Kelas tempat sebentar lagi akan di mulai mata kuliah Sejarah Sastra dari Prof. Dwiki. Dan Restu hanya terdiam, sembari tersenyum seakan ingin melepas semua penderitaannya, membalikkan tubuhnya dan menatap tubuh sang gadis pujaan dari belakang, yang rambut hitamnya bergerak kesana kemari senada dengan angin yang bertiup pelan siang kala itu. Dan sekali lagi Restu tersenyum, seperti ingin mengucapkan selamat tinggal tanpa harus mulutnya berucap, namun anginlah yang akan menyampaikannya pada sang gadis pujaannya itu.
—
Sirine Ambulan memecahkan kesunyian di Gedung Fakultas Sastra siang kala itu, dan sontak menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang sedang melepas pikiran di Kantin berseberangan dengan Lapangan Basket. Mengapa ada Ambulans di lingkungan Kampus?
Senada itu, Kelas Prof. Dwiki usai, para mahasiswa berhamburan keluar Ruangan, mencari tahu apa yang terjadi di Gedung Fakultas Sastra itu. Berbeda dengan gadis itu, Bella hanya duduk di dalam Kelas dan enggan untuk beranjak keluar, malas sekali rasanya dia untuk keluar dari Ruangan itu.
“Hey, ada seseorang jatuh dari lantai atas…” ucap salah seorang mahasiswa yang tengah berada di luar Kelas
Bella hanya diam, sembari membereskan beberapa bukunya dari atas meja, beranjak dan keluar Kelas. Tepat saat dia sampai di pintu Kelas, seseorang berkata, “Aku dengar dia mahasiswa Ekonomi semester 6…”
Bella masih acuh dan terus berjalan menuju tempat Parkir, tempat dia memarkirkan Sepeda Motornya.
“Namanya Restu, mahasiswa yang jatuh dari lantai atas itu namanya Restu…”
“Aku mengenalnya..”
“Tragis sekali!” suara-suara itu seakan berbisik-bisik di tengah kerumunan orang banyak di Gedung itu
Bella terdiam dan menghentikan langkah kakinya, entah mengapa semua orang di lorong Kampus itu menatapinya dengan pandangan lain.
Sontak dia langsung teringat perkataannya pada Restu pagi tadi, di lorong ini tepat mereka berdua berdiri. Mimpi! Ini semua hanya mimpi, tentu perkataannya pagi tadi bukanlah sebuah permintaan yang harus di lakukan. Ini sungguh konyol!
“Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan Restu jatuh dari lantai atas?” tanya Bella dengan air bening yang mulai menetesi pipinya yang kurus itu
“Kamu pasti bercanda, itu bukan Restu!” ucap Bella dengan menarik-narik Kaos salah satu mahasiswa yang berdiri di hadapanya dengan tangan kirinya di lorong itu
Pandangannya seakan kosong, namun seseorang menggengam tangan kanannya dari belakang.
“Iya, dia Restu. Restu telah tiada, Bel..” suara Puji begitu lemah di iringi dengan tangisannya yang terisak
“Tidak! Tidak mungkin! Ini semua hanya mimpi…” ucap Bella sambil menatap Puji dengan ekspresi wajah meyakinkannya dengan air mata yang terus membasahi kelopak matanya
“Tidak Bel, ini semua nyata. Kamu telah berhasil mengenyahkannya.” balas Puji dengan air matanya yang terus membanjiri
“Pagi tadi, aku hanya asal ucap. Mengapa dia begitu bodoh melakukan semua apa yang aku minta, tidak! Tidak!” teriakannya membuat mahasiswa-mahasiswa yang berada di lorong itu menatapinya dengan pandangan benci, seolah-olah Bella adalah pembunuh, pembunuh dari Restu yang teramat memujanya.
Segera Bella berlari dengan air mata yang terus menetes tanpa dia usap, berlari menuju Restu. Tepatnya jasad Restu yang telah rusak dan berlumuran darah segar.
Di tatapinya wajah lelaki itu yang telah hancur, hancur karena hantaman keras. Hampir tak bisa dikenali, dan dengan tangan putihnya dia pegang wajah Restu yang berlumuran darah itu. Inilah pertama kalinya dia menyentuh wajah lelaki itu, lelaki yang selalu menggangunya, lelaki yang dia ingin musnahkan dari pandangannya, dan lelaki yang teramat dibencinya.
“Aku pembunuh!” hujatnya dengan lirih dengan tanpa melepas pandangannya dari jasad Restu
“Maafkan aku…” air matanya jatuh membasahi wajah hancur itu, terus membanjiri dengan tangisan sedihnya
Terdengar sebuah bisikan, “Bella, aku akan selalu meletakkanmu di dalam ruangan nyaman di hatiku. Aku berharap di lain kehidupan, kamu akan tersenyum padaku dan menggenggam erat tanganku. Dan selamanya aku akan memujamu, tak berhenti dan tak akan habis…”
Tangisannya terus menerus menderu dengan air mata yang terus membanjiri tiada henti, entah sampai kapan.
The End…
Cerpen Karangan: Ria Febiana Arifin
Langganan:
Komentar (Atom)