Pages

Rabu, 02 April 2014

Hobby Ku Merengut Kekasih Ku

Harusnya ku pinta mu, bukan malah memaksa mu hadir di acara yang tidak begitu terlalu penting untuk kau hadiri. hobby ku itu harusnya ku tinggalkan sejak setahun lalu kau memohon pada ku dengan air mata mu, sungguh aku menyesali hal itu mengapa tak gunkan saja waktu untuk mewarnai hari mu dan lebih mendekatkan diri ku pada maha pencipta, Liy itulah nama kekasih ku dan aku sendri bernama Daus.
“umhy bisa hadirkan malam ini ke acara abhy?” tanya ku padanya yang biasa aku panggil dengan sebutan umhy
“bukannya umhy tidak mau ke sana. Tapi, lebih baik kita ngaji bareng aja dari pada menghabiskan waktu untuk hal yang tak penting” tolaknya dengan suara yang lembut nyaris tak terdengar oleh kuping ku
“pokoknya aku gak mau tahu jam 11 malam ini, aku jemput kamu” kata ku dengan suara lantang kepadanya dan dia hanya membalas dengan senyuman seperti biasa dia lakukan saat aku marah padanya.
23:15
Aku sudah berada di depan halaman rumah kostnya, cukup lama aku menanti dia keluar, hingga kemarahan menyelimuti benak ku.
(kalau umhy gak mau ikut, abhy ngamuk disini) ku kirimkan pesan singkat ke Hp nya, selang beberapa menit dia pun muncul dengan jaket cokelat pemberian ku, tanpa banyak kata aku membawanya pergi ke arena yang biasa dijadikan lokasi balapan liar.
“abhy, perasaan aku gak nyaman” bisiknya di kuping ku
“maksud umhy?”
“kita pulang aja ya, aku gak enak badan” ajaknya dengan suara begitu berat, namun aku hanya mengacuhkannya dan segera memulai pertandingan yang telah menanti ku sedari tadi.
BRAAAAAkkkkk
Suara tabrakan yang begitu dahsyat terjadi sesaat sebelum pertandingan dimulai, aku meneoleh ke belakang dan bukan main terpukulnya aku saat ku tahu yang menjadi korban adalah Lily, kekasih ku.
Ingin ku hadiakan bogem mentah ke cowok yang telah membuat Lily terkapar besimbah darah. Namun, kawan ku mengingatkan kondisi Lily lebih penting dari pada sang pelaku.
Tanpa banyak basa basi ku larikan dia ke rumah sakit terdekat menggunkan mobil salah seorang kawan ku.
“Dokter tolong selamatkan, Lily” pinta ku pada dokter yang telah mengambil tindakan pertama untuk Lily, lama aku mondar madir berselimutkan perasaan takut, kecewa, sedih dan marah. Hingga beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang I.C.U membawa kabar yang membuat ku merasa tak lagi menyentuh dunia ini, jiwa ku serasa hilang entah kemana, menangis pun aku tak sanggup lagi.
“Maaf dek, saudari Lily telah meninggal” pernyataan yang tak mampu ku terima dengan akal sehat, ku temui Lily yang telah tertidur untuk selamnya
Tak ada kata yang mampu ucapkan selain doa yang mengiringi kepergiaanya,
Ku genggam jemari yang tak lagi mampu membalas genggaman ku, ku peluk raga yang tak mampu lagi menghangatkan ku.

“Umhi, hari ini tepat hari ke 40 engkau pergi membawa separuh jiwa ku dan hari ini aku telah berhasil menghafal Surat Yasin seperti yang engkau pinta” tutur ku di hadapan makam kekasih ku.








Cerpen Karangan: Wulan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About