“Aku kangen kamu, sayang”, bisiknya. Aku hanya terdiam, aku jenuh
dengan Laras. Rasa bosanku menyeruak semakin dalam dan sangat menyiksa
batinku. 2 tahun berpacaran dengan Laras tapi semakin lama perasaanku
mulai hilang. Yang tersisa hanyalah gumpalan bosan yang melata.
“Sayang…”, rayunya lagi sambil tebar senyuman. Aku hanya tersenyum kecil
lalu menggandeng lengannya dan mengajaknya pulang. Aku benar-benar
merasa bersalah padanya, tapi aku harus bagaimana lagi? aku terlanjur
bosan dengannya. Kuantarkan dia pulang dengan sepeda motor bututku ini,
dia hanya membisu. Sepertinya dia sangat mencintaiku dan tak sanggup
memutuskan hubungan kami meskipun aku bersikap dingin padanya.
Sesampainya di rumah aku langsung bergegas pergi, dia terlihat bingung
dan merasa sedih. Terlihat dari kejauhan dia mengusap air matanya
sendiri, oh Laras sebenarnya aku tak tega melihatmu bersedih. Aku pun
berlalu dari rumahnya agar tak lama-lama menyaksikan kesedihannya.
Keesokaan harinya di sekolah dia menghampiriku ketika aku telah
selesai bermain basket. Seperti biasa dia membawakanku roti dan sebotol
minuman dingin. Dia memang tak pelit, dia selalu mengerti dan memenuhi
segala apa yang aku butuhkan. Tapi entah kenapa perasaan cintaku
tertutup oleh kemonotonan cara berpacaran kami. “Laras, hari ini kamu
pulang sendiri ya? Aku ada acara sama temen tim basket nih, nggak papa
kan?”, jelasku padanya. Laras hanya mengangguk dan tersenyum lembut, dia
tak pernah menuntut apapun dariku. Meskipun aku sering menyakitinya,
tapi dia selalu berusaha membahagiakanku.
Laras pun berlalu dari hadapanku, dia bergegas mengambil tasnya di
kelas lalu pulang naik angkot sendirian. Aku sebenarnya kasihan tapi aku
penasaran dengan cewek yang ada di tim basket SMA seberang. Namanya
Rena, dia sangat s*ksi dan jago main basket. Akhir-akhir ini kami sering
jalan bareng di luar pengetahuan Laras. Setelah aku mengenal Rena,
hidupku lebih semangat dan bergairah. Nggak seperti Laras yang
membosankan, ya meskipun secara face lebih cantik Laras. Tapi Rena s*ksi
banget coy!.
Sore ini aku mengajaknya pergi jalan, kebetulan malam ini malam
minggu. Jadi aku cuti dulu ngapelin Larasnya hahaha. Si Rena malam ini
s*ksi banget coy, dia memakai hot pants jeans sama kaos lengan panjang
yang agak ketat. Kubawa dia dengan motor ninjaku, dia hanya diam dan
melingkarkan lengannya di perutku. Iya kebiasaanku pergi sama Laras
membawa motor butut, sedangkan sama Rena aku memakai motor ninjaku dan
Laras tak tahu aku tajir tapi hebatnya dia masih mau menerimaku.
Kuberhentikan motorku di sebuah taman kota, lalu kami mencari tempat
duduk yang nyaman dan sepi dari keramaian. “Revan, kamu nggak ngapelin
pacar kamu?”, tanya Rena mengagetkanku. “Oh, ehhh aku… aku nggak punya
pacar Ren hehe kamu sih nggak jalan sama pacar kamu?”, jawabku sedikit
gugup. “Aku juga nggak punya pacar Van”, katanya. “Beneran Ren?”,
tanyaku lagi. “Iya Van, kenapa?”, jawabnya lembut. “Mau nggak jadi
pacarku? aku enjoy sama kamu Ren”, jawabku tanpa pikir panjang. “Emmm…
gimana ya Van..”, jawabnya lirih lalu terdiam dan menunuduk. “Kenapa
Ren? kamu nggak mau ya? nggak papa kok aku nggak maksa”, jawabku sambil
mengendalikan perasaanku yang risau ditolak Rena. “Emmmuaach”, tiba-tiba
dia menciumku dan tersenyum genit. “Aku mau banget kok Van”, jawabnya
sambil bergelayut manja di leherku. Hatiku lega rasanya mendengar
jawabannya yang sangat menggoda. Kami pun melanjutkan jalan-jalan
mengelilingi kota kecil itu sampai larut malam.
Hari demi hari aku menjalani cinta segitiga ini, jujur aku tak tega
dengan Laras yang masih setia menerimaku meskipun ku tak mempedulikannya
lagi. Yang aku pentingkan saat ini adalah Rena kekasihku yang s*ksi.
Lamunanku buyar setelah Laras menghampiriku di kantin, “Ada apa
Larasku?”, jawabku sok romantis. “Emm, aku.. aku mau tanya ke kamu
sayang. Boleh?”, tanyanya lembut. “Iya silahkan cintaku”, jawabku
lembut. “Jawab jujur ya, apa bener kamu udah punya cewek lagi sayang?”,
tanyanya membuatku gelagapan. “Enggg… enggalah sayang. Pacarku cuma kamu
kok, lagian kan 2 minggu lagi hari jadian kita yang ke 36 bulan sayang.
Udah ah nggak boleh negative thinking sama aku yah”, rayuku. “Oh ya
udah sayang, maaf ya udah negative thinking”, jawabnya sambil berlalu
dari hadapanku karena bel masuk telah berbunyi.
—
“Van..”, kata Mamah lembut. “Iya Mah kenapa?”, jawabku. “Mamah mau
bilang sama kamu Nak”, ujar Mamaku. “Iya Mah ada apa sih?”, jawabku
ingin tahu. “Nak, terpaksa Mamah sama Papah menjual motor ninjamu Nak.
Papahmu dalam kesulitan uang, jadi terpaksa menjual motormu Nak, lagian
kan kamu masih ada motor satu lagi. Mamah harap kamu mengerti ya Nak,
nanti kalau bisnis Papah udah membaik lagi, motormu akan diganti Nak”,
jelas Mamah sambil menitikan air mata. Aku hanya bisa terdiam, hatiku
hancur melihat Mamah menangis, kupeluk dia kuusapkan air matanya sampai
dia tenang kembali.
—
“Revan, ini motor siapa? kok butut banget?”, tanya Rena ketika aku
menjemputnya. “Motorku Ren, yang ninja dijual karena Papahku lagi kena
musibah”, jelasku. Rena terlihat kesal dan selama memboncengku dia hanya
terdiam tanpa memeluk mesra punggungku lagi. Setelah sampai di depan
rumah Rena, dia hanya diam lalu berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku
geram dengan sikapnya yang meremehkanku, ternyata dia sebenarnya begitu.
Mencintai motorku bukan hatiku, ah Laras maafkan aku telah
mengkhianatimu demi cewek matre seperti Rena.
Kutarik gas motorku sekencang mungkin, ku melaju menuju rumah Laras.
Hatiku kacau, aku menyesal telah menyia-nyiakannya. Hari ini adalah hari
jadian aku dengan Laras yang ke 3 tahun. Pasti sekarang dia sedang
menungguku di tempat biasa, mana hari ini hujan lebat lagi. Kasihan
Laras dia pasti kedinginan, kutancapkan gasku lebih kencang dan berlomba
dengan derasnya hujan. Sementara itu ponselku bergetar, kubuka sms dari
Rena yang memutuskanku. Hatiku semakin kacau, fikiranku hanya tertuju
kepada Laras pacarku yang setia.
Setelah sampai di danau tempat pertama kali kita bertemu, bergegas ku
mencarinya. Tapi dia dimana? dia nggak mungkin nggak datang. Dia nggak
akan pernah lupa sama aku, tapi nyatanya dia nggak ada. “Laraaasss!!!”,
teriakku di bawah naungan derasnya hujan. Bersimpuh aku di tepi danau
bening itu, aku sangat menyesal aku sangat menyesal dengan kebodohanku.
Lalu mataku tertuju pada sebuah perahu, sebuah perahu kecil yang
terdampar di tengah danau. Letaknya tidak terlalu ke tengah, jadi masih
cukup dangkal hanya sekitar 2 meter kurang. Tapi siapa yang medayung
perahu itu? tapi itu kan? itu kan? Ya Tuhan Laras!!! tak peduli seberapa
dinginnya air danau itu, kujeburkan tubuhku menyelam ke dasar danau,
menuju perahu kecil itu. Kucari kekasihku, kucari Laras. Tapi tak
kujumpai ia disana. Perahunya kosong, tapi ada sebuah sepatu tosca dan
sepertinya… sepertinya aku mengenalnya. “Larasss!!!”,teriakku
terisak-isak. Dimana dia, dimana Larasku? Dimana Tuhan?!!!
Kucari dia di sekitar danau itu tapi dia tak kutemukan, lalu dimana
dia? aku mulai putus asa dan sangat putus asa. “Nak, ada yang bisa Bapak
bantu?” tanya Bapak yang memakai baju tim sar kepadaku. “Saya Revan,
Pak. Saya sedang mencari Laras disini”, jawabku sambil terisak. “Oh,
yang cantik dan rambutnya panjang sampai punggung kan?”, jawab Bapak
itu. “Iya, Pak. Bapak melihatnya?”, tanyaku sedikit lega. “Iya, Nak.
Tadi dia tenggelam di danau ini, tadi Bapak dan anggota tim sar
menolongnya. Dia tadi sempat siuman dari pingsannya, katanya dia hendak
mencari kalungnya yang jatuh di dasar danau Nak”, jelas Bapak itu. “Lalu
dia sekarang dimana Pak?”, tanyaku tak sabar. “Tadi sudah dibawa pulang
Nak,” jelasnya lagi. “Makasih ya Pak atas informasinya, saya akan
menyelam dan mencari kalungnya yang jatuh di danau. Setelah itu saya
akan ke rumahnya”, jawabku sembari terjun dan menyelam mencari kalung
itu. Kalung itu adalah hadiah ulang tahunnya dariku, pasti dia khawatir
sekali kalau aku marah, makanya dia nekat mencarinya padahal dia tidak
bisa berenang. Setelah aku mendapatkan kalung tersebut kemudian aku
bergegas menuju rumahnya. Aku tak sabar ingin memberikan kalung itu, dia
pasti senang sekali.
Setelah sampai di rumahnya, hanya ibunya yang menyambutku. Tersirat
dari wajah sang ibu yang berduka, air matanya bercucuran. “Ibu…”,
lirihku. “Ini Nak..” jawabnya lembut sembari memberikan sepucuk surat
dari Laras. Kubaca satu persatu pesannya:
“sayang, selamat hari anniversary yang ke 3 yah. Jaga diri kamu
baik-baik… oya aku udah tahu tentang kalian, tentangmu dan Rena. Aku
nggak papa kok sayang, disini aku baik-baik aja. Tadi kalung pemberianmu
jatuh ke dasar danau, maafkan aku yang ceroboh. Maafkan aku tak bisa
menjaga kalung itu seperti aku yang tak juga bisa menjaga hatimu
sehingga tenggelam dalam pelukan wanita lain. Aku minta maaf sayang, aku
salah… aku telah berusaha mencari kalung itu tapi aku tak mampu sayang.
Tiba-tiba saja nafasku sulit untuk kuhembuskan padahal kalung itu ada
di depan mataku akan tetapi aku gagal meraihnya. Dan semakin lama
pandanganku semakin samar-samar dan mulai gelap sayang, aku takut
sekali. Disana aku tak bisa melihat apa-apa, lalu entah kenapa.. atau
ini semua keajaiban Tuhan sayang.. aku membuka mataku di ruangan yang
berbau obat itu sayang.. ibu bilang itu rumah sakit sayang.. aku
mencarimu disisi ruangan itu tapi kau tak juga kutemukan, aku hanya bisa
menangis dan menulis surat ini. Jaga dirimu baik-baik sayang, jaga Rena
sayang.. i love you sayang…”
“Bu.. dimana Laras bu?”, jawabku sambil terisak-isak. “Laaa…raaass…
huhuhu Laraaass.. Laras sudah dimakamkan nak”, jelasnya. “Ibu…”, aku
memeluknya, memeluk ibunya dan kami terisak bersama. Ah, Laras hatimu
begitu mulia, harusnya aku membahagiakanmu dahulu sebelum kamu pergi.
Harusnya kamu biarkan kalung itu tenggelam saja.. Laraaasss…!!! Ya Tuhan
Larasku
the end
Cerpen Karangan: Nur Khakiki
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar