Kuncup mawar mulai bermekaran di musim semi seperti sekarang ini. Tak
hanya mawar, penyejuk hati lainnya seperti melati, sedap malam dan
sakura-sakura desa pun ikut andil dalam menyemarakkan musim semi.
Tengoklah mawar putih, sang bunga nan suci dan menyejukkan mata. Mawar
ini tergolong langka. Karena itu keberadaannya acapkali diburu oleh
pecinta mawar. Satu-satunya pemilik mawar putih di desa itu adalah
Sabrina. Kehidupannya hampir saja punah karena tangan-tangan jail yang
tak bertanggung jawab. Mahkota mawar putih ini bak istana yang megah
bertumpuk-tumpuk menyilaukan pandang. Siapa saja yang melihatnya pasti
matanya akan terbelalak hijau seolah tak ingin berkedip.
Sabrina sangat telaten dalam merawat tanaman. Terlebih dengan mawar
putih kebanggaannya. Hal ini memang dipengaruhi oleh tingkahnya
sehari-hari yang sangat disiplin dan peduli akan kehidupan tanaman.
Sabrina, anak sulung dari dua saudara. Adiknya afa seorang laki-laki
yang tangguh tapi brangas ini sifatnya jauh berbeda dengan Sabrina.
mereka seperti langit dan bumi. Istimewanya, kedua saudara ini sangat
akur dan menjaga betul keutuhannya sebagai saudara kandung.
Sabrina serentak bangun dari sofa karena mendengar bunyi klakson yang
sedang menggema di depan rumahnya. Sesaat ia segera mengulurkan jilbab
dan menatanya kembali dengan rapi yang hanya dikaitkan dengan sebatang
jarum tak bermutu. Sabrina tetap saja tak kehilangan keanggunannya
sebagai gadis desa berwibawa seperti mawar putih. Mobil bercorak abu-abu
terhenti. Pemilik mobil ini sepertinya adalah orang penting. Pemilik
mobil itu kemudian keluar. Wajahnya tampan dan wibawanya pun santun.
Maka setiap mata yang memandangnya pasti akan tersipu-sipu. Sayup-sayup
angin berhembus mengipasi tubuh Sabrina yang sedang merasakan gerah. Ia
tertunduk malu dan seringkali membuang muka ketika ada lelaki yang ada
di hadapannya. Seolah dunia akan runtuh menghentaknya. Kebiasaan yang
sudah lama melekat dalam diri Sabrina sejak kecil. Maka dari itu, ia tak
pernah mempunyai teman lelaki.
“anda siapa?” suara lirih Sabrina tak berani menatap sang lelaki misterius itu
“bisakah anda tidak membuang muka! Saya datang bermaksud baik. Nama saya mahfud dan izinkan saya tahu nama putri!”
Maka jiwa Sabrina semakin terdesak
“jangan panggil saya putri. Nama saya Sabrina. Ada penting apa anda ke rumah saya?” jawab Sabrina dengan tergagap
“saya adalah pecinta mawar putih. dan kebetulan saya lewat rumah putri
lalu melihatnya. Entah mengapa hatiku seakan tergerak untuk berhenti dan
ingin menemui sang pemilik mawar putih ini”
“lantas apa yang anda inginkan?”
Sabrina semakin menggigil ketakutan. Karenanya saat itu, ia hanya
seorang diri di rumah. Mahfud si lelaki misterius ini sangat
mencurigakan. Sesekali ia sering mencuri pandang wajah Sabrina.
Hari demi hari berlalu, sikap mahfud malah semakin menjadi-jadi. Ia
sering mendatangi rumah Sabrina. Bahkan setiap kali datang, orangtua
Sabrina pasti diajaknya berbincang. Entah membahas persolan apa
kecurigaan yang dirasakan oleh Sabrina semakin mengusik.
Lulus SMA tidak menyudutkan semangat Sabrina untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi lagi. Ia teguh berpacu pada keinginannya
untuk menjadi wanita karir. Akan tetapi, keinginannya ini bertentangan
dengan kemauan orangtuanya. Diam-diam orangtua Sabrina telah menjodohkan
anak sulungnya ini dengan mahfud. Lelaki yang sebenarnya seorang
saudagar kaya raya yang kini menjabat sebagai dosen. Hartanya berlimpah,
dan ia sudah mapan tingkat atas.
Karena perjodohan ini, Sabrina sering mengeluh. Setiap hari ia
mengurung diri di kamar dan tak sebutir pun nasi yang dimakannya.
Badannya menjadi kurus dan mengering. Ia tidak mau menuruti kemaun
orangtuanya yang konyol itu untuk menikah dengan mahfud. Masa depannya
masih panjang. Masih banyak hal yang ingin dicapainya. Ia pun tidak
ingin menjadi pembangkang kelas kakap. Dan sekarang, Sabrina terjebak
oleh dua pilihan yang teramat sulit untuk dipilihnya tanpa ada daya
keterpaksaan. Jika Sabrina tetap ingin kuliah, maka ia tidak akan di
akui lagi sebagai anak oleh kedua orangtuanya. Sungguh kejam!
“Sabrina tidak mau ma! Sabrina ingin kuliah” isak Sabrina dalam tangisan
“mama mohon nak, hargailah pengorbanan papa dan mama selama ini”
“keputusan papa sudah bulat, besok juga kamu harus menikah dengan mahfud!”
Air mata Sabrina tak henti-hentinya menetes berjatuhan. Dadanya sesak
dan penat yang di tanggungnya kian berat. Hingga pada akhirnya, Sabrina
seorang gadis penurut dan tak pernah membantah, berani memberontak
kejam. Inilah pertama kalinya sebuah lontaran kata kasar terkuak dari
mulutnya yang terjaga suci.
“Sabrina juga manusia pa, tidak selayaknya papa dan mama memaksakan
kehendak putrinya sendiri. Sabrina tidak ingin menikah sekarang. Dan
bila memang mama dan papa tidak mau mengakui Sabrina lagi sebagai anak
kalian, aku akan terima. Dan satu lagi, Sabrina akan pergi dari rumah
ini”
Langit biru menjadi gelap berkelabu menyelimuti ruang yang sedang
antah berantah itu. Sebuah penyangkalan yang hebat dan tak pernah
terjadi selama bertahun-tahun lamanya. Jiwa ketiga orang yang ada di
dalam ruangan itu seolah tergoncang. Celaka besar bagi kedua orangtua
Sabrina karena sebentar lagi, Sabrina akan pergi meninggalkan mereka.
Sifat otoriter orangtua Sabrina memang sudah sangat keterlaluan.
Pertentangan itu seakan memecah malam dan ribuan bintang yang berpijar.
Pilu menusukku dengan tajam.
“jaga dirimu baik-baik afa adikku!” pandangnya menatap mata afa
Mata afa berkilaun bening seperti ada air mata yang tertahan. Afa
menggenggam tangan sabrina dengan erat dan semakin erat. sabrina tak
sanggup bila melepasnya. maka sanggup atau tidak, perlahan sabrina
melepas genggaman tangan afa. Tanpa di nyana, lelaki tangguh seperti afa
mampu menumpahkan titik air matanya. Pemandangan yang sangat-sangat
sakit untuk dipandang.
“kakak! Jangan pergi!” teriak afa dengan lantang dan semakin membuatku merasa sakit
Dengan membawa serpihan-serpihan hati yang telah remuk karena
pemaksaan oleh orangtuanya, Sabrina pergi dengan tangan kosong.
Tangisnya semakin terisak-isak, aku yang memandangnya dari luar semakin
tak tega dan air mataku ikut berjatuhan satu-satu. Relung hatiku seakan
ikut merasakan kepedihan terdalam itu.
Selama beberapa tahun tak di ketahui keberadaan dan bagaimana
nasibnya sekarang, tiba-tiba sabrina muncul dengan membawa gelar Drs
yang kini membesarkan namanya. Meski begitu, ia masih tetap sama seperti
dulu. Gadis yang santun dan beretika. ayahnya yang melihat Sabrina
ketika sedang keluar dari dalam mobil mewah berwarna hitam lalu berlari
terseok-seok penuh penyesalan.
“Sabrina” ujarnya tergopoh-gopoh
Sabrina kemudian menoleh ke belakang. Lalu ia terkaget dan langsung memeluk papanya.
“maafkan ayah Sabrina, ayah menyesal. Aku memang bukan ayah terbaik
bagi kamu, maafkan ayah!” ayah Sabrina berderma sembari menangis
sesenggukan
“sudahlah yah, itu semua adalah masa lalu. Sabrina sudah memaafkan ayah dan ibu sejak dulu” imbuh Sabrina lembut
Titik air mata mereka mengalir bahagia. Ayah Sabrina sudah sadar akan
sikapnya yang tak pantas di lakukan terhadap putrinya sendiri. Lalu
Sabrina pulang dan mereka kini kembali lagi menjadi keluarga yang sangat
bahagia. Mereka saling mengerti dan memahami. Bahkan, ayah dan ibu
Sabrina sangat mendukung akan prestasi yang di raih oleh Sabrina. Gadis
mawar putih yang malang ini seakan mendapat kebahagiaan baru di dalam
keluarganya.
Cerpen Karangan: Arinosa Bone
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar